We Can Finally Call It Home

Ida Ayu Saraswati
Chapter #16

Chapter 16

Pagi itu kami sudah memasukkan semua barang ke mobil, lalu mengunci jendela dan pintu untuk segera pulang.

Menuruni anak tangga, aku dan Bungah berjalan bersisian menuju mobil kami.

Kami masuk, sudah duduk di kursi masing-masing. Aku di kursi kemudi, dan Bungah di sebelahku.

Baru saja hendak menyalakan mobil, tapi ponsel Bungah berdering panjang dan nyaring. Ia segera mengangkat telepon yang masuk dari Bibi Agung, bibinya yang pertama.

"Kenapa, Bi?"

"Bungah, kamu bisa pulang sekarang kan, Nak?"

Bungah menatap ke arahku sekilas kemudian menjawab, "Bisa, Bi. Ini kami sudah akan berangkat. Kenapa?”

"Tapi pelan-pelan saja pulangnya, ya. Jangan sampai Raka ngebut."

"Iya, Bi. Tapi ada apa?"

"Yang sabar ya, Bungah," kata Bibi Agung. Kami berdua menahan napas. Setelah hening sepersekian detik, Bibi Agung akhirnya berkata,"ajimu... sudah berpulang."

Baik aku dan Bungah tidak ada yang bisa langsung bereaksi. Kami sama-sama membeku di tempat. Bungah segera menutup telepon dan mengatakan padaku bahwa kami harus berangkat sekarang juga.

Maka aku segera menyalakan mobil dan meninggalkan vila dengan perasaan yang masih tidak percaya. Tanganku bahkan agak gemetaran. Kulirik ia di sampingku, tapi Bungah diam saja. Air matanya tidak keluar sama sekali. Tatapannya hanya fokus pada jalanan, sesekali memberiku arahan kalau aku akan menyalip kendaraan di depan sana.

Begitu kami sampai di halaman griya, suasananya langsung kontras dengan di Ubud. Di sini sangat ramai. Orang ke sana-kemari saling membantu seolah sudah tahu apa yang harus mereka lakukan.

Kami langsung ke griya anyar (rumah kami berdua) untuk mengganti pakaian serba putih, lalu bergabung dengan mereka.

Aku sendiri langsung mengikuti prosesi memandikan jenazah.

“Pegang sikutnya, Rak,” ujar Aji Ketut, kakak pertama dari Ajinya Bungah.

Aku mengangguk dan melaksanakan apa yang ia katakan. Dan tanganku agak gemetar saat menyentuh kulit yang sudah dingin itu. Sebagai orang yang sudah puluhan tahun tinggal di Bali, suasana Ngaben bukanlah saat di mana semua anggota keluarga menangis. Seringnya, kami menekan hasrat untuk menangis terlalu kencang supaya bisa fokus mempersiapkan banten yang dibutuhkan untuk prosesi Ngaben nanti.

Yang terdengar hanyalah mantra dan genta yang menggema di sekitar griya. Berikut juga aroma minyak cendana yang menusuk hidung.

Bade sembilan tingkat mulai dibangun oleh kelompok pria yang mengikuti saran dari seorang undagi–seseorang yang dianggap ahli dalam membangun bade karena paham simbol-simbol apa saja yang harus ada di dalam benda itu. Sementara aku sendiri belajar membedakan mana bambu tali dan bambu petung. Telapak tanganku sempat perih dan gatal terkena serat bambu, lalu menjadi kebas, dan kemudian menjadi biasa saja. Selain itu, aku juga mulai terbiasa dengan bau getah kayu dan lem kanji.

Beberapa lelaki sibuk mengerjakan bade, dan beberapa lagi di pewaregan untuk mencincang daging yang akan dibuat sate lilit, memotong pelepah pisang yang akan dibuat sayur ares, menanak nasi, membuatkan kopi untuk orang-orang yang ngayah, dan membuat lawar untuk makan kami nanti di jam istirahat.

Sementara Bungah, ia menjelma menjadi salah satu poros yang dihampiri oleh satu orang dan lainnya untuk bertanya apakah banten yang mereka siapkan sudah benar atau tidak, apakah ada yang kurang atau tidak, mengingat ia adalah anak pertama yang wajib mengetahui segala macam banten untuk setiap pelaksanaan upacara suci. Walaupun kelihatan masih syok, Bungah memberi arahan pada mereka dengan tenang–seolah kalau menjadi dirinya, ia tidak boleh ragu. Ia harus tegas memutuskan sesuatu dalam durasi yang relatif cepat.

Kadang aku melihatnya berada di antara para istri merangkai kajang–kain putih berisi rajah suci. Kadang juga aku melihatnya ada di antara para pria untuk menyaksikan pembuatan bade. Bahkan kadang, ia juga ada di dapur–memantau sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa. Dan kadang, ia juga memanggilku.

“Raka, tolong ambilkan tirta di Bale Gede ya.”

Dan melihat Bungah yang tidak punya waktu untuk mengeluh, aku pun berusaha melakukan hal yang sama. Aku menekan ekspresi kelelahan di wajah. Bungah melompat ke sana dan sini dengan lincah. Kewajibannya seolah tidak memberikan waktu baginya untuk menangis karena kehilangan. Maka itulah aku tidak mau bersantai kalau ia sendiri bekerja keras.

Ketika aku kebetulan lewat di depannya, Bungah menahan tanganku–memberi segelas kopi dan beberapa kue untuk mengganjal perut. Saat makanan sudah datang, ia mencariku di antara banyaknya orang, menggandeng, dan membawaku untuk makan bersama–memastikan bahwa aku tidak lupa makan karena terlalu asyik mengerjakan banyak hal supaya tidak kelihatan kikuk.

Lihat selengkapnya