We Can Finally Call It Home

Ida Ayu Saraswati
Chapter #11

Chapter 11

Malam di Ubud tiba secepat seseorang membalikkan tangan. Matahari yang tadi terbenam sangat lambat tiba-tiba seperti tergelincir sehingga cahaya oranye senja yang bercampur sedikit warna merah muda dan biru—yang tampak seperti lukisan—sekarang jadi gelap dan hanya disinari oleh bulan sabit dan kumpulan bintang yang hanya terlihat seperti titik-titik permata.

Malam ini aku membantu Bungah memasak makan malam. Sederhana saja menunya: oseng kangkung, ayam goreng, dan tempe goreng.

Kami makan di ruang tengah sambil nonton film apa saja yang terasa menarik dari aplikasi streaming film di ponsel Bungah yang dihubungkan ke TV LED di hadapan kami.

Setelah makan malam, Bungah masih agak lapar. Jadi dia membuat pop corn karamel instan. Dia juga menyediakan beberapa makanan ringan dan bir kalengan.

Di sela-sela film yang kami tonton, Bungah melirikku dan berkata, "Aku sebenarnya nggak pernah punya rencana untuk menikah."

Aku menoleh sekilas dan memilih mendengarkan dulu kelanjutannya.

"Awalnya sih aku berpikir kalau aku bisa hidup sendiri sampai tua nanti, tapi lama-lama aku jadi pengin nikah karena takut sendirian pas tua nanti. Kayaknya sendirian itu cuma nyaman ketika kita muda deh, tapi ketika tua nanti ... Bisa jadi kita bukannya merasa bebas sama kesendirian, tapi malah merasa ... Kesepian?" Ia melanjutkan sambil sesekali mengambil pop corn yang diletakkan di antara kami berdua, kemudian mengunyahnya perlahan.

Karena suaranya agak bertabrakan dengan volume TV, maka aku menurunkan volumenya sekian angka, sehingga sekarang suara Bungah bisa terdengar lebih jelas.

"Kamu gimana?"

Aku mengangguk singkat. "Sama kayak kamu. Nggak ada rencana nikah."

"Berarti kamu nggak takut sendirian?"

Aku mengangkat bahu ringan.

"Aku nggak pernah mikir sejauh itu—maksudnya, aku nggak mikir apakah nanti aku takut atau justru biasa aja ketika sendirian. Kalau ngerasa kesepian, aku bisa pelihara lebih banyak anjing dan kucing. Aku bisa nambah asisten rumah tangga. Teman-temanku mungkin bakalan lebih sering aku undang ke rumah kalau aku lagi butuh teman ngobrol."

"Terus kalau misalnya nih, cuma tinggal kamu sendiri di griya yang sebesar itu, gimana?"

Aku menggeleng. "Nggak tahu," kataku. "Kan, belum kejadian. Mau dibayangkan pun kayaknya nggak akan ketemu jawaban yang tepat."

Bungah memperbaiki posisi duduknya, sekarang jadi menghadap ke arahku, sementara aku masih duduk tegap menghadap televisi. Ia menyandarkan lengan dan kepalanya ke sandaran sofa yang berwarna putih gading itu, "Ceritain tentang keluargamu dong."

Lihat selengkapnya