Pagi itu ketika aku mengantarnya ke kantor, kami tidak bicara banyak. Hanya suara radio yang benar-benar memecah keheningan. Biasanya, Bungah selalu punya topik untuk dibicarakan, tapi kali ini ia hanya mendengarkan lagu, melihat jalanan sekitar yang tetap ramai melalui jendela, lalu melamun lagi. Dan entah sejak kapan, aku kurang menyukai suasana hening ini.
Mobilku menepi ketika sampai di kantornya yang ada di pinggir jalan. Kulihat sudah ada dua motor yang terparkir di sana.
Biasanya, ia akan langsung turun, tapi kali ini tidak.
Volume radio aku kecilkan, dan ia melirikku. Di pikiranku, barangkali ada yang mau disampaikan Bungah lagi, tapi di pikirannya, bisa jadi ia menunggu aku yang mengatakan sesuatu.
"Raka,” katanya. Dan aku tidak pernah menyangka bahwa ada masa di mana suara Bungah adalah hal yang sanggup membuat tubuhku menggigil sekalipun di luar sana udara tidak sedang dingin. Ia menoleh sekilas ke arahku dan berkata, "kalau nanti kamu nggak betah, bilang aja."
Aku masih diam dan menahan napas.
"Jangan pergi tanpa ngasih tahu aku alasannya." Tepat saat mengatakan kalimat ini, ia menoleh ke arahku sekali lagi, dan aku juga membalas tatapannya.
Aku, seperti biasa, habis kata. Dan Bungah juga tidak langsung memutuskan kontak matanya denganku lalu turun. Ia masih menatapku, seolah menunggu jawaban.
"Oke," katanya sambil mengangguk, lalu melepas kontak mata denganku setelah mungkin, ekspektasinya, tidak sesuai dengan realita, "kalau gitu aku turun." Ia lalu menoleh dan mendekat, sementara aku masih diam.
Ia seperti refleks ingin memelukku, tapi gerakannya terhenti di udara. Kedua lengannya jadi canggung di sebelah kanan dan kiri tubuhku. Dan ia mengakhiri suasana canggung itu dengan deheman pendek dan tepukan pelan pada pundak.
Aku menelan ludah susah payah untuk kesekian kali, sementara Bungah sudah melepas sabuk pengamannya. Dan sebelum tangan itu meraih gagang pintu mobil, aku menahannya, membuat ia refleks menoleh.
Aku tidak langsung bicara, dan Bungah tidak langsung bertanya. Ia seolah menunggu. Barangkali, mungkin, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan--khususnya tentang pertanyaannya semalam.
"Hati-hati," ujarku. Sialnya, hanya kata ini yang mampu aku ucapkan, "nanti aku jemput seperti biasa."
Tolol, kataku dalam hati.
Ia tidak langsung memberi reaksi. Dan ketika aku melepas tangannya, ia tersenyum tipis sambil mengangguk. Akhirnya, ia benar-benar meraih gagang pintu dan turun.
Ia sempat ingin melambaikan tangan ke arahku, tapi lagi-lagi gerakannya terhenti dan untuk menutupi kecanggungannya, ia lagi-lagi hanya tersenyum, begitu pula denganku.
Perlahan, ia mundur dua langkah dan langsung berbalik. Ia masuk kantor dan tak menoleh lagi.
....
Hari ini jadwalku lumayan padat. Sebenarnya aku akan terlambat beberapa menit ke kampus untuk jadwal kelas malam kalau harus menjemput Bungah lebih dulu, tapi tadi pagi aku sudah terlanjur mengatakan bahwa aku akan menjemputnya seperti biasa, yang mana ini juga kesalahanku karena tidak mengecek ulang jadwalku sebab hari ini ternyata aku masih punya jadwal untuk kelas pengganti.
Setelah memberi kabar pada koordinator kelas bahwa aku mungkin akan terlambat 15 menit, aku langsung tancap gas menuju kantornya. Di sana, Bungah sedang mengobrol dengan seorang perempuan yang sepertinya memilih untuk tidak langsung pulang karena melihat Bungah belum dijemput. Dalam pikiranku, mungkin saja temannya sudah menawarkan diri untuk memberi tumpangan, tapi Bungah menolak karena aku sudah bilang akan menjemputnya.
"Maaf terlambat," kataku setelah turun dari mobil dan mengangguk kecil ke arah teman perempuannya yang dibalas sama.
"Nggak apa-apa," kata Bungah. Ia lalu menoleh ke arah temannya, "pulang gih, Tu. Aku udah dijemput nih."
"Kalau gitu, aku duluan," kata temannya yang aku asumsikan bernama Putu, "mari." Ia bilang begitu sambil mengangguk sekilas ke arahku dan aku membalas dengan cara yang sama.
"Udah makan?" tanyaku ketika Bungah sudah di mobil, sedang memasang sabuk pengaman.
"Udah. Kamu mau ke kampus lagi?"
Aku mengangguk sembari memutar kemudi ke kiri untuk putar balik, "Aku lupa nggak mengecek jadwal, ternyata aku masih punya kelas pengganti malam ini, jadi aku pulang terlambat."
"Iya, nggak papa."
Kami diam kemudian.
"Harusnya kamu kabarin aku aja kalau nggak bisa jemput. Toh, banyak yang mau kasih tumpangan. Supaya kamu nggak bolak-balik begini."
"Tadi aku udah bilang kalau mau jemput kamu kayak biasa," jawabku sambil berusaha tetap tenang ketika tatapan Bungah belum juga teralihkan, "nggak enak kalau batal."
"Astaga, nggak usah sampai segitunya juga kali. Sama aku santai aja."
Aku hanya tersenyum tipis.
Aku tahu kalau Bungah bisa memberikan pengertian seluas-luasnya, tapi aku sendiri yang memutuskan untuk menjemput. Bukan cuma karena aku sudah bilang bahwa aku akan menjemputnya, tapi karena aku tetap ingin bertemu dengannya walau cuma sekilas.
Begitu sampai di gerbang depan griya, Bungah langsung turun.
"Maaf, nggak bisa nemenin ke dalam."
"Nggak apa-apa, Raka. Udah, buruan ke kampus. Jangan ngebut!"
"Iya. Nanti nggak usah ditunggu. Kamu tidur duluan aja."
"Iya."
Aku menatapnya selama beberapa detik, tapi kemudian mengangguk dan tersenyum tipis. Aku putar balik, dan Bungah masih ada di sana. Kebetulan ia menatap ke arah mobilku. Aku bisa melihatnya lewat kaca spion. Beberapa detik kemudian, ia baru berbalik masuk.
....
Ketika aku sampai rumah melalui gerbang belakang griya yang walaupun sudah dikunci tapi tetap bisa kubuka karena masing-masing dari kami diberi kuncinya, halaman griya sudah sangat sepi.
Lima anjing peliharaan keluarga langsung menyambutku datang. Mereka menggonggong nyaring dan mengendus-endus kakiku ketika aku masih mengunci kembali gerbangnya.
Aku berusaha membuat mereka diam karena takut membangunkan salah satu dari keluargaku, tapi mereka tetap saja menggonggong dan mengikutiku sampai ke depan pintu griya anyar. Barulah ketika aku naik ke terasnya, mereka berhenti mengikuti, tapi ganti berjaga di depan rumahku.
Aku membuka pintu sepelan mungkin, kemudian menguncinya.
Begitu berjalan beberapa langkah, aku mendapati Bungah tertidur di sofa ruang tamu.
Badannya meringkuk dengan selimut tipis yang melorot sampai pinggangnya.
Dengkuran halus terdengar dari hidungnya. Ia bahkan tidur dalam keadaan ponsel dalam pelukan. Dan saat satu SMS operator masuk ke ponselnya, aku bisa melihat sekilas kalau foto pada layar kuncinya adalah foto pernikahan kami.
Aku hanya bisa menelan ludah susah payah karena sekarang kerongkonganku agak perih.
Mengusap wajah kasar, aku berjongkok di hadapannya dan dalam diam mengamati wajah damai Bungah yang sedang tertidur.
Beberapa helai rambut yang menempel di pipinya membuat tanganku gatal untuk menyingkirkannya, tapi tanganku terhenti di udara tepat sebelum menyentuh pipinya yang hangat.