We Can Finally Call It Home

Ida Ayu Saraswati
Chapter #23

Chapter 23

Sore itu kami berdua sedang membersihkan merajan seperti biasa. Beberapa bunga kenanga yang berjatuhan dari pohonnya kupungut dan memasukkannya dalam tempat khusus. Seseorang dengan suara cempreng memanggil Bungah, membuat kami saling beradu pandang sebentar sebelum akhirnya membiarkan Bungah menuruni beberapa anak tangga untuk menemui orang itu, yang tak lain adalah Bibi Dyah. Kulihat sekilas mereka tampak bicara sambil berbisik, kemudian Bungah berbalik ke merajan dengan raut wajah yang bingung.

"Kenapa?" tanyaku.

"Entahlah. Bibi Dyah bilang katanya aku dan kamu harus ke rumahnya Elok sekarang juga. Sudah ditunggu oleh keluarga besar di sana."

"Elok? Ada apa sama dia?"

"Aku juga nggak tahu," kata Bungah sambil meletakkan peralatan bersih-bersih kami ke sudut merajan, "duh, perasaanku jadi nggak enak. Beberapa hari yang lalu aku lihat dia agak pucat. Aku tegur, katanya masuk angin biasa. Tapi kadang aku lihat Elok jalan ke kamar mandi cepat-cepat karena merasa mual. Lalu dia muntah-muntah. Selain itu... aku nggak pernah lihat Arya pacarnya datang ke sini lagi. Biasanya dia ke sini sekadar untuk mengantar Elok pulang atau menjemputnya untuk jalan."

Kami tidak berasumsi lebih banyak karena takut salah dan masalah lebar ke mana-mana.

"Kalau gitu, kita ke sana sekarang. Nggak enak kalau mereka malah menunggu yang muda," kataku dan Bungah mengangguk.

Aku menggandengnya keluar dari merajan menuju rumah Elok yang hanya berjarak sekian langkah kaki.

Ketika kami masuk ke dalam, rupanya memang benar. Keluarga besar griya ini telah berkumpul di ruang tengah rumahnya Elok yang luas. Mereka memintaku menutup pintu rapat-rapat supaya anak-anak kecil yang sibuk bermain di halaman sambil ditemani oleh beberapa sepupuku yang remaja tidak mendengarnya.

Kubiarkan Bungah duduk di samping Elok sementara aku duduk di sebelah Aji Ketut--anak pertama di griya ini sekaligus yang tertua, yang didaulat sebagai pemangku griya yang mengurusi banyak hal. Kulihat Elok hanya menunduk dalam dengan air mata yang masih meluruh. Jari-jari tangannya bertaut cemas di pangkuan. Suasana yang aku rasakan mendadak tidak enak, tapi aku tetap tidak bisa memulai pembicaraan.

Kulihat Ajinya Elok, Aji Wayan, yang biasanya suka melawak dan menyapaku dengan ceria sekarang terduduk agak jauh dari kerumunan. Wajahnya tidak menampakkan jenaka sama sekali. Sebaliknya, matanya sembab. Dadanya naik turun seolah menahan emosi. Sementara Ibunya Elok duduk di sebelah Bibi Agung dan berusaha ditenangkan. Matanya juga bengkak dan merah khas orang yang habis menangis hebat. Ia tampak lemas di sandaran sofa sambil berulang kali menggeleng dan bergumam entah apa.

Aji Ketut membuang napas pelan kemudian menoleh ke Aji Wayan, "Saya yang menjelaskan atau kamu?" tanyanya.

Kudengar Aji Wayan mendengus kasar, "Bli Tut saja yang menjelaskan. Saya masih emosi dengan anak ini." Ia melihat ke arah Elok dengan tatapan bengis, padahal biasanya ayah-anak itu selalu tampak akrab. Elok bahkan kelihatan suka bercanda dengan Ajinya dalam beberapa kesempatan ketika kami berkumpul untuk menjejaitan.

Aji Ketut menghela napas lagi. Ia tampak lelah dan susah memilih kalimat yang pas, tapi ia tahu sesuatu itu harus dikatakan secara apa adanya, "Elok... dia hamil. Sudah tiga minggu. Setelah kami tanya-tanya... yang menghamilinya adalah Arya pacarnya. Dan... ketika kami berusaha membuat Arya bertanggung jawab melalui Elok, teleponnya tidak pernah diangkat. Hari ini nomornya bahkan tidak aktif sehingga Elok memblokirnya. Jadi... karena Tu Gek Bungah dan Tu Gus Raka belum memiliki momongan... maka kami mengusulkan untuk mengadopsi anak Elok kelak ketika ia melahirkan. Sementara Elok, menurut keputusan orang tuanya akan tetap melanjutkan pendidikannya di Australia. Dan selama masa kehamilan hingga melahirkan nanti, Elok tidak bisa tinggal di sini. Ia akan tinggal di Jakarta. Kalau ia tetap tinggal di sini... orang-orang banjar cepat atau lambat akan tahu ketika mereka ngayah di griya. Mereka akan menjadikannya omongan yang dilebih-lebihkan. Dan tentu saja sebagai keluarga kita tidak menghendaki itu." Ia menoleh ke semua orang yang ada di ruangan itu, beberapa mengangguk setuju.

Dadaku terasa seperti dipukul dengan godam beberapa kali. Sesak dan telak. Kerongkonganku bahkan terasa sakit ketika harus menelan ludah. Tanganku mendadak dingin dan tubuhku kaku. Lidahku bahkan kelu. Kulihat Bungah yang berusaha tenang supaya Elok tidak menjadi semakin terpukul, tapi aku bisa lihat ia juga kaget dan berusaha menyembunyikannya dengan baik. Tangan Elok kini meraih tangan Bungah dan mereka saling tatap. Mungkin lewat tatapan itu, mereka sedang berbicara dengan bahasa perempuan karena beberapa detik setelahnya, kulihat Elok mengangguk, begitupula Bungah.

"Kalian berdua bagaimana? Kalian tidak keberatan, bukan?" tanya Aji Ketut sambil menoleh ke arah kami bergantian.

Aku tidak menjawab, melainkan beradu pandang dengan Bungah. Ia mengangguk kecil, tapi mantap. Dan aku menangkap sinyal itu dengan tepat. Kami berdua siap dan tidak keberatan, tapi bagaimana dengan Elok? Tentu saja naluri keibuannya akan tetap melekat sejauh mana pun ia meninggalkan bayinya kepada kami.

Aku berdehem pelan, kemudian menyusun kata-kata di pikiran, sebelum akhirnya aku utarakan, "Kami berdua tidak keberatan, Tu Aji, tapi... lebih baik kita tanya Elok juga. Apakah ia bersedia anaknya kami adopsi? Karena bagaimana pun Elok tetap Ibunya."

"Tentu saja ia harus setuju!" kata Bibi Dyah yang sejak tadi diam. Suaranya menjadi yang paling nyaring hingga membuat beberapa dari kami terhenyak kaget, "bagaimana bisa ia tetap ingin merawat anak itu seorang diri? Ia masih harus meneruskan pendidikannya dan kalau anak itu terlantar, bagaimana? Elok! Sebagai orang tua tunggal anak itu seharusnya tahu apa yang harus diperbuat. Biarkan Raka dan Bungah yang mengadopsi anakmu."

"Bibi Dyah, sebaiknya kita dengarkan Elok bicara."

Aku tetap keukeuh pada pendapatku. Entah dari mana aku dapat keberanian untuk ngeyel begini. Tapi setelah bicara begitu, kulihat Bibi Dyah menatapku tajam, tapi entah kenapa aku tidak gentar.

Ia kelihatan jengah dan kembali duduk sambil mengempaskan dirinya ke sandaran sofa.

"Elok, bicaralah," ujar Aji Ketut setelah keadaan kembali tenang.

Elok mendongak sedikit dan memperhatikan sekitar, "Aku bukannya ingin membela Arya, tapi kami melakukannya secara sadar. Hanya saja ia tak mau bertanggung jawab, tetapi aku mau," ujarnya dengan suara yang bergetar dan parau.

Sebelum Elok melanjutkan ucapan, Ajinya sudah menyela, "Apa yang ada di pikiranmu sampai kau melakukannya? Ha?! Kau mau mengikatnya dengan anakmu supaya ia mau menikah nyentana? Supaya ia mau meninggalkan garis keturunan keluarganya dan pindah ke keluarga ini?! Begitu? Memangnya kau tidak melihat bahwa ia enggan melakukannya? Ia tidak berniat menikahimu sejak awal! Ia hanya bermain-main! Dan kau pun sama!" Suaranya menggelegar seperti halilintar yang sanggup menggetarkan dinding ruangan ini. Kami semua diam. Tak ada yang berani bersuara. Bahkan mengembuskan napas saja kami segan. Aku tidak berani menatap raut wajah Aji Wayan, tapi aku tahu bahwa ia menahan tangis karena suaranya parau dan tersendat, "perjuangan Ibu dan Aji untuk punya anak tidak mudah, Lok. Bertahun-tahun kami berjuang untuk bisa melahirkan kamu. Begitu kamu lahir, kami merasa kamu adalah anugerah. Maka kami membesarkanmu dengan was-was, tapi juga berusaha tidak mengekangmu sebagai anak tunggal. Sekarang... ini balasanmu pada kami? Menjadi orang yang memalukan di griya ini? Aji tidak mau tahu. Sekarang... entah bagaimana caranya... sekarang juga kau telepon si bangsat Arya itu. Kau telepon sekarang...."

Elok tidak langsung melakukannya. Wajahnya kelihatan jengah dan lelah sebab nomor Arya telah ia blokir. Ia sudah tahu bahwa lelaki itu tak akan mengangkat teleponnya.

"Sekarang! Kau tak punya telinga?!" Suara Aji Wayan kembali menggelegar hingga kami pun tercekat kaget di tempat duduk.

Dibantu dengan Bungah, Elok mencoba menghubungi Arya setelah membuka blokirannya sementara Aji Wayan luruh di tempat duduknya. Jarinya memijit pangkal hidung sambil mengatur napas yang tak beraturan.

Ia menekan kontak Arya, meneleponnya. Sengaja ia loud speaker dan menaruhnya di meja supaya kami semua mendengar apakah ia menjawab telepon itu atau tidak.

Panggilan pertama tidak terjawab. Kedua dan ketiga juga sama. Hanya ada suara operator di seberang sana yang sanggup membuat orang-orang di ruangan ini naik pitam: nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.

"Aku sendiri yang akan ke rumahnya." Aji Wayan tiba-tiba berdiri dan hendak keluar dari rumahnya sendiri untuk menghampiri Arya. Aku dan Aji Ketut serta beberapa ipar lainnya berusaha mencegah beliau, tapi tenanganya cukup kuat, kami beberapa kali sampai hampir jatuh karenanya. Tapi usaha kami terhenti ketika tubuh Aji Wayan membeku saat anaknya angkat bicara.

"Memangnya apa yang akan Aji lakukan pada Arya?" Suara Elok membuat Ajinya berbalik. Masih dengan tatapannya yang nyalang, "membunuhnya? Mengaraknya? Menyeretnya ke mari dan membuat satu desa menonton?"

Lihat selengkapnya