Aku tidak tahu dari mana Arya mendapat informasi tentang keberadaan kami di Jakarta, padahal aku yakin sepupu-sepupu di griya juga tidak akan membocorkan informasi tentang kepindahan Elok kepada orang luar, tapi yang terjadi sekarang adalah ia meneleponku setengah jam yang lalu untuk bertemu di salah satu kafe yang tak jauh dari kantor penerbitan tempatku bekerja.
Penampilannya kacau. Begitu kami bertemu, ia tidak mengajukan pertanyaan basa-basi untuk memulai pembicaraan, yang mana hal inilah yang aku syukuri. Ia langsung pada intinya.
"Raka, tolong pertemukan saya dengan Elok," ujarnya di awal pembicaraan. Nada bicaranya kedengaran seperti orang yang frustrasi, "saya mencintai Elok. Tapi tolong bantu saya membujuk keluarga besar supaya Elok bisa tinggal di griya saya ketika menikah nanti. Kami sama-sama anak tunggal. Harus ada yang mengalah. Saya nggak bisa menikah nyentana, jadi satu-satunya cara ya membawa Elok ke griya kami. Pernikahan ini akan dilaksanakan setelah bayinya lahir supaya tidak ada orang yang bergunjing. Bagaimana pun, kami harus menjaga nama baik dua keluarga besar, bukan?" Ia tersenyum kecil. Entah apa maksud senyumnya. Mungkin senyum itu berusaha meyakinkanku lewat perkataannya.
Aku tidak langsung menjawab karena aku tidak ingin ikut campur dalam masalah mereka berdua, tapi menghindar pun tidak bisa sebab sekarang aku adalah salah satu orang yang menjaga Elok di sini, di tempat yang jauh dari kampung halamannya. Kedatangan Arya entah kenapa mengaktifkan alarm kewaspadaanku sebab aku ingat bagaimana orang tua Elok berpesan supaya aku menjaga anaknya, keluarga pun sama, dan aku juga tahu bahwa keluarga besar sudah terlanjur tidak suka dengan Arya terutama Aji Wayan yang tidak akan merestui pernikahan mereka walaupun di mata Arya pernikahan itu adalah bentuk tanggung jawab.
Dan bagaimana pun, aku teringat oleh perkataan Elok beberapa minggu lalu. Di depanku dan Bungah, ia berkata, "Kalau nanti kalian dihubungi Arya, jangan diangkat atau diladeni. Jangan juga pertemukan aku dengan dia. Mungkin buat orang lain, Arya yang mau menikahiku adalah bentuk tanggung jawab, tapi aku nggak mau. Apa yang terjadi antara aku dan Arya sudah selesai, nggak usah diperpanjang lagi. Aku tahu aku buat salah karena terlena dan berhubungan badan dengannya, tapi aku mau bertanggung jawab, salah satunya dengan nggak menikah dengan Arya."
Aku tidak tahu alasan lebih dalam Elok memilih memutus hubungannya dengan Arya dan sangat menolak untuk bertemu dengan lelaki itu meskipun di mata orang lain ia datang dengan maksud untuk menikahinya sebagai salah satu bentuk tanggung jawab. Mungkin ada alasan yang lebih dalam dan kompleks di balik keengganan Elok berurusan lagi dengan lelaki itu, tapi kalau ia tidak bercerita, maka aku tidak berhak mengoreknya terlalu jauh. Cukuplah kami tahu sesuai porsi yang Elok ceritakan saja.
"Bagaimana Raka? Mau kan membantu saya?"
Aku melirik Arya dan membuang napas pelan lalu berkata, "Elok sudah bilang kalau dia nggak mau bertemu sama kamu, jadi saya nggak bisa bantu mau sekeras apapun usahamu. Arya, lebih baik sudahi urusanmu dengan Elok sampai sini saja. Elok sudah aman dan nyaman bersama kami."
Kulihat rahangnya mengeras dan meja tempat kami singgah dipukulnya pelan hingga kopi di dalam cangkirnya menggelegak kecil dan tumpah beberapa tetes.
"Kalau saya nggak menikah dengan Elok, saya akan dijodohkan dengan perempuan lain dan saya nggak suka! Apa susahnya membantu? Toh saya punya pekerjaan yang mapan, keluarga saya kaya!"
Sekonyong-konyong aku mengernyitkan dahi dan memincingkan mata mendengar kalimatnya. Kalimat yang keluar selanjutnya tidak bisa aku tahan lagi, aku mengeluarkannya dengan nada tinggi, "Kamu ini mau menikahi Elok karena memang siap menjadi suami dan ayah untuk anaknya kelak atau hanya menjadikannya tameng?!"
Kafe yang lengang dan hanya diisi dengan alunan musik jazz pada pengeras suara di sudut-sudut ruangannya seolah tak mampu meredam suaraku sehingga kini kami jadi pusat perhatian, tapi entah kenapa, beberapa pasang mata itu tidak membuatku terganggu. Sejenak aku bahkan menganggap mereka tidak ada di ruangan ini. Hanya aku dan Arya yang eksis, juga emosi kami.
Membuang napas pelan, aku berusaha menetralkan degub jantungku yang mendadak lebih cepat dari biasanya, "Dengar, Arya. Sampai kapanpun kamu nggak akan bisa menikah dengan Elok karena pernikahan itu sudah pasti ditentang oleh keluarganya. Pulanglah dan selesaikan urusanmu tanpa melibatkan Elok lagi. Jangan cari dia lagi."
Setelah mengatakannya, aku menuju kasir, membayar pesanan kami berdua, kemudian pergi. Kalau terlalu lama berhadapan dengan Arya, aku takut tidak bisa mengendalikan emosiku lebih lama dan kami malah akan berkelahi secara fisik.
Parkiran sore itu cukup lengang, tapi tidak dengan jalanan di depannya yang padat oleh kendaraan dan suara klakson yang bersahutan.
"Aku sudah tahu keadaanmu, Raka."
Sebuah suara berat dari belakang membuatku menghentikan langkah dan berbalik tepat saat tanganku hendak menyentuh gagang pintu mobil.
Di sana, Arya berdiri beberapa meter di hadapanku. Rupanya ia masih ingin memperpanjang urusan yang seharusnya sudah selesai dengan damai. Ia berkacak pinggang dan melanjutkan, "Kamu mandul."
Ia berkata begitu dengan percaya diri. Kondisi biologisku yang kompleks disingkatnya menjadi satu kata: mandul. Tapi tidak masalah. Sebab aku sudah tidak peduli apa anggapan orang tentang kondisiku. Mau mereka meyakininya sebagai variasi normal dalam biologi, mau mereka menganggapnya aneh, kutukan, kemandulan, atau sesuatu yang kompleks, aku tidak peduli. Persepsi mereka terhadap kondisiku adalah milik mereka, keyakinan mereka.
"Kamu tidak bisa memberi keturunan pada Bungah, tapi entah kenapa ia memilih menikah denganmu dan pernikahan kalian direstui keluarga besar. Pasti ada negosiasi besar di balik itu semua, kan?" katanya melanjutkan dan mengakhiri kalimatnya dengan senyum kemenangan, "dan untuk memperkuat posisi Bungah di griya warisan Ajinya, tidak cukup hanya dengan menikah. Kalian harus punya momongan. Dan kehamilan Elok pastilah menguntungkan kalian. Siapa yang mau membesarkan bayi tanpa ayah di lingkungan griya? Elok pasti tidak akan sanggup menanggung gunjingan sendirian. Kalian menganggap bayiku sebagai aib, tapi kalian sendiri membutuhkannya!"
Kulihat ia terkekeh pelan. Embusan angin Jakarta menerbangkan beberapa helai rambutnya yang sudah panjang sehingga wajah Arya kini tak bisa aku lihat dengan jelas. Seolah belum puas, ia kembali bilang, "Katakan, Raka. Apa bedanya aku dan kamu? Bukannya ini cuma tentang taktik bertahan hidup? Apa yang aku lakukan tidak akan jauh beda dengan yang kamu lakukan. Jangan merasa paling benar. Kalian cuma sok suci dan sok peduli pada Elok!" Telunjuknya beberapa kali menunjuk wajahku. Kulihat matanya nyalang dan agak merah. Napasnya tidak beraturan dengan dada yang naik turun.
Setelah dirasa semua emosinya sudah diutarakan, aku membuang napas pelan dan bergerak maju beberapa langkah sampai jarak kami cukup dekat supaya orang lain tidak mendengar apa yang akan aku utarakan.
"Saya nggak peduli kalau kamu mau menghina kondisi saya, dan soal negosiasi apa yang terjadi antara saya, Bungah, dan keluarga besar sebelum pernikahan kami berlangsung, kamu nggak perlu tahu karena kamu orang luar griya. Bahkan kalau kamu jadi anggota keluarga kami, kamu juga nggak berhak tahu, jadi silakan berasumsi dengan liar soal itu," kataku sambil memandang matanya lekat-lekat, "memang kami akan mengadopsi anaknya Elok, tapi dengan catatan dia sendiri yang menyerahkannya tanpa paksaan. Kalau dia menolak, kami tidak memaksa. Apa yang kami lakukan untuknya sekarang adalah bentuk perlindungan, tapi kalau kamu menganggapnya lain, terserah. Dan satu lagi, kami nggak pernah menganggap bayinya Elok sebagai aib. Kamu sendiri yang bilang begitu."