"Menurutmu pernikahan itu sakral nggak?"
Bungah yang sedang tiduran sambil membaca buku, berhenti sejenak dari kegiatan itu. Kupikir ia hanya akan menjawab singkat dan kembali melanjutkan kegiatan bacanya, tapi rupanya ia benar-benar menutup buku itu lalu menyodorkannya padaku untuk disimpan di atas nakas di samping kiriku.
"Iya dan nggak," jawabnya. Bungah lalu duduk dan menyandarkan punggungnya pada bantal yang ia jadikan sandaran. "Pernikahan itu sakral karena aku suka gagasan menikah sekali seumur hidup. Menurutku letak sakralnya di sana. Kenapa? Aku lebih ke alasan kesehatan sih. Kalau kita menikah beberapa kali, boleh jadi kesehatan organ reproduksi kita jadi terganggu karena gonta-ganti pasangan. Dan nggak semua pasangan mau cek apakah dia ada penyakit menular seksual atau nggak. Tapi pernikahan juga nggak boleh dianggap terlalu sakral."
"Kenapa?"
"Karena bakalan ada beberapa orang yang rela bertahan di pernikahan yang sebenarnya udah nggak bisa dipertahankan lagi. Udah toxic dan ngasih dampak yang nggak baik buat anak-anaknya." jawab Bungah dan sekarang aku menoleh ke arahnya untuk mendengarkannya lebih seksama. "Misalnya, gini. Kalau suatu saat nanti aku atau kamu saling menyakiti, entah secara fisik atau mental, dan situasinya udah parah banget, kita nggak boleh menganggap pernikahan ini terlalu sakral sampai kita nggak berani mengambil jalan tengah, yaitu perceraian."
Matanya yang besar dan bulat itu tampak memperlihatkan keyakinan pada kalimat yang ia katakan barusan. Sejenak, tatapan itu membuatku hampir tersedak ludah sendiri.
"Jadi… menurutmu kita ada kemungkinan bercerai?" tanyaku setelah berdehem kecil.
Ia mengangkat bahu ringan. "Kalau memang itu jalan yang terbaik, kenapa nggak?"
"Berarti kamu udah siap sama konsekuensinya?" tanyaku. "Mungkin kamu bakalan bikin orang tuamu kecewa, bikin keluarga besarmu malu, dan sejenisnya."
"Kayaknya kalau aku nggak punya pilihan lain selain menerima konsekuensinya, ya aku bakalan coba segala cara untuk menerima dan bertahan bersama konsekuensi itu sendiri." Bungah berdehem pelan kemudian mengusap hidungnya. "Melihat pernikahan sebagai sesuatu yang sakral itu sah-sah aja, tapi menurutku tetap harus pakai akal sehat supaya kita nggak terlena dengan kesakralan itu sendiri. Buatku… pernikahan itu biasa aja.”
Angin dari lembah menerbangkan helai-helai rambutnya ketika ia bicara begitu. Kedua tangannya refleks memeluk diri sendiri. Maka itulah, aku berjalan ke arah jendela dan menutupnya rapat.
“Nggak sakral… tapi nggak hina juga.” Ia tampak seperti orang yang melamun saat menjawabnya. “Dan aku nggak mau menganggap perceraian sebagai sesuatu yang… apa ya? Hina? Aku… juga nggak mau menganggap status janda sebagai aib." Bungah menggeleng. Matanya yang besar dan hitam itu menerawang jauh, sepertinya ini jadi salah satu kebiasaannya ketika menjawab pertanyaan yang agak berat.
Tatapannya akan kelihatan seperti orang yang sedang bengong, mungkin orang akan salah paham kalau dia kelihatan menyepelekan lawan bicara atau pertanyaannya, tapi mungkin saja itu caranya agar tetap bisa menjawab dengan tenang dan lancar pertanyaan-pertanyaan yang cukup berat seperti ini.
Mata besarnya kemudian mengarah padaku, mengerjap-ngerjap sambil menguap kecil. "Kalau kamu ... Gimana?" Bungah lalu tidak lagi duduk menghadapku, tapi bersandar pada bantal yang dia letakkan pada sandaran tempat tidur kami. "Apa arti pernikahan buat kamu? Selain penyatuan dua keluarga yang pasti punya perbedaan?"
Aku membuang napas pelan. "Buatku… pernikahan nggak lebih dari kontrak sosial yang dibalut adat dan agama. Dan aku setuju sama pendapatmu barusan."
"Berarti kamu menganggap pernikahan kita sama seperti itu?"
Aku tahu arah percakapannya ke mana dan sebenarnya pertanyaan ini sudah aku perkirakan. Tapi tetap saja, mendengarnya langsung dan harus menyusun jawabannya, tidak membuatku lantas siap untuk menyampaikan jawaban.
"Awalnya gitu."
Dahi Bungah berkerut dalam, kemudian menoleh ke arahku, seolah menuntut penjelasan lebih lanjut dari jawabanku yang memang menggantung.
"Maksudnya?"
"Awalnya memang aku anggap pernikahan ini sebagai kontrak sosial yang dibalut adat dan agama. Sejalan dengan tujuanmu mencari calon suami–untuk mengamankan warisan dan rumahmu."
Akhirnya aku mengatakannya. Aku sudah siap kalau Bungah akan bangkit dan pergi tidur di kamar yang lain karena mungkin kesal mendengar jawabanku.
Kata temanku yang sudah menikah, perempuan kadang memang mudah kesal oleh hal-hal yang menurut kami para lelaki, adalah hal yang kecil. Jadi, aku tidak langsung melanjutkan karena menunggu ledakan emosi perempuan ini.
Tunggu punya tunggu, Bungah masih belum beranjak. Dia malah menatapku semakin lamat dengan matanya yang besar dan dahi yang masih berkerut. Aku membalas tatapannya, tapi entah kenapa tidak bisa terlalu lama menatapnya. Kemudian aku berdehem, berusaha mencairkan suasana.
"Kok nggak kamu lanjutkan? Aku nunggu nih."
Jawaban itu sontak membuatku agak membeku di tempat, kemudian menelan ludah agak susah payah. Tapi sepertinya memang itulah kemauan Bungah. Mungkin ia harus dapat penjelasan yang lengkap baru setelahnya bisa memutuskan apakah ia harus kesal atau biasa saja.
Maka dengan itu, seolah dapat persetujuan, aku kembali melanjutkan, "Tapi ... Nggak menutup kemungkinan kalau ... Bisa jadi ... Pernikahan ini lebih dari sekadar kontrak sosial." Aku mengatakannya dengan agak terbata-bata.
Bungah kemudian menjauhkan wajahnya dariku, tapi sekarang ia memincingkan mata seolah tidak percaya dengan jawabanku. "Kamu nggak lagi main aman dengan ngasih jawaban ini, kan?"
"Nggak."
Memang kenyataannya begitu. Aku tidak main aman. Dan entah kenapa itu terasa menenangkan. Selama ini aku selalu berusaha menjaga kata-kataku. Sebisa mungkin aku menyampaikan pendapat dengan bahasa yang sopan, bahkan mungkin terkesan bohong dan munafik. Tapi semuanya aku lakukan bukan karena ingin melindungi status sosial atau imej, tapi aku memang seperti ini—cenderung menghindari konflik dan drama sebisa mungkin.
Itulah kenapa saat Bungah memberi ruang untukku bicara apa adanya dan dia mendengarkan dengan baik, aku seperti menemukan seseorang yang memahamiku.
"Baguslah kalau kamu nggak main aman hanya untuk menjaga perasaanku," kata Bungah setelah beberapa detik kami hanya saling diam. "Karena ... Aku lebih suka orang bicara apa adanya."
"Bukannya itu bisa jadi menyebalkan?"
Bungah tersenyum kecil dan mengangguk. "Memang, tapi untuk hal-hal yang penting begini, nggak ada salahnya kalau kamu bicara apa adanya aja. Biar aku nggak menebak-nebak pikiran dan perasaanmu. Aku kadang nggak sepeka itu."
Kami kemudian kembali diam.
Hujan di luar sana semakin besar. Seolah semua air ditumpahkan ke Bumi.
Angin kencang menerbangkan pohon-pohon sampai miring sekian derajat. Kilat dan petir yang saling bersahutan tanpa jeda bahkan membuat lantai dan jendela bergetar karenanya—padahal kukira hujan di luar sana tidak akan disertai petir seperti sekarang sebab beberapa menit yang lalu hanyalah hujan deras.
Aku memutuskan untuk mengecek sekali lagi pintu dan jendela, apakah sudah tertutup dengan rapat atau tidak.
Begitu aku kembali ke tempat tidur, semuanya mendadak gelap.
Listrik padam.
Dan saat itulah aku tercekat kaget karena Bungah tiba-tiba saja memeluk lengan kiriku erat-erat sambil menarik selimutnya. Kepalanya disembunyikan di lenganku dan di antara bantal.
"Bungah, kamu nggak apa-apa?"
"Diem dulu. Aku takut sama petir. Hujannya gede banget,” katanya. Pegangannya jadi semakin kencang pada lenganku saat suara petir yang menggelegar kembali terdengar. Suaranya bahkan seperti ledakan. "Seenggaknya biarin dulu sampai semuanya reda."
"Oke...."
Aku membetulkan posisiku tanpa melepaskan tangan Bungah yang masih melingkar di lenganku.
Sejenak, aku melirik ke arahnya yang hanya bisa terlihat sekilas ketika cahaya kilat petir menyambar karena semuanya gelap. Semua kawasan di sekitar villa kami gelap. Sepertinya listrik padam di beberapa tempat secara merata.
Ini Bungah. Orang yang sama yang membicarakan tentang perceraian dengan tegar dan tanpa beban.