We Can Finally Call It Home

Ida Ayu Saraswati
Chapter #15

Chapter 15

Semalam aku lupa memasang alarm, tapi alarm Bungah yang bunyi di waktu yang sama sudah cukup untuk membangunkanku—dan juga dia, yang hanya bangun sejenak untuk mematikan alarmnya lalu tidur lagi.

Ia tidur memunggungiku. Kaos yang ia kenakan agak tersingkap sehingga memperlihatkan pinggangnya. Mendengus pelan, aku menarik selimut yang juga agak turun sampai ke bahunya.

Wajahnya kelihatan damai seolah semalam tidak terjadi apa-apa. Napasnya tenang, kontras dengan helai-helai rambutnya yang berantakan di sisi pipi.

Awalnya aku punya keberanian untuk menggerakkan tanganku dan bermaksud menyingkirkan helai-helai rambut itu, tapi keberanian itu mendadak hilang.

Tanganku berhenti di udara. Lalu terkepal dan menariknya kembali.

Sekonyong-konyong ingatanku kembali berhenti pada kejadian semalam.

Bagaimana Bungah menarik wajah dan menciumku.

Yang membuatku heran bukan kenapa Bungah melakukannya, tapi aku yang tidak menolak.

Dan bahkan aku tidak mencoba menghentikannya atau paling tidak menghindar.

Padahal semalam ia sudah memberi klu kalau bibirnya akan mendarat di bibirku, tapi aku malah tidak menghindar.

Sial, kataku dalam hati.

Tanganku mengusap wajah dan agak meremas rambutku sendiri yang sudah agak panjang dan perlu dirapikan.

Mataku terarah pada langit-langit kamar kami. Tidak menghiraukan suara paruh burung pipit yang mengetuk-ngetuk jendela sebelah kananku dengan paruhnya.

Ketika Bungah membalikkan badannya jadi menyamping ke arahku, saat itu juga aku menoleh. Dan kebetulan, ia juga sudah membuka mata.

Ia mengerjap-ngerjap kecil di tempat tidurnya, kemudian menatapku. Kali ini agak lama, sampai membuatku agak tidak nyaman, tapi aku juga tidak punya kekuatan untuk menghindar. Seolah tatapannya punya kekuatan untuk mengunci pergerakan bola mataku.

"Semalam... Aku merasa momennya pas untuk mengutarakan apa yang aku rasain dan pikirin tentang kamu selama ini."

Aku mengangguk kikuk.

Ia punya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan semalam dan yang barusan.

Ia tidak takut jatuh cinta dan dicintai.

Ia berkata jujur tentang apa yang dirasakan dan dipikirkannya.

Sementara aku seolah masih berjalan di pikiranku sendiri.

"Apa aku yang terlalu cepat?" tanyanya, yang lebih mirip monolog daripada bertanya padaku. Bungah kemudian bangun dan berkata, "Laper."

Seolah apa yang diutarakannya beberapa menit yang lalu ringan saja.

Aku akui ia memang hebat. Ketenagannya stabil untuk momen yang membuatku masih menggigil ketika mengingatnya.

Bungah bisa dengan fleksibel dan tidak canggung melompat dari momen satu ke momen lainnya.

Ia mengikat rambutnya menjadi bentuk cepolan, lalu bilang, "Aku mandi duluan ya."

Aku mengangguk.

Maka dengan itu ia menyingkap selimut dan berjalan mengambil pakaian dan perlengkapan mandinya.

Langkahnya tidak segontai semalam. Ia kelihatan yakin saat melangkah ke kamar mandi.

Pintu tertutup di seberang sana dan suara shower yang dinyalakan mulai terdengar. Cukup menggema di pagi yang sepi.

Aku mengempaskan diri ke tempat tidur.

Mataku kembali menerawang ke langit-langit seolah dengan memandangnya aku bisa menemukan jawaban.

Kamu nggak takut jatuh cinta dan dicintai, kan?

Sial.

Walaupun aku tidak harus mengatakannya secara langsung pada Bungah ketika aku sudah menemukan jawabannya, tapi tetap saja.

Pertanyaan yang belum menemukan jawabannya, tetap bisa menggangguku.

Lihat selengkapnya