Tepat jam 12 malam, Bibi Dyah menelepon kami untuk segera bersiap karena air ketuban Elok sudah pecah. Beruntung semua barang yang akan kami bawa untuk persalinan sudah disiapkan jauh-jauh hari sehingga begitu kami tiba, kami tidak membuang waktu dan langsung membawa Elok ke rumah sakit terdekat.
Jakarta seolah tidak pernah tidur, tapi perjalanan tengah malam sambil mendengar dua perempuan mencoba menenangkan Elok yang mengerang kesakitan di kursi penumpang membuat jalanan yang relatif lengang itu terasa sangat panjang. Tanganku bahkan sudah dingin dan berkeringat. Pandanganku fokus ke depan dan sesekali melihat kaca tengah untuk memeriksa keadaan di belakang sana. Jantungku sudah tidak seperti genderang perang yang ditabuh, tapi seperti ada ratusan kuda yang menginjak-injaknya bersamaan.
Begitu sampai di lobi rumah sakit, aku langsung turun untuk memanggil perawat atau dokter siapa saja yang aku temui. Mereka langsung membawakan kursi roda dan menuntun Elok ke ruang bersalin bersama Bibi Dyah dan Bungah yang menemani sementara aku mengurus bagian administrasi termasuk mengkonfirmasi bahwa stok kantong darah O rhesus negatif di bank darah rumah sakit sudah aku siapkan jauh-jauh minggu untuk Elok–berjaga-jaga kalau ia mengalami pendarahan karena menurut dokter kandungan yang menangani Elok sewaktu memeriksakan kandungannya, melahirkan normal punya risiko pendarahan lebih tinggi.
Kulihat Bibi Dyah keluar dari ruang bersalin kemudian berkata, “Istrimu yang mendampingi. Sekarang Elok sudah siap melakukan persalinan karena jalan keluar bayinya sudah terbuka. Semoga saja lancar karena ini relatif cepat dibandingkan menantuku dulu.”
“Kau tidak menelepon Ajinya Elok untuk memberitahunya?” tanya Bibi Dyah.
“Situasinya masih genting, Bi. Nanti saja kalau Elok sudah selesai bersalin.”
Bibi Dyah mendengus keras kemudian sambil menguap ia duduk bersandar tepat di depan ruang bersalin. Samar-samar dari dalam sana, aku bisa mendengar dokter memberi instruksi pada Elok untuk menarik napas dan mengejan. Refleks aku memejamkan mata kuat-kuat dan menutup telinga karena tidak tega mendengar suaranya. Aku tidak mau menghitung berapa kali Elok mengejan, tapi setelah sekian menit, aku bisa mendengar suara tangisan bayi yang nyaring yang turut membuat petugas medis di dalam sana mengucap syukur, sementara aku dan Bibi Dyah saling tatap dengan wajah yang sumringah.
Seorang perawat tiba-tiba keluar dari ruang bersalin dan mencuri atensi kami sepenuhnya. Dengan napas terengah ia berkata, “Keluarga Elok?” tanyanya dan aku serta Bibi Dyah maju bersamaan sambil mengangguk, “saat ini pasien mengalami pendarahan hebat akibat sisa plasenta, tensinya drop, dan dokter akan melakukan tindakan sekarang juga. Saya akan telepon Bank Darah Rumah Sakit untuk–”
“Suster, dua minggu lalu dokter kandungan Elok sudah menyetujui prosedur titip darah. Sekarang sudah ada empat kantong darah O rhesus negatif atas nama Ida Ayu Elok Pradnya Dewi di Bank Darah Rumah Sakit lantai dua, Sus. Ah, ya, berkas verifikasinya sudah saya selesaikan di meja administrasi tadi.” Aku menyodorkan secarik kertas slip merah dari dompet yang langsung diterima oleh si perawat.
“Kalau begitu saya akan langsung hubungi kurir internal rumah sakit.”
“Suster, apapun yang terjadi tolong selamatkan juga Ibunya.”
Perawat tadi mengangguk singkat dan kembali ke ruangan bersalin. Samar-samar aku bisa mendengar suaranya.
“Halo, Bank Darah lantai dua? Ini ruang bersalin lima! Maternal emergency! Pasien atas nama Ida Ayu Elok Pradnya Dewi mengalami pendarahan pascapersalinan, tensi drop delapan puluh per lima puluh! Siapkan empat kantong darah O rhesus negatif titipan di lemari pendingin nomor tiga. Kirim sekarang! Saya ulangi, kirim sekarang menggunakan cool box darurat! Ruang bersalin lima!”
Tiga menit waktu berlalu sejak interkom ruang bersalin lima terputus, tapi koridor masih sepi. Bibi Dyah sudah mencak-mencak di tempatnya berdiri, mengomel pelan karena seseorang yang ditugaskan untuk membawa kantong-kantong darah itu lama sampainya. Melihatnya panik, aku pun ikut panik. Kakiku mondar-mandir gelisah di depan ruang bersalin sambil berulang kali menatap pintu lift di ujung koridor–berharap bahwa kurir internal yang diutus akan segera muncul dari sana, tapi dugaanku salah. Suara langkah kaki yang berlari-lari beradu dengan embusan napas yang menghentak-hentak keheningan itu berasal dari sudut lain di muka pintu tangga darurat. Rupanya ia berlari dari lantai dua ke lantai lima menggunakan tangga darurat. Di tangannya tergenggam erat sebuah cool box warna biru berlogo PMI.
Lelaki dengan seragam hijau dan napas yang terengah itu setengah berteriak dengan suaranya yang serak, “Ruang bersalin lima?”
“Di sini!”
Aku mengangkat tangan dan ia pun memacu lebih cepat langkah kakinya menuju ruang bersalin lima. Suara lantai rumah sakit beradu dengan sepatu karetnya dan memantul ke dinding-dinding memecah keheningan dan ketegangan kami.
Begitu sampai di ambang pintu bersalin lima, ia tidak sempat mengerem. Tubuhnya menghantam pintu otomatis bersamaan tangannya yang menekan tombol touch-pad pembuka pintu.
“Darah O negatif untuk saudari Elok!”
Seorang perawat yang kulihat samar-samar dari pintu buram itu langsung menyambar cool box yang dibawa oleh lelaki tadi. Pintu kembali terbuka dan sang kurir langsung terduduk lemas dengan napas pendek-pendek serta tangan dan kakinya bergetar.
Aku menghampirinya dengan segan kemudian menepuk pundaknya yang basah oleh keringat, “Terima kasih, Mas.”
Ia menggeleng pelan sembari mengacungkan jari jempol.
“Mas, mau saya carikan air minum dulu?”
Ia menggeleng pelan kemudian terbatuk-batuk, tapi aku tidak memedulikannya. Aku berlari ke kantin terdekat untuk membeli air mineral dan beberapa roti dan kembali lagi ke lantai lima–masih menemukannya terduduk di lantai sambil bersandar ke dinding, tapi napasnya sudah sedikit lebih tenang dibanding beberapa menit yang lalu.
“Ini Mas, dibawa ke ruangannya saja kalau nggak bisa dimakan di sini,” kataku sambil menyodorkan kantong kresek ke arahnya.
Ia mendongak dan bilang, “Makasih, makasih. Wah, perjuangan banget memang, tapi syukurlah… syukurlah saya nggak terlambat.”
Kemudian ia bangkit dan pamit pada kami berdua. Langkah kakinya masih gontai, tapi setidaknya ia kembali ke ruangan dengan perasaan lega. Kulihat ia meneguk air mineralnya ketika masuk ke lift lantai lima yang langsung membawanya turun ke lantai dua.
Pintu ruang bersalin lima kembali terbuka dan aku langsung berbalik untuk menemukan Bungah yang tampak lelah dan sembab wajahnya. Tangan dan kakinya gemetar lumayan hebat, maka ketika pintu itu tertutup, ia langsung jatuh dalam pelukku.
"D-darahnya... d-darahnya banyak banget, Raka. Aku takut...." Ia berujar dengan suara parau yang tertahan karena isak tangis. Bungah menyembunyikan wajahnya dalam pelukanku dan aku tidak bisa langsung menjawab selain mengeratkan pelukan.
"Elok sudah ditangani, Bungah. Kita percayakan prosesnya pada mereka."
Beberapa jam setelahnya, kami bertiga menunggu di kursi panjang yang disediakan tidak jauh dari ruang bersalin. Bibi Dyah terkantuk-kantuk, tapi jelas sekali mulutnya merapal mantra-mantra supaya Elok selamat dan operasinya berjalan lancar, sementara Bungah sedikit tertidur di pelukanku, dan aku tidak bisa tidur karena mataku seolah diberi isolasi untuk terjaga sepanjang malam. Aku tidak bisa tidur dalam keadaan yang masih genting begini.
Entah sudah berapa jam tim dokter melakukan operasi pada Elok, tapi begitu pintu ruangan bersalin terbuka, kami bertiga refleks berdiri dengan aku yang menahan Bungah ketika tubuhnya agak oleng.
"Keluarga saudari Elok?" tanya dokter yang memimpin persalinan tadi.
"Ya, dokter. Kami keluarganya Elok. Bagaimana keadaan cucu saya? Elok apakah sudah boleh dijenguk?" tanya Bibi Dyah.
"Bayinya lahir dengan selamat, tapi tetap akan kami pantau selama satu jam sampai satu hari di ruangan khusus bayi, sementara Ibunya... operasinya berjalan lancar. Saat ini belum boleh dijenguk ya, harus tunggu beberapa jam dulu. Sebentar lagi Ibu Elok akan dipindahkan ke ruang recovery dan dipantau selama tiga jam. Kalau lewat tiga jam itu keadaannya sudah membaik, maka boleh dipindahkan ke ruang rawat inap biasa."
"Terima kasih, dokter. Terima kasih banyak."
"Kalau begitu, kami pamit dulu."
Kami mengangguk sambil membungkuk sedikit beberapa kali. Sepersekian menit kemudian, brankar dimana Elok masih tertidur dengan pulas dikeluarkan dari ruang bersalin untuk dipindahkan ke ruang recovery.
"Selama ada di ruang recovery, Ibu Elok tidak boleh dijenguk dulu ya. Tapi tenang saja, kami akan pantau terus keadaannya. Kami permisi dulu."
Lagi-lagi kami hanya mengangguk patuh. Ketika Bibi Dyah dan Bungah menunggu di ruang tunggu yang tidak jauh dari ruang recovery, saat itulah ponselku berdering panjang. Nama "Aji Wayan" tertera di sana.
Aku mengernyitkan dahi kemudian melirik Bibi Dyah yang sudah memejamkan mata dalam keadaan duduk. Kemungkinan besar ialah yang memberi tahu Aji Wayan kalau Elok sudah melahirkan. Membuang napas pelan, aku mengangkat teleponnya. Apa boleh buat? Beruntunglah keadaan genting ini sudah berlalu.
"Halo, Raka! Kata Bibi Dyah anakku sudah melahirkan? Kenapa kamu tidak memberiku kabar?!"