Aku dan Bungah ternyata punya satu kesamaan: sama-sama morning person.
Ini aku ketahui ketika alarm kami sama-sama berbunyi nyaring di jam 5 pagi. Nada alarmku biasa saja, bawaan dari ponsel, tapi nada alarm Bungah yang paling heboh—dia memasang nada sirine polisi, jadi ketika aku terbangun dan masih belum sepenuhnya sadar, kukira di sekitar villa kami ada kejadian menghebohkan yang mengharuskan polisi datang pagi-pagi sekali, tapi ketika Bungah dengan santainya meraba bagian bawah bantal kemudian mematikan alarm ponselnya, di sanalah aku sadar kalau itu bukan sirine betulan.
Saat itu Bungah hanya memberikan senyum kecil dan setelah duduk sebentar di tepian kasur, ia langsung ke kamar mandi yang ada di dalam kamar. Tidak lama, suara shower berbunyi disertai Bungah yang sesekali bernyanyi. Dan dia selalu menyanyikan satu lagu dari awal sampai akhir, tidak hanya sekadar humming atau nyanyi sepatah-dua patah reff lagu satu lalu pindah ke reff lagu lainnya. Setiap hari, lagu yang ia nyanyikan berbeda. Dan suaranya sebenarnya cukup bagus, walau katanya ketika ia sudah keluar dari kamar mandi kemudian mencoba bernyanyi, maka suaranya akan kedengaran lebih jelek.
Sarapan kami pagi ini tidak terlalu berat. Aku membuatkan sandwhich dan kopi untuk masing-masing kami, Bungah bertugas membanten di pelinggih kecil yang ada di depan villa kami, kemudian meletakkan sesajen sederhana di setiap sudut villa, sebelum akhirnya ikut sarapan.
"Kamu itu tipe yang semuanya harus terencana atau fleksibel?" tanya Bungah di sela-sela sarapan kami.
"Bisa dua-duanya," ucapku. "Kenapa?"
"Bagus. Itu artinya kamu nggak akan masalah kalau hari ini aku ajak jalan-jalan."
"Boleh. Ke mana?"
"Ada deh. Ikut aja. Tapi aku yang bawa mobil."
"Kamu beneran bisa nyetir?"
"Bisa lah!" Ia menepuk dadanya beberapa kali dengan bangga. "Aku tiap hari nyetir ke kantor sendiri. Aku juga lulus SIM mobil bukan dengan bayar kok."
Sekarang aku duduk di kursi penumpang, sementara Bungah sudah berada di belakang kemudi.
Dan jujur saja, jantungku agak berdebar.
Mobil perlahan keluar dari halaman villa yang berada di lereng kecil. Jalan masuknya sempit dan menurun, diapit tembok batu di satu sisi dan pepohonan tinggi di sisi lain. Bungah memegang setir dengan kedua tangan, ekspresinya terlihat sangat fokus.
Aku melirik ke arahnya sekilas.
Mobil turun pelan melewati tikungan kecil. Dari jendela sampingku terlihat lembah hijau yang masih diselimuti kabut tipis. Udara pagi masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka.
Bungah tampak santai, tapi aku tetap merasa agak tegang. Aku bahkan memastikan sekali lagi kaitan sabuk pengamanku terpasang dengan benar, lalu mengencangkan pegangan pada bagian atas jendela kursi penumpangku.
Wajahku memang tenang, tapi dalam hati kurapalkan segala macam mantra apa saja yang tercetus di otakku pertama kali, sambil sesekali mengalihkan pandangan ke arah lain ketika mobil menuruni jalanan sempit.
Mobil keluar dari jalan kecil villa dan masuk ke jalan yang sedikit lebih lebar. Beberapa motor melintas, juga beberapa turis yang berjalan kaki di pinggir jalan.
Kami melewati beberapa galeri seni kecil dan toko kerajinan kayu yang mulai buka.
"Jadi kita mau ke mana sebenarnya?" tanyaku.
Bungah mengangkat dagunya sedikit ke arah jalan di depan.
"Kita ke museum Antonio Blanco!" Ia menjawab agak berseru. Kemudian ia bersiul singkat seolah memberitahukan pada semuanya kalau dia sangat semangat pagi ini. "Masa kita sebagai orang Ubud nggak pernah jalan-jalan ke tempat yang bagus kayak gitu sih, Raka. Seharusnya kan kita yang lebih bisa mengeksplor Bali sebelum orang-orang bule itu ya."
"Kita sibuk ngayah."
Bungah mengangguk-angguk sambil terkekeh.
Tidak heran kalau orang Bali sendiri belum pernah menjelajah ke mana-mana, sebab sebagian besar hidup kami dihabiskan di banjar dan ngayah untuk kepentingan upacara-upacara suci. Apa yang kami sebut jalan-jalan adalah ketika sembahyang ke pura satu dan yang lainnya, entah di dalam atau bahkan sampai ke luar Bali ketika ada acara Tirta Yatra, atau ke tempat-tempat khusus untuk melukat bersama keluarga.
Aku melirik Bungah lagi. "Kamu suka seni?"
Bungah mengangkat bahu. "Nggak terlalu ngerti juga sebenarnya. Tapi berhubung kita di sini, sekalian aja."
Mobil terus melaju melewati jalan yang mulai sedikit lebih ramai. Matahari sudah naik lebih tinggi sekarang, membuat warna hijau pepohonan di sekitar Ubud terlihat lebih terang.
"Walaupun udah tinggal di Bali sejak kecil, aku masih bertanya-tanya kalau lihat bule di jalanan Ubud, Seminyak, Canggu, Uluwatu, dan tempat-tempat lainnya yang biasanya dipenuhi sama mereka,” kata Bungah. "Aku tuh ... Masih bingung ya, apa yang mereka cari di Bali? Ketenangan? Budayanya? Harga penginapan dan biaya hidup yang murah? Jalanan yang bagus? Alamnya? Mungkin semua itu mereka cari, tapi sebagai warga lokal, aku tetap nggak tahu apa yang benar-benar mereka cari di sini, dan setelah ke sini apakah mereka benar-benar menemukannya. Terus kalau mereka balik lagi ke Bali untuk kesekian kali, apakah mereka mencari hal yang sama atau hal yang baru? Dan lagi, apakah mereka menemukannya? Karena di Ubud, bule dan masyarakat lokal hidup berdampingan, dan menurutku ... Itu masih... Sesuatu yang baru walaupun kita sama-sama orang Ubud, tapi rasanya agak aneh aja. Karena kesan kita kalau ngelihat bule, mereka cuma bisa ditemui di Eropa dan Amerika, tapi mereka datang ke sini. Ke daerah topis."
"Aku juga masih nggak percaya beberapa bule lebih kenal sama Bali daripada Indonesia."
"Betul!"
Mobil melambat sedikit ketika kami melewati tikungan yang menanjak. Dari atas jalan itu, beberapa bangunan khas Ubud mulai terlihat di kejauhan.
Setelah beberapa saat, Bungah berkata pelan, "Kita pelan-pelan aja, ya."
Aku mengernyitkan dahi dan menoleh ke arah Bungah, minta penjelasan.
"Hubungan ini. Gimana pun, ini adalah pernikahan pertama kita. Kita nggak tahu apa aja yang bakalan terjadi di depan sana, tapi ... Pelan-pelan aja. Kita belajar bareng. Walaupun aku orangnya kelihatan nggak sabaran, tapi sepertinya aku punya kesabaran yang cukup untuk menjalani fase ini."