We Can Finally Call It Home

Ida Ayu Saraswati
Chapter #18

Chapter 18

Ketika kami sampai di griya, aku memapah Bungah untuk berjalan masuk. Tangan kirinya melingkar ke leherku, dan tangan kananku melingkar pada pinggangnya. Posisi ini memang canggung, tapi aku tidak peduli.

Bibi Agung yang tidak ikut ke setra karena harus membantu menantunya mengurus ketiga cucunya, langsung menghampiri kami begitu tiba.

"Tadi Bibi sudah ditelepon, katanya Bungah pingsan di setra."

Aku mengangguk, "Sudah saya bawa ke klinik, Bi. Katanya gula darahnya rendah dan kelelahan."

"Jangan langsung masuk dulu. Kalian harus membersihkan diri," ujar Bibi Agung sembari memercikan air tirta ke arah kami, ke wajah dan ubun-ubun kami. Sejenak, Bungah agak kaget karena air itu terasa dingin di kulitnya, "ke dapur dulu. Bikinin teh hangat manis. Kalau sudah lebih baik, langsung mandi besar. Bunga-bunganya nanti Bibi antar." Aku mengangguk dan menuntun Bungah ke dapur.

Setelah ia duduk, aku bergerak merebus air dalam teko lalu menyediakan gelas yang sudah aku beri dua sendok teh gula.

"Kamu laper? Mau makan dulu?"

Bungah menggeleng. Ia bersandar pada sandaran kursi meja makan. Tatapan matanya kosong sementara kebaya putih dan kamennya sudah kusut dan kotor oleh tanah menempel di beberapa bagian.

Dari kulkas, aku mengambil beberapa kue kering manis kemudian menyodorkannya pada Bungah, menyuruhnya makan. Ia mengangguk dan membuka salah satunya.

"Padahal sebelumnya Aji baik-baik saja," ujarnya dan air mata kembali meleleh di pipi, "aku... waktu di Ubud kemarin malah menolak buat bicara di telepon. Padahal Ibu sudah menawarkan. Aku pikir... Nanti saja bicaranya kalau sudah sampai griya supaya lebih jelas. Tapi... siapa yang menyangka kalau aku kembali dan Ajiku sudah pergi. Aku menyesal... aku harusnya bicara sama dia di telepon waktu itu." Air matanya kembali menetes. Kali ini lebih deras.

Aku menelan ludah dan mendadak tidak bisa melakukan apa-apa. Tanganku mengambil beberapa lembar tisu kemudian melipatnya. Aku sengaja memajukan kursiku beberapa senti, sehingga sekarang posisi duduk kami sangat dekat untuk menghapus air matanya.

Bukan karena aku melarangnya menangis, tapi diam dan tidak melakukan apapun juga bukan hal yang aku inginkan.

Sekarang Bungah menatap ke arahku. Masih berkaca-kaca. Biasanya tatapannya selalu ceria dan tegas, tapi kali ini matanya agak merah, dan tatapannya menyiratkan kesedihan yang dalam.

"Berarti mimpi aku waktu itu... boleh jadi adalah firasat," katanya, dan aku tidak bisa menggeleng ataupun mengangguk.

Uap pada teko membuatnya berbunyi nyaring. Tanda bahwa air sudah mendidih. Maka aku bangkit dan mematikan kompor, lalu menyeduh teh untuknya dengan cepat.

"Nanti kalau sudah agak dingin, diminum ya."

Bungah tidak menjawab, ia hanya sibuk menghapus air mata dengan punggung tangannya.

Punggungnya bergetar karena ia kembali menangis, maka aku mengelusnya pelan. Kepalanya yang biasa menatap lurus ke arah lawan bicaranya, sekarang menunduk dalam. Isak tangisnya terdengar memilukan, sampai membuatku merasa ada kawat di kerongkongan ketika aku hendak menelan ludah.

Aku ingin memeluknya, tapi takut dianggap tidak pantas mengingat kami masih dalam keadaan cuntaka karena berduka.

Aku juga tidak akan memberinya kalimat-kalimat penenang karena hal itu tidak mengubah apa pun. Yang sudah jadi abu tidak akan kembali utuh.

Saat aku masih memepuk-nepuk pelan lengannya, Bibi Agung datang membawakan bunga-bunga dan tirta. Katanya, mereka harus dicampurkan ke dalam air yang akan kami gunakan untuk membasuh diri. Selain itu, Bibi Agung juga memberikan dua helai kain putih bersih untuk kami kenakan saat mandi besar nanti.

"Nggak usah pakai sabun ya. Cukup siram aja badan dari ujung kepala sampai kaki pakai air itu. Jangan lupa pakai handuk dan ganti pakaian supaya nggak masuk angin."

"Matur suksma, Bi."

"Astaga! Baju kalian lupa! Sebentar, Bibi ambilkan."

Aku sebenarnya agak tidak enak, tapi Bibi Agung terlanjur berjalan ke griya anyar untuk mengambil baju kami sebelum aku sempat menahannya.

"Bungah, mau pakai air dingin atau hangat?" tanyaku.

"Dingin aja ya, biar nggak terlalu lama nunggunya."

Aku mengangguk, "Tehnya diminum dulu."

Giliran ia yang mengangguk.

Aku lalu melangkah ke kamar mandi yang lumayan luas. Di sana, aku mempersiapkan air untuk mandi besar dalam bak kayu yang sudah lebih dulu aku bersihkan. Bunga-bunga aku taburkan di atasnya, kemudian dilanjutkan dengan tirta (air suci) dan mantra.

Ketika aku kembali ke dapur, Bibi Agung sudah meletakkan baju ganti kami di kursi. Dan saat itulah Bungah melepas kebayanya, menyisakan hanya kemben putih yang langsung dilapisi dengan kain warna senada--membuatku langsung membalikkan badan.

"Kamu mau ganti di sini atau di kamar mandi sebelah?" tanyanya.

"Di kamar mandi sebelah aja," ujarku menjawab.

Bungah menghampiriku ketika ia sudah selesai berganti dan memberikan kain yang sama padaku.

"Kamu duduk dulu aja, di sana udah aku siapkan kursi. Nanti biar aku yang basuh. Kamu masih lemas soalnya."

Bungah mengangguk tanpa banyak bicara dan masuk ke kamar mandi sebelah tempat kami akan melaksanakan mandi besar.

Di kamar mandi yang paling depan ini ukurannya memang tidak terlalu luas, tapi tetap nyaman dipakai untuk satu orang yang hanya ingin berganti pakaian.

Kain putih itu hanya aku lilitkan di pinggang karena memang harus membiarkan bagian atas telanjang. Baju kotor kami segera aku masukkan ke keresek merah besar supaya nanti bisa langsung aku masukkan ke mesin cuci setelah membersihkan diri.

Aku membuang napas pelan ketika berdiri di ambang pintu kamar mandi sebelahnya lagi, di mana Bungah menunggu dengan sabar. Aku merapalkan mantra singkat dalam hati, kemudian berjalan perlahan sembari mengambil air menggunakan gayung kayu.

"Permisi ya," kataku dan Bungah hanya mengangguk, "kayaknya ini bakalan dingin. Tahan dulu."

"Iya. Nggak apa-apa."

Aku membuang napas sekali lagi, lalu benar-benar menyiramkan air itu ke punggung, bahu kanan dan kirinya. Tanganku kemudian menggosok tangannya sambil sesekali aku basuh menggunakan air sehingga sisa-sisa tanah setra yang tadi masih menempel, sekarang mulai luruh ke lantai kamar mandi. Aku melakukan hal yang sama ketika membersihkan kakinya. Aku bersihkan sampai ke sela jari-jari, dan aku sadari bahwa Bungah terus menatapku, walaupun aku tidak berani menatapnya.

Dalam sekejap, kamar mandi ini menguarkan aroma bunga-bunga yang khas.

Usai membersihkan tangan dan kakinya, aku beranjak untuk menyiramkan air ke bagian kepala di mana rambut Bungah yang lurus panjang sampai sebatas pinggang dibiarkan terurai jatuh ke punggung.

Aku mengguyur rambutnya perlahan. Ia agak tercekat kaget karena rasa dingin, tapi kemudian kembali tenang seperti biasa.

Sisa-sisa abu pembakaran yang masih menempel di wajah dan rambutnya juga turut aku bersihkan.

Lihat selengkapnya