Setelah malam itu, aku berusaha keras untuk tidak menampakkan rasa malu di depan Bungah dan keluarga di griya, tapi sepertinya tidak berhasil. Aku hanya diam, tapi dalam diamku pun beberapa dari mereka sudah bisa menangkap ada sesuatu yang terjadi padaku, pada kami berdua. Walau mereka tak banyak bertanya, aku tahu bahwa mereka sedang merumuskan berbagai kemungkinan, menebam-nebak apa yang kiranya kami alami dan sembunyikan, lalu membahasnya dengan suara yang bisik-bisik.
Aku tidak tahu mengapa merasa malu. Padahal aku sudah membaca banyak buku dan berdiskusi dengan dokter-dokter terbaik yang memahami kasusku sebagai bagian dari variasi normal dalam biologi, tapi semua fakta ilmiah yang apa adanya, yang sampai beberapa bulan lalu masih bisa membuatku tenang dan optimis kalau aku sudah bisa menerima kondisiku sepenuhnya, sekarang menguap entah ke mana. Otakku terasa kosong sehingga aku tampak seperti orang linglung.
Kejadian malam itu terus berputar seperti kaset rusak. Tidak peduli aku sedang terjaga atau terlelap. Akibatnya, aku sering terbangun tengah malam hanya untuk duduk di ruang tamu atau ruang makan sambil membawa laptopku, berusaha mengalihkan pikiran pada hal lain yang lebih berguna, seperti menulis misalnya, tapi aku bahkan tidak bisa menyelesaikan satu esai ringan pun, atau satu cerpen sepanjang seribu lima ratus kata selalu berhenti di tengah jalan, kubiarkan mangkrak setengah jadi, padahal biasanya dalam satu hari aku bisa menulis dua esai dan satu cerpen, atau sebaliknya.
Dan Bungah menyadari bahwa akhir-akhir ini aku sering terbangun malam. Itulah mengapa di meja paling tidak ada buah-buahan dan botol-botol air minum serta gelasnya. Kadang Bungah juga ikut terbangun dan duduk di kursi yang lain, sengaja memberi ruang untukku, dan dia hanya duduk diam sambil minum bir dan makan kacang kering, atau sambil menonton acara apa saja di TV dengan volume yang kecil. Selama ia secara tidak langsung menemaniku, ia tidak banyak bicara, hanya duduk dan sibuk dengan urusannya sendiri. Bukan pengabaian yang dilakukannya, melainkan memberiku ruang untuk sendiri, sekaligus mengingatkan bahwa aku tidak benar-benar sendiri.
"Pekataanku beberapa malam yang lalu... aku minta maaf," ujarku ketika Bungah sudah akan ke kamar setelah mematikan TV.
"Kalau yang kamu maksud adalah kamu yang bingung kenapa aku langsung bilang bahwa aku memahami kondisimu sementara aku bukan kamu... nggak apa-apa, Raka. Aku memang salah di sana. Aku terlalu cepat menanggapi boleh jadi karena aku panik dan kata-kata penenang yang terpikirkan cuma itu. Entah kenapa aku nggak bisa nahan diri untuk nggak bilang begitu, padahal aku tahu itu bikin kamu nggak nyaman. Dan aku paham kalau kamu kesal. Kesalmu itu wajar."
Aku tidak langsung menjawab dan Bungah tidak langsung beranjak. Aku menatapnya, ia juga sama. Ia lalu mengulas senyum, mungkin berusaha mencairkan suasana yang masih dingin.
"Kenapa... kamu masih bisa memberi pengertian seluas itu?" tanyaku. Tidak dengan nada skeptis. Melainkan bingung, heran, sekaligus kagum. Bungah termasuk orang baru dalam hidupku. Orang yang telah mengenalku selama bertahun-tahun belum tentu memberi pengertian seluas Bungah melakukannya, jadi... ia memang tampak seperti anomali. Sekali waktu ia tampak seperti ancaman yang berusaha memecahkan gelembungku, tapi sekali waktu ia tampak seperti pohon beringin teduh yang ketika aku bernaung di bawahnya, ia tidak akan marah dan banyak bertanya. Ia hanya menerima.
"Karena aku melihat kamu lebih daripada apakah kamu bisa memberiku keturunan atau nggak. Dan aku sudah pernah bilang, kan, kalau punya atau enggaknya anak, nilai kita sebagai manusia nggak akan berkurang. Dan itu... betapa pun menurut orang lain terlalu utopis, tapi aku meyakininya sebagai suatu kebenaran yang nggak akan menyesatkan."
"Aku nggak langsung menjawab pertanyaanmu tentang apakah pernikahan ini bisa selamanya karena aku belum yakin aku mampu. Kalau pernikahan ini bisa selamanya... kita akan terus bersama. Dan kalau sampai waktu yang lama sekali kita belum juga punya keturunan, orang lain atau bahkan keluargamu bisa menjadikan itu sebagai alasan untuk menyudutkan kamu. Padahal penyebab kamu nggak bisa punya keturunan adalah aku, tapi akan selalu ada orang yang memandangnya terbalik. Jadi, gimana bisa aku mempertahankan pernikahan ini kalau ke depannya, hal-hal semacam itu akan bikin kamu nggak nyaman?"
"Aku tahu. Aku sudah bisa menebak pertimbanganmu akan seperti ini. Kamu nggak akan memberi janji kalau kamu sendiri nggak bisa menepatinya. Itu cukup adil, Raka. Itulah kenapa aku memberikan pengertian dan nggak mendesakmu untuk buru-buru menjawab. Dan sekarang terbukti kan? Kalau aku nggak memberi pengertian ke orang yang salah."
Aku nggak memberi pengertian ke orang yang salah.
Bisakah dikatakan bahwa aku orang yang tepat menerima pengertiannya?
Aku hanya menelan ludah susah payah. Merasa ada banyak hal yang ingin kusampaikan, tapi tidak tahu apa itu penting atau tidak. Daripada aku terlalu banyak bicara dan malah mengulang kalimat yang sama, aku memilih diam.
"Jangan begadang," ujarnya sebelum melangkah masuk kamar kami. Pintunya sengaja tidak ditutup karena tahu aku belum ingin tidur, padahal aku tahu Bungah tidak bisa tidur nyenyak dalam keadaan pintu yang terbuka.
...
Hubunganku dan Bungah masih agak canggung, tapi kami tidak berubah. Kami tetap berlaku sebagaimana adanya. Bungah tetap menceritakan kejadian-kejadian lucu dan menyebalkan sepulang kantor, aku tetap menjadi pendengarnya dan sesekali menceritakan tentang pengalamanku sebagai dosen tamu yang ternyata tak seburuk yang aku pikirkan.
Dan sore ini kami bersiap ke griya lamaku karena Aji dan Ibu sedang merayakan ulang tahun pernikahan. Walaupun Aji sangat jauh dari imej lelaki romantis, tapi entah kenapa ia tidak menolak perayaan semacam ini. Bahkan mereka sudah merayakannya sejak aku masih kecil dan kedua kakakku masih remaja. Kukira juga hanya akan jadi perayaan yang timbul tenggelam, tapi ternyata mereka melakukannya sampai hari ini ketika sudah dikelilingi para cucu. Atau mungkin, mereka menjadikan acara ini tidak lebih dari momen berkumpulnya para anak dan cucu supaya suasana rumah tetap semarak.
Sampai di griya, kami disambut dengan kicauan burung murai di kandangnya yang gagah, yang sebenarnya suara ini menjadi samar karena tiga anjing jantan peliharaan orang-orang yang tinggal di sana langsung berlari mengerumuni sambil mengendus-endus kami. Ibu adalah orang pertama yang menyambut kedatangan kami, bersamaan dengan dua kakak iparku. Kami dituntun ke dapur untuk cuci tangan. Ternyata, makanan sudah siap semua, hanya tinggal membawanya ke ruang makan keluargaku yang semi-terbuka karena berdekatan dengan taman kecil yang ditanami rumput teki, bunga kamboja, kenanga, melati, sepatu, telang, seruni, mawar, anggrek ungu, anggrek bulan, hingga gemitir. Di sebelahnya ada pohon mangga yang bersebelahan dengan kran air yang digunakan untuk menyiram tanaman koleksi Ibu di sana, lalu di sebelahnya ada kolam berisi ikan-ikan koi kesayangan Aji yang harus dipagari agar tidak mengundang para cucunya menerobos bersama anjing-anjing kami.
Bersama dengan mereka, aku membantu membawakan makanan untuk ditata di meja. Kelima keponakanku langsung berlarian dari ruang tengah memeluk kakiku dan tampak malu-malu ketika Bungah menyapa. Tapi rasa malu mereka hanya sebentar karena setelahnya, satu per satu mulai menepuk telapak tangan Bungah, bertos ria. Mereka memang masih kecil, tapi kemampuan mereka dalam bergaul dengan orang asing patut aku acungi jempol. Tak ada yang pemalu. Mereka mudah akrab dengan orang baru asalkan orang itu terus mengajaknya bicara dan menanggapi segala cerita mereka sekalipun tidak masuk akal. Perbedaannya denganku saat kecil sangat jauh. Mereka adalah anak-anak yang penasaran dan mendekat ketika ada tamu, sementara aku sebaliknya.
Menu malam ini seperti menu makanan kami sehari-hari. Nasi hangat, lawar, tum ayam, sate lilit, ayam betutu, dan urap Jawa. Kami menyebutnya urap Jawa karena rasa dari parutan kelapanya tidak hanya asin dan pedas seperti orang Bali punya, tapi diseimbangkan dengan rasa manis. Ibuku belajar resep ini dari kakak iparku, Mbok Putri, istrinya Bli Ngurah yang pernah tinggal di Surabaya 4 tahun ketika masih kuliah dulu, sehingga dialah yang menjadi jembatan untuk memperkenalkan masakan-masakan Jawa di griya ini, sementara kalau di griya Bungah, Ibu mertuaku yang menjadi jembatan karena dia dari Banyuwangi. Dia selalu memasak banyak masakan: hari ini soto, hari lain rawon, gado-gado, sambal tempong, sayur urap, semur telur puyuh, telur balado, pecel, dan banyak lainnya. Bungah pernah bilang padaku: kalau ibuku bukan guru, dia pasti sudah membuka warung makan Jawa di sini.
Lima keponakanku didudukkan di kursi khusus yang biasa mereka pakai ketika makan karena sejak kecil mereka sudah diajarkan untuk terbiasa makan sendiri. Setelah berbincang-bincang sebentar, Aji memimpin doa sebelum makan, kemudian mempersilakan kami mengisi piring-piring dengan lauk yang disuka.
"Padahal kami anak-anaknya Aji nggak pernah merayakan ulang tahun pernikahan, tapi Aji yang nggak romantis tetap merayakannya," celetuk Bli Ngurah di tengah-tengah kegiatan makan kami.
"Ini bukan soal romantis atau tidak, ini soal niat atau tidak. Kau lihat sendiri Ajimu merayakannya setiap tahun, jadi sudah bisa dipastikan dia memang niat," balas Ibuku dan kami terkekeh pelan.
"Artinya kamu belum niat, Tu Aji," kata Mbok Putri, istrinya Bli Ngurah. Menurutku, dia akan segera mengadu tentang betapa tidak romantisnya kakakku yang kedua itu dalam rumah tangganya pada kami semua di sini, "mungkin hanya aku yang ingat tanggal pernikahan kita dan kamu tidak."
"Aku ingat."
"Memangnya tanggal berapa?"
"Tidak salah lagi! Pasti 16 Mei."