Minggu pertama dan kedua berlalu lumayan cepat. Dan sekarang, kami memasuki minggu ketiga persiapan Ngaben.
Suasana griya masih sama, semakin hari semakin ramai. Orang-orang yang ngayah sama sekali tidak menampakkan raut wajah sedih. Mereka masih bisa tertawa dan mengobrol ringan–yang sebenarnya ini wajar. Kami tidak menangis bukan karena tidak merasa sedih, tapi… karena kami menganggap bahwa kematian, bagaimana pun menyakitkannya untuk diterima, tetaplah menjadi bagian dari konsekuensi kehidupan yang tidak bisa dihindari. Saat ini, memastikan semua perlengkapan Ngaben lengkap adalah hal utama.
Di tengah belasan bahkan puluhan orang yang bekerja sama mempersiapkan Ngaben, aku masih bisa melihat Bungah di antara mereka. Tatapan matanya masih awas dan jeli. Ia memperhatikan setiap detail banten yang dibuat kemudian mengkonfirmasinya dengan Bibi Dyah–apakah ada yang kurang atau tidak. Langkah kakinya masih cepat dan cekatan seperti minggu-minggu sebelumnya. Walaupun aku tahu ia kehilangan nafsu makan, tidak bisa tidur nyenyak, lebih banyak diam dan melamun.
Satu malam, aku pernah melihatnya di rumah adat, tempat dimana jenazah Aji disemayamkan sementara. Tubuhnya yang agak lebih kurus bersandar pada tiang ukir sambil memandang ke halaman griya dan bade sembilan tingkat yang sepenuhnya sudah rampung dibuat.
“Bungah, kamu nggak tidur?” Aku menghampirinya dan sengaja memberi jarak yang cukup supaya Bungah tidak merasa terganggu.
“Rasanya aneh, Raka,” ujarnya, “aku tidur di kamar yang hangat, sementara Aji tidur di sini. Di luar. Dan bade itu… entah kenapa nggak terasa familiar. Bagaimana bisa… bade jenazah berada sedekat ini di halaman rumah yang identik dengan kelahiran dan kebahagiaan? Walau di mana pun tempatnya kita selalu hidup berdampingan dengan kematian… tapi… bade ini tetap terasa canggung di halaman griya. Dia nggak terlihat seperti benda yang seharusnya ada di halaman griya yang hangat.”
Aku tidak mau salah berkata-kata dan menambah keruh suasana yang masih diselimuti oleh duka, jadi aku hanya diam dan mendengarkan. Sambil memandang bade itu, aku merenungkan kata-katanya. Sial, kataku dalam hati. Apa yang dikatakan Bungah terasa benar juga untukku.
Walaupun sejak kecil kita sudah diajarkan bahwa ujung dari kehidupan adalah kematian, tapi ketika kematian datang menjadi sedekat ini, kita tetap merasa menggigil dan ketakutan. Tidak pernah ada rasa familiar pada kematian, seberapa sering kita berhadapan dengannya.
“Kalau kematian itu punya aroma, akan seperti apa ya aromanya? Apakah dia wangi? Atau malah sebaliknya?”
Aku menoleh ke arahnya ketika Bungah berkata begitu. Tapi sebagai manusia, kita cukup beruntung tidak ada yang terlahir dengan kemampuan bisa mencium aroma kematian. Mau sewangi apapun aroma kematian, harumnya tidak lantas mengurangi rasa sedih dan kehilangan itu sendiri.
Bungah kini berjalan duduk di sebelahku. Ia masih mengenakan kebaya putih dan kamen. Walaupun tadi ia sudah mandi, tapi lelah itu tidak bisa sepenuhnya sirna dari wajahnya.
Aku melirik tangannya di pangkuan. Sempat terpikir olehku untuk menggenggamnya, tapi aku takut jika menyentuhnya di suasana yang masih berduka seperti ini akan terlihat tidak pantas. Bagaimana pun, kedudukan Bungah di griya ini lebih tinggi daripada aku yang hanya pendatang, jadi aku mengurungkan niat itu.
“Bungah, kamu bisa ceritakan semua yang kamu pikirkan atau rasakan, tapi… aku nggak bisa banyak menanggapi karena aku nggak mau salah bicara dan malah memperburuk suasana. Aku tahu kamu nggak butuh nasehat, tapi mungkin... kamu tetap butuh orang yang mendengar ceritamu."
“Aku tahu."
Aku mengangguk dan membiarkan bahu kami bersentuhan–menjalarkan rasa hangat di sekitar lenganku sendiri.
“Beberapa hari ini aku susah tidur. Maaf. Kamu pasti nggak nyaman karena ikutan nggak nyenyak tidurnya.”
“Kamu nggak perlu minta maaf. Itu bukan salahmu.”