Sore harinya, kami sudah sampai di rumahku.
Beberapa saudara yang sedang menyapu halaman menyambut kedatangan kami. Mereka agak kaget kenapa kami bisa ada di sini sebab seharusnya masih di vila.
Bungah tiba-tiba terkekeh pelan di sampingku.
“Kenapa?”
“Aku jadi ingat dulu pernah nekat datang ke sini,” jawabnya. Ia kemudian mendongak, menatapku tepat dengan sengaja. “Mencoba membujuk kamu supaya mau terima lamaranku. Kita kelihatan kayak dua orang yang siap mengibarkan bendera perang saat itu.”
Aku jadi agak mati kutu, tapi kalau diingat-ingat memang lucu.
Lenganku tiba-tiba digandeng oleh Bungah, dan aku menoleh dengan canggung. Ia seolah tahu, jadi ia langsung bilang, “Pengantin baru harus menampilkan kemesraan dimana aja.”
Tepat setelah mengatakannya dengan santai dan pandangan yang tetap lurus ke depan, Ibuku muncul dari dapur. Ia kelihatan kaget mendapatiku datang tanpa memberitahunya. Ibu langsung berlari ke arahku dan memeluk kami berdua. Air matanya tidak bisa ditahan lagi.
“Kenapa kalian nggak bilang-bilang kalau mau ke sini? Ibu kan bisa siap-siap dulu. Ini aja Ibu belum mandi,” kata Ibu setelah melepaskan pelukannya dan menyeka air mata.
“Sengaja, Bu. Kita mau bikin kejutan.” jawab Bungah sambil tersenyum.
“Ada-ada saja kalian,” katanya. “Ya sudah, ke dapur dulu. Kalau belum sembahyang, sembahyang di sini nggak papa.”
Kami mengangguk dan langsung menuju dapur untuk mencuci tangan dan menyiapkan perlengkapan sembahyang seperti dupa dan bunga. Lantas kami menuju ke rumah utama, disambut oleh Aji, kakak ipar, dan kakak-kakakku. Salah satu kakak iparku membawa Bungah ke kamarnya untuk dipinjamkan kain dan selendang untuk sembahyang nanti.
“Gimana? Udah menyesal belum karena menikah? Enakan jomblo, kan?” celetuk kakak keduaku, Bli Ngurah, sambil duduk di sebelah. Aji langsung menoleh ke arahnya, memberi tatapan mata yang seolah bilang “jangan berkata yang aneh-aneh”, tapi ia hanya terkekeh pelan dan bilang, “Bercanda, Aji.”
Aji menyuguhkan beberapa cemilan yang memang selalu disediakan oleh Ibu di ruang tamu. Salah satu kakak iparku, istrinya Bli Dirga, datang dari dapur membawakan dua teh manis yang asapnya masih mengepul.
“Nanti sekalian makan malam di sini. Kebetulan Ibu sudah masak,” kata Aji dan aku mengangguk.
Bungah keluar dengan pakaian yang sudah berganti. Tadi ia mengenakan celana bahan yang dipadukan dengan kaos turtle neck dan leather hitam. Sekarang ia kembali mengenakan kaos putih dan kamen. Rambutnya yang tadi diurai, sekarang dikucir dengan rapi. Penampilan yang sekarang entah kenapa memberikan kesan lugu dan polos di wajahnya.
Ia duduk di sebelahku dan menyapa dua kakak serta Ajiku.
“Bagaimana di Ubud, Tu Gek? Senang?” tanya Bli Ngurah memecah keheningan.
Bungah mengangguk. “Udaranya sejuk. Jauh dari kebisingan, Bli. Tapi kemarin sempat hujan besar dan mati listrik. Di sini juga mati listrik atau nggak?”
“Sama. Listrik di sini juga sempat padam cukup lama,” kata Bli Ngurah. “Aku dan istriku harus begadang–bergiliran untuk menggendong anak kami yang agak rewel. Mungkin karena mereka takut. Hujan dan petirnya memang besar seperti badai. Aku saja sampai nggak berani tidur lagi. Takut kalau ada hujan besar susulan dan atap rumah ambles."
“Sudah lama Bali nggak hujan sebesar itu.” Aji menanggapi.
Sejak tadi, Bli Dirga hanya diam mendengarkan percakapan kami. Aku sempat khawatir kalau tatapannya akan memberikan kesan intimidatif pada Bungah, tapi kulihat ia kelihatan baik-baik saja. Ia sibuk membicarakan banyak hal dengan Aji dan Bli Ngurah sambil sesekali makan kue kering dan menawari Bli Dirga juga, yang hanya dijawab dengan anggukan dan senyum singkat.
Aku tidak tahu kenapa Bli Dirga diam saja. Entah ia masih mempermasalahkan pilihanku untuk menikah nyentana atau karena ia masih belum mengenal Bungah saja, sehingga ia tidak bisa terlibat dalam obrolan di antara mereka.
“Bungah kerja dimana?” Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut kakakku yang pertama dan cukup membuat kami langsung menoleh ke arahnya.
“Saya punya bisnis wedding organizer, Bli. Nggak terlalu jauh dari rumah kantornya. Jam kerjanya juga fleksibel dari jam 8 sampai jam 5 sore aja.”
Bli Dirga mengangguk-angguk. “Sudah jalan berapa tahun bisnisnya?”
“Sudah tujuh tahun, Bli. Astungkara bisa selama itu.”
Lagi-lagi ia hanya mengangguk.