We Can Finally Call It Home

Ida Ayu Saraswati
Chapter #20

Chapter 20

Hari ini aku kembali mengajar secara offline setelah sembuh. Biasanya setelah dari kampus aku langsung pulang, tapi hari ini tidak. Aku sudah bilang pada Bungah kalau aku tidak bisa menjemputnya, dan dia bilang: Nggak apa. Kebetulan aku pulang bareng sama Niluh, sekalian mau jalan sebentar.

Sore ini ketika lingkungan kampus mulai dipenuhi oleh beberapa orang luar yang sengaja olahraga sore bersama keluarga atau teman mereka, dan aku duduk di kursi lapangan dekat perpustakaan pusat yang bersebelahan dengan Fakultas Ilmu Komputer. Entahlah. Aku merasa ingin sendiri saja hari ini.

Aku menatap lurus ke lapangan. Tadinya hanya fokus pada pohon beringin yang kokoh di seberang sana, tapi segera teralihkan ketika melihat seorang anak lelaki yang menendang bola dengan kaki mungilnya perlahan ke arah ayah dan ibunya yang menunggu di seberang sambil menyemangati.

Kuperkirakan usianya mungkin baru empat tahun. Tapi ia sudah lincah dan lancar bicara. Ia tertawa-tawa senang. Mungkin ia memang anak yang ceria. Tanpa sadar, aku tersenyum.

Aku tidak tahu apakah aku suka anak kecil, tapi aku tidak membenci mereka. Saat keponakanku lahir satu per satu dan terus bertambah, keluargaku selalu mencoba membuatku menggendong mereka entah saat mereka masih bayi merah atau ketika mereka berusia sekian bulan. Dan aku bisa merasakan sendiri bagaimana sensasinya menggendong bayi yang aromanya khas. Ketika mata mereka menatapku, ada kejernihan dan kepolosan di sana. Kadang aku masih tidak percaya bagaimana sperma yang bertemu sel telur kemudian membentuk zigot dan lahirlah seorang bayi yang badannya mungil, dan nantinya akan bertumbuh seiring bertambahnya umur. Walaupun biaa dijelaskan secara ilmiah, tapi setiap kali menggendong bayi, aku selalu takjub pada kehidupan kecil itu. Dunia mereka seperti kanvas putih yang belum tahu akan digambar apa dan dengan warna apa.

Apakah alasan punya anak harus spesifik? Aku hanya ingin. Aku ingin belajar darinya cara menjadi orang tua. Secara mental dan finansial aku sudah siap, tapi apakah alasan itu cukup dan bisa terima? Apakah alasan itu sudah pantas?

Aku sudah akan berjalan kembali ke mobil ketika sebuah bola menggelinding dan berhenti tepat di depan kakiku. Aku mendongak dan melihat anak kecil itu berlari ke arahku dengan ceria, seolah ia tidak takut dengan orang asing yang tak dikenalnya.

"Bola. Bola," katanya sambil menunjuk benda itu.

Aku tersadar dari lamunan dan langsung berjongkok untuk mengambilnya. Anak itu menghampiri. Kedua tangan mungilnya menengadah, terulur ke depanku meminta bolanya kembali.

"Ini," kataku sambil menyerahkan bolanya.

"Makasih, Om."

Aku hanya mengangguk dan tersenyum.

Ia berjalan menjauh dariku, kemudian berhenti dan berbalik hanya untuk melambaikan tangan. Aku sempat termangu selama sepersekian detik, sampai akhirnya cuma bisa membalasnya dengan lambaian tangan canggung seperti patung bernyawa.

Sepanjang perjalanan pulang menuju griya, aku merasa ada yang berubah dariku. Salah satunya sekarang: ketika aku berdiri di depan rak khusus buku anak-anak alih-alih langsung pulang.

Dulu aku sering membelikan keponakanku buku anak, dan aku dengar dari kedua kakakku bahwa mereka masih sering membacanya sampai sekarang. Semoga saja kenyataannya memang begitu, sehingga hari ini aku merasa cukup percaya diri untuk memilih buku cerita anak mana saja yang berpotensi disukai oleh anak berusia empat tahun. Setelah mendapatkan lima buku, aku segera membayarnya ke kasir dengan perasaan girang.

Aku tahu. Tidak ada jaminan anak itu akan datang lagi esok, tapi aku akan tetap datang menunggu di tempat yang sama, sampai mungkin bertemu dengan anak itu lagi. Kalau tidak ketemu lagi, buku-buku ini bisa aku berikan pada keponakanku.

Ketika sampai di tempat parkiran griya, aku sempat ragu apakah harus membawa totebag berisi buku anak-anak itu masuk. 

Bagaimana kalau Bungah atau anggota keluarga lain tahu dan bertanya? Tentunya mereka paham aku tidak mengajar anak-anak PAUD. Aku belum siap menghadapi pertanyaan mereka, jadi kubiarkan saja totebag itu tergeletak di kursi bagian tengah yang aku tutupi jaket dengan harapan tidak memancing perhatian siapapun yang menumpang mobilku.

Aku berjalan masuk ke griya, dan langsung disambut dengan suara gonggongan anjing-anjing kami.

Ketika sampai kamar, aku melihat Bungah sudah tertidur, walaupun gerakannya gelisah seperti orang yang susah memejamkan mata.

"Lagi nggak bisa tidur?" tanyaku sambil duduk di pinggir kasur.

Mendengar suaraku, Bungah langsung membuka mata dan mengubah posisinya menjadi duduk.

"Kamu sudah baikan? Obatnya tadi sudah diminum kan di kampus?"

Aku mengangguk.

Lalu hening di antara kami. Bungah melirikku, seolah menimbang-nimbang apakah ia harus mengatakannya atau tidak. Tapi pada akhirnya ia mengatakannya, "Kamu... tahu Mbok Laksmi, kan?"

Aku tidak langsung menjawab, melainkan mencoba mengingat siapa yang sedang Bungah bicarakan karena silsilah keluarga tidak pernah sederhana.

"Kalau nggak salah... dia anaknya Bibi Dyah?"

Bungah mengangguk. Tangannya kini bertaut di pangkuan.

"Tadi aku sempat ngobrol sama dia. Dia udah empat tahun menikah, tapi belum punya anak. Dan... di keluarga suaminya, dia mendapat desakan. Tadi dia cerita sambil nahan nangis gitu. Tiba-tiba aja aku kena seret gara-gara aku juga belum hamil. Hasilnya... aku, kamu, Mbok Laksmi, Bli Gus Tantra suaminya, dan Bibi Dyah akan sembahyang ke beberapa pura yang sudah ditentukan hari Sabtu minggu ini," ujarnya menjelaskan. Ia kembali melirik ke arahku. Kali ini menatap terang-terangan, "kamu... mau ikut? Nggak apa-apa?"

Aku mengangguk, "Aku memang harus ikut, Bungah. Nggak apa-apa."

"Oke."

Kami diam lagi. Kalau saja tadi aku tidak berhenti di lapangan kampus dan toko buku, apa aku bisa mencegah Bibi Dyah tidak menyinggung kehamilan di depan Bungah? Seharusnya Bibi Dyah bicara di depanku saja, walaupun mungkin tak banyak yang bisa ia katakan, sebab bagaimana pun, aku tetaplah orang luar yang perlu belajar memahami orang-orang yang tinggal di sini.

"Maaf, Bungah. Kamu jadi menghadapi omongannya Bibi Dyah sendirian. Memangnya... bibi Dyah bicara apa saja?"

"Mentang-mentang Ibuku tadi sedang keluar bersama adikku, dia merasa leluasa untuk memberiku nasehat," balas Bungah. Ia mengangkat bahu ringan kemudian menyandarkan punggung pada sandaran tempat tidur, "klasik. Kalimatnya template. Dia bilang kalau aku dan kamu terlalu sibuk kerja, terlalu menunda-nunda punya anak. Dan entah gimana caranya dia bisa tahu kalau kita belum melakukan hubungan suami-istri. Tapi aku udah nggak apa-apa, Raka. Tenang aja. Bibi Dyah memang begitu. Susah untuk diubah. Sebenarnya aku emosi, tapi kalau aku turutin emosiku... wah, kacau. Nanti griya malah ramai karena drama kami berdua. Buat kali ini, aku nahan-nahan aja. Dan kayaknya Bibi Dyah juga lumayan menahan diri karena mungkin dia takut kalau aku akan menyerang anaknya, padahal aku nggak akan begitu, tapi... ya sudah, lah."

Aku masih menatapnya lekat-lekat dan belum ingin beranjak. Sedang mencoba meneliti sorot matanya. Mungkin Bungah berbohong, mungkin juga tidak.

Aku sudah akan mengatakan "maaf" entah yang berapa kali karena memang hanya itulah yang aku bisa, tapi ia seolah menangkap sinyalnya sehingga langsung menghentikanku tepat sebelum kata itu terucap.

"Jangan bilang maaf," katanya. Sekarang ia menatapku lekat, berusaha meyakinkan kalau ini bukan salahku, "aku sendiri yang memilih kamu, jadi konsekuensinya memang harus aku terima. Lagian, ini bukan salahmu. Ini memang konsekuensi yang harus kita hadapi karena tinggal di lingkungan komunal. Sekarang lebih baik tidur." Ia menepuk punggung tanganku sebelum akhirnya tidur lebih dulu.

Pada hari Sabtu pagi, kami sudah siap dengan pakaian adat dan beberapa bokor berisi banten yang akan dipersembahkan ke pura-pura yang akan kami datangi.

Lihat selengkapnya