We Can Finally Call It Home

Ida Ayu Saraswati
Chapter #24

Chapter 24

Sebelum pindah ke Jakarta Pusat, aku dan Bungah berangkat lebih dulu untuk mencari apartemen yang cocok bagi kami berempat. Walau nanti kami akan tinggal di unit yang berbeda, kami mengusahakan berada di lantai yang sama, kalau bisa letaknya berseberangan atau bersebelahan supaya kami bisa memantau perkembangan Elok, dan kalau-kalau ia butuh bantuan, kami bisa langsung mengulurkan tangan, serta supaya Elok tidak merasa sendirian kalau hanya dibiarkan berdua dengan Bibi Dyah.

"Aku bisa membayangkan bagaimana griya tanpa Bibi Dyah," katanya ketika kami istirahat sejenak untuk makan siang di salah satu rumah makan sebelum lanjut mencari apartemen, "dia adalah orang yang paling hapal dengan hari-hari suci dan segala tetek-bengek sesajennya. Tapi apa boleh buat, untungnya Bibi Agung masih bisa diandalkan sehingga absennya Bibi Dyah masih bisa mereka atasi."

"Di griya lamaku pun sama. Para perempuan memangku tugas semacam itu, merekalah yang paling hapal rerahinan dan isi sesajennya. Tanpa mereka, kurasa griya pun tidak akan seimbang."

Ia mengangguk dan pesanan kami pun datang. Suasana makan siang selalu ramai. Kulihat beberapa karyawan datang untuk makan di sana atau dibungkus. Angin panas jalanan di depan sana untungnya bisa teredam oleh kipas angin besar yang dipasang di beberapa sudut untuk mencegah pelanggan kegerahan. Suara kendaraan bersahutan dengan suara lalu lalang karyawan rumah makan ini, juga suara-suara orang yang bicara di tengah kegiatan makan mereka. Tak ada aroma bunga dan dupa di sini. Masih merasa asing, sebab ini kali pertama aku menetap di kota lain selain Bali. Biasanya, aku hanya berkunjung selama beberapa hari untuk kepentingan riset kepenulisan, acara kepenulisan, atau sekadar travelling.

Orang bilang bahwa Ibu Kota itu keras. Hanya orang-orang tangguh yang bisa bertahan. Tapi kupikir Bali juga sama kerasnya, bahkan kota-kota lain di Indonesia punya standar kesulitannya masing-masing. Aku yakin di kota ini akan mengalami perubahan karakter. Sebab aku harus beradaptasi dengan cepat. Di sini bukanlah kampung halamanku. Orang tuaku jauh, sanak saudara juga sama. Tapi kurasa... memang ada harga yang harus dibayar untuk sesuatu yang besar.

Rasanya tidak masalah di mana pun kau hidup, selama seseorang yang jadi pasanganmu mau bekerja sama dalam rumah tangga ini, maka semuanya akan baik juga.

Aku tahu Bungah cukup berat meninggalkan griya karena ia harus berpisah dengan Ibu dan adiknya, tapi ia menolak memperlihatkannya di depanku. Mungkin ia juga menyadari bahwa inilah harga yang harus kami bayar.

"Bagaimana kalau... di tengah jalan nanti Elok nggak mau menyerahkan anaknya ke kita ya, Raka?"

Aku mendongak menatapnya dan tidak langsung menjawab. Aku tahu ketakutannya sebab aku punya ketakutan yang sama. Walaupun Elok secara langsung bilang bahwa anaknya boleh kami adopsi secara hukum dan adat, tapi jauh di lubuk hatinya, mungkin saja nanti keputusannya berubah. Dan aku tahu tidak mudah untuk menerima suatu perubahan, tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak jadi beban siapa pun. Aku seolah harus menyiapkan ruang untuk kecewa sejak sekarang. Dan hal itu sedang aku siapkan dengan terus mengingatkan diriku bahwa masih ada kemungkinan Elok berubah pikiran dan itu wajar belaka.

"Kalau Elok berubah pikiran, aku rasa itu wajar, Bungah," jawabku pada akhirnya. Kulihat Bungah mengangguk samar walaupun bahunya turun menjadi agak lesu, "dan tugas kita adalah menyiapkan ruang untuk perubahan itu tadi. Menyiapkan ruang untuk plot twist yang menunggu di depan sana. Masih ada solusi lain, Bungah, jadi... kita jalani dulu apa yang ada di sini. Urusan bagaimana akhirnya, toh kita akan hadapi berdua."

"Kamu benar," katanya sambil terkekeh kemudian mengangguk, "berarti aku memang nggak boleh terlalu berharap rencana ini akan berhasil, ya?"

"Aku nggak mau melarang kamu punya harapan, toh itu wajar karena alasanmu berharap mungkin saja karena keputusan Elok yang secara langsung bilang dia bersedia menyerahkan anaknya ke kita. Yang penting kamu tahu dan siap menerima konsekuensi dari berharap itu tadi. Mana bisa kita meramal masa depan? Yang terjadi besok saja kita nggak tahu."

Sebab bagiku, selama manusia masih hidup, di sanalah ia berdampingan dengan kepastian sekaligus ketidakpastian itu sendiri.

"Tapi kita sudah terlanjur bicara ke keluarga besar. Apa jadinya kalau nanti rencananya nggak sesuai kenyataan?"

"Nggak ada cari lain selain menerima konsekuensinya, kan? Baik di keluargamu atau keluargaku, kita akan hadapi berdua."

Bungah tersenyum ke arahku sambil mengangguk, "Ternyata angin Jakarta bikin kamu jadi banyak bicara ya. Bijak lagi."

Aku hanya menanggapinya dengan tawa yang samar.

....

Malam harinya di salah satu hotel tempat kami menginap selama mencari hunian di Jakarta Pusat, kami duduk saling berhadapan di atas kasur untuk mendiskusikan unit mana yang akan kami pilih dengan mempertimbangkan beberapa faktor.

"Sebenarnya, aku lebih suka yang terakhir tadi," kataku sambil menunjuk brosur apartemen yang kami survei paling akhir, "semua yang kita cari ada di sana. Harganya memang yang paling mahal, tapi sepadan sama kualitasnya. Fully furnished, nggak berisik, ada taman buat Elok dan kamu jalan-jalan, dekat juga sama rumah sakit besar ibu dan anak, terus unit kita dan unitnya Elok bersebarangan di lantai yang sama. Keamanannya juga bagus, Bungah. CCTV nyala semua, dan satpamnya juga patroli tiap jam-jam tertentu. Lantai kamar mandinya juga bukan pakai keramik yang licin. Unit-unit sebelumnya pakai keramik yang licin dan nggak ada handrailnya. Berbahaya buat Ibu hamil dan Bibi Dyah yang sudah lanjut usia."

Bungah tidak langsung menjawab. Ia malah mendongak dan menatapku lurus-lurus. Matanya yang hitam menatapku tanpa berkedip hingga membuatku agak bingung.

"Kamu detail banget ya. Aku bahkan nggak kepikiran sampai ke jenis lantai kamar mandi, lho," ujar Bungah sambil tersenyum. Tangannya menggenggam punggung tanganku dan mengelusnya pelan, "makasih ya. Kamu membantu banget dan bisa diandalkan. Aku senang karena nikahnya sama kamu, bukan orang lain."

Hubungan kami memang tidak secanggung dulu. Sudah banyak perubahan yang terjadi dan kami semakin akrab, tapi urusan kalimat-kalimat yang mengandung pujian seperti ini... aku masih saja kikuk untuk meresponnya dan lagi-lagi, Bungah selalu paham.

....

Setelah mengurus dokumen pindah dan membayar uang muka apartemen, kami menginap semalam lagi sebelum bertolak ke Bali dengan penerbangan pagi. Kami ada di Bali hanya selama lima hari untuk menyiapkan barang apa saja yang akan kami bawa dan menikmati momen-momen sebelum kepindahan.

Pagi itu sebelum taksi yang kami kendarai melaju menuju Bandara Ngurah Rai, Aji Wayan--yang tak lain adalah Ajinya Elok--menghampiriku. Ia merangkulku, membawaku agak menjauh dari halaman griya sementara Elok sudah menunggu taksi di depan gerbang bersama Bungah dan Bibi Dyah.

Ia menepukku pelan kemudian menyerahkan sebuah kartu ATM, "Tu Gus, selama Elok di Jakarta, pakailah kartu ini untuk membiayai hidupnya, jangan pakai uang pribadi kalian, sebab bagaimana pun ia tetaplah tanggung jawabku, ia tetaplah anakku sampai kapan pun, dan tolong kau jangan bilang pada Elok kalau aku membantunya sebab aku sudah terlanjur memperlihatkan kebencian pada anak itu. Rahasia ini antara kau dan aku saja. Kalau nanti biayanya kurang, jangan sungkan menghubungiku. Titip anakku, ya," ujarnya panjang lebar.

Aku sempat tertegun beberapa detik, tidak bisa langsung membalas ucapannya. Tanganku yang awalnya ragu menerima kartu ATM itu langsung ditarik oleh Aji Wayan. Benda itu langsung diletakkan di telapakku yang dingin, "Kalau butuh bantuan, kau jangan sungkan meneleponku. Jangan menanggung semuanya sendirian di sana. Kami juga keluargamu. Kau mengerti?"

Aku mengangguk kaku, "Matur suksma, Tu Aji."

Lihat selengkapnya