We Can Finally Call It Home

Ida Ayu Saraswati
Chapter #22

Chapter 22

Hari-hari setelah makan malam di griya lamaku, hubungan kami berjalan seperti biasa. Bungah tetap menyiapkan bekal untuk kubawa ke kampus, kami tetap meluangkan waktu untuk mengobrol atau menonton bersama, ia mengajakku mendiskusikan buku-buku yang aku tulis, dan bercerita banyak hal. Tak ada yang berubah. Atau kalaupun ada, maka perubahan itu mengarah ke semakin eratnya hubungan kami.

Suatu ketika aku mendengar dari Bungah bahwa Mbok Laksmi, anak perempuan Bibi Dyah satu-satunya, katanya sudah hamil dan usia kandungannya tiga minggu. Kami mengingat hari itu sebagai hari dimana wajah Bibi Dyah berseri-seri bukan main. Ia menjadi lebih ramah kepada orang-orang yang tinggal di griya, bahkan sering membawakan kami makanan dengan maksud tak lain tak bukan: mensyukuri berita baik dari anak perempuannya. Dari Bungah juga aku mendengar bahwa perlakuan keluarganya Bli Tantra pada Mbok Laksmi berubah drastis. Mereka bersikap hangat dan memanjakannya, bahkan Mbok Laksmi tidak diperbolehkan bekerja terlalu berat. Berita kehamilan itu juga disebarkan Bibi Dyah ke orang-orang di banjar, begitu pula mertua Mbok Laksmi yang katanya langsung menyumbang dana besar untuk sebuah proyek di banjarnya.

Tak pelak, berita kehamilan Mbok Laksmi yang membahagiakan juga turut menyenggol kami berdua. Di balik sikapnya yang ramah, Bibi Dyah masih kerap menyindir Bungah dengan pertanyaan seperti: kalian sudah melakukannya, kan? Jangan ditunda lagi. Tidak baik. Kalau kalian menunda punya anak, maka leluhur akan bingung karena tidak menemukan wadah tempatnya reinkarnasi. Dan entah kenapa Bibi Dyah selalu begini pada Bungah hanya ketika aku tidak di griya. Entah dia sengaja atau tidak, tapi susah untukku berpikir bahwa itu hanya rangkaian kebetulan, sebab sejak awal, Bibi Dyah selalu bertanya tentang keturunan di saat tidak ada aku di sana, dan membiarkanku hanya tahu dari Bungah. Kadang aku jadi bertanya dalam hati: kenapa ia tidak mengatakannya saat ada aku? Apa bedanya saat ada aku atau tidak? Apa dia merasa lebih leluasa tanpaku?

Bukannya aku ingin menjadi pahlawan kesiangan yang membela Bungah habis-habisan supaya dipandang sebagai suami yang baik sebab aku tahu Bungah bisa membela dirinya sendiri, tapi aku ingin mendengarnya langsung. Entahlah. Mungkin aku merasa puas kalau mendengarnya langsung dari Bibi Dyah karena setidaknya Bungah tidak sendirian menahan rasa dongkolnya. Kalaulah memang Bibi Dyah ingin menyindir soal momongan, lakukanlah di depan kami berdua, sebab aku ingin dilibatkan dalam susah ataupun senangnya, jangan hanya pada Bungah seolah ini adalah salahnya.

"Mungkin memang benar dia hanya berani berkata begitu waktu kamu nggak ada di griya, Raka," ujar Bungah suatu malam ketika aku mengutarakan rasa dongkolku tentang Bibi Dyah, "mungkin menurutnya, kamu memang pendatang. Pendatang yang entah bagaimana tetap membuatnya segan. Tapi Bibi Dyah sudah lama memang begitu orangnya. Hanya karena dialah yang paling paham tentang tata cara dan banten-banten upacara suci, dia merasa punya andil di griya ini setelah kakaknya Ajiku yang pertama. Bagaimana pun, mendiang suaminya kan anak tertua kedua di griya ini, jadi dia merasa dituakan. Sejak dulu dia memang suka memelonco orang mana pun yang masuk ke griya. Jangankan aku, Ibuku dulu pun sama. Apalagi Ibuku bukan orang Bali tulen. Dua menantunya juga sama: dipelonco dan nggak lepas dari kritikannya. Syukur-syukur mereka betah tinggal di sini."

"Kamu nggak apa-apa?" Aku bertanya untuk ke sekian kali.

"Yah... dongkol sih sebenarnya, karena urusan ranjang kan privasi, tapi... memang inilah konsekuensi tinggal dengan sistem komunal. Apa yang terjadi di keluarga sebelah seolah menjadi masalah bersama, bahan diskusi keluarga besar. Aku sudah lama tinggal di lingkungan seperti ini, memang melelahkan, tapi ya sudahlah. Kami mencari penghidupan di Bali, jadi sulit untuk meninggalkannya."

Aku diam dan merasa setuju dengan jawaban Bungah. Dalam hal menghadapi realita kehidupan, bukankah semua manusia juga tak bisa menolaknya? Oh, atau mungkin bisa dengan catatan kau haruslah orang yang sangat kaya dan sangat berkuasa. Kalau hanya orang biasa yang masih menerima uang dari remah-remah orang-orang yang paling kaya, maka tak ada yang bisa kami lakukan selain bertahan hidup dengan cara apa saja.

"Kenapa ya Bungah, kalau ada kasus dimana suami-istri sedang berjuang punya anak, yang dipandang mandul selalu perempuan? Dan kalau suaminya setia sama istrinya walau mereka belum punya momongan... orang-orang selalu terkesan sama hal itu. Seolah setia pada pasangan apapun keadaannya selama rumah tangga mereka sehat adalah sesuatu yang heroik? Padahal itu biasa saja."

Bungah tidak langsung menjawab. Ia menyesap bir kalengannya sekali lagi sambil berdesis kecil, "Kita kayak dua filsuf yang kena insomnia dan memutuskan untuk deep talk tahu nggak? Tapi nggak apa, aku suka," kata Bungah sambil terkekeh pelan. Matanya menerawang ke arah film yang masih tayang di layar TV kami, tapi entah kenapa tidak lagi menarik perhatian, "aku juga nggak tahu kenapa bisa begitu. Toh, narasi tentang kesetiaan ini cuma masalah kamu meyakininya atau nggak. Kalau kamu yakin dan percaya... boleh jadi kamu beranggapan kalau kesetiaan itu sifatnya istimewa dan siapapun yang melakukannya adalah pahlawan. Tapi kalau kamu nggak meyakininya, atau bahkan nggak suka kalau narasinya hanya berat sebelah, jadinya seperti yang barusan: kamu menganggap kesetian adalah hal biasa yang nggak perlu disanjung."

Aku mengangguk sebagai jawaban, dan kami diam lagi. Bagaimana mungkin Bibi Dyah segan bicara apa adanya di hadapanku? Apa yang membuatnya segan padaku? Kalau pun ia membicarakan soal keturunan dengan menyinggung kondisiku, aku toh tidak akan marah, aku akan menjelaskan walau ia tidak akan mendengar, yang jelas aku tidak suka kalau orang-orang yang berharga buatku terus dipojokkan seolah ia melakukan kesalahan besar yang tidak bisa dimaafkan. Seolah sesuatu hal yang tidak berjalan sebagaimana mestinya adalah salah orang itu. Toh, aku tidak berkontribusi apa-apa pada hidup Bibi Dyah, jadi seharusnya ia tidak perlu sungkan. Kalau pun omongannya menyakiti perasaanku, aku tidak akan bilang pada keluarga besar dan membawa orang-orang untuk membela diri. Bagaimana pun, aku akan membela diri sendiri, sebab ini adalah urusan pernikahan kami yang tidak boleh diikutcampuri orang lain. Entahlah. Manusia kadang memang sulit dipahami daripada benda mati.

Pagi ini adalah hari terakhirku jadi dosen tamu dan rasanya campur aduk. Lega karena ternyata aku mampu menyelesaikan tanggung jawab yang satu ini, tapi di satu sisi... entahlah. Mungkin aku akan merindukannya suatu hari nanti? Sebab mengajar tidak pernah ada dalam bayanganku. Bahkan dulu ketika ditawari untuk mengajar beberapa adik kelas di ekskul taekwondo, aku tidak mengambil tawaran itu karena merasa tidak tahu caranya mengajar.

Aku tidak tahu bagaimana caranya mengajar tanpa terlihat seperti sedang menggurui, sebab bagiku, proses itu haruslah belajar dan mengajar, bukan hanya mengajar. Apabila hanya mengajar, ini terkesan seperti aku menyuapi mereka dengan materi dan menguji kemampuan mereka dengan soal ujian, tapi kalau judulnya adalah kegiatan belajar-mengajar, maka di sana bukan hanya aku yang memberi informasi pada mereka, tapi mereka juga memberi informasi padaku, dan semua orang yang ada di ruang kelas.

Ketika aku menutup kelas terakhir hari itu dan bermaksud untuk pamit, salah seorang mahasiswa mengangkat tangan walaupun sesi tanya jawab tentang materi terakhir sudah ditutup beberapa menit yang lalu, tapi aku tetap mempersilakannya bicara, "Pak, pertanyaan saya nggak ada kaitannya sama materi terakhir yang Bapak kasih, tapi saya sudah nahan-nahan untuk nggak nanya ini sejak lama. Kenapa di umur 20-an ini saya banyak bingungnya ya, Pak? Saya seperti pengembara yang berusaha baca peta dan kompas sekaligus berusaha mencari orang bijak untuk dijadikan kompas hidup saya. Padahal saya nggak suka nasehat dan motivasi, tapi entah kenapa saya malah butuh dua hal itu di waktu-waktu tertentu. Kalau boleh tahu, Pak, gimana gambaran Bapak dulu pas umur 20-an? Banyak bingungnya seperti saya atau nggak? Dan kalau boleh, Pak, ada nasehat yang bisa Bapak kasih ke kita? Karena dari awal ngajar, Pak Raka nggak pernah ngasih motivasi dan nasehat seperti dosen lain. Padahal teman saya di jurusan lainnya cerita kalau dia dapat dosen tamu yang menjelma jadi motivator di jam-jam kelas mau berakhir."

Beberapa mahasiswa lainnya mulai bersorak ketika remaja lelaki itu baru menyelesaikan pertanyaannya, sementara aku berdehem pelan dan tidak langsung menjawab. Pertanyaan ini cukup membuatku kaget sebab sebagai dosen tamu, aku beranggapan bahwa aku di sini hanya menjalankan proses belajar-mengajar sebaik mungkin lalu pergi dalam diam. Tidak ada kesan, tidak ada pesan. Tapi situasinya berbeda sekarang. Pertanyaan remaja lelaki itu butuh jawaban.

"Kebingungan dalam hidup itu nggak pandang usia rasa saya," kataku setelah mereka pelan-pelan diam dan suasana kelas kembali kondusif. Kuperhatikan kini beberapa dari mereka memberikan atensi, "saya umur 36, tapi jangan kalian pikir umur segini sudah settle. Mungkin secara finansial sudah, tapi soal mental... siapa tahu belum sepenuhnya settle. Saya masih merasa bingung dalam banyak hal. Dan saya masih merasa seperti alien walau di tengah-tengah keluarga atau masyarakat."

Aku diam sejenak, memikirkan kata-kata apa yang harus kurangkai selanjutnya supaya tidak salah bicara. Aku tidak mau kelas terakhir ini malah berakhir seperti seminar motivasi. Sama seperti si remaja lelaki yang baru kuingat namanya adalah Made, aku pun tidak suka nasehat dan motivasi.

Lihat selengkapnya