We Can Finally Call It Home

Ida Ayu Saraswati
Chapter #27

Chapter 27

Sticky notes warna-warni mulai memenuhi dinding dapur kami. Kami mencatat apa saja tentang parenting atau cara memahami tangisan bayi. Kamar kami yang biasanya hanya berisi satu tempat tidur, kini di pojok ruangannya tersedia boks bayi untuk Arka. Setelah kembali dari rumah sakit, Elok kadang hanya datang ke unit kami untuk menyusui dan membantu Bungah mengurus Arka, kemudian ia kembali ke unitnya sendiri, entah menahan diri supaya tidak terlalu dekat dengan bayinya supaya perpisahannya nanti lebih mudah atau bagaimana, tapi boleh jadi alasannya memang begitu.

Sempat terjadi perdebatan kecil tentang gaya kami nengurus Arka dengan bagaimana Bibi Dyah menginginkan Arka diurus.

Bibi Dyah protes--mengatakan bahwa kami adalah orang tua yang tega dan terlalu keras pada si bayi lantaran membiarkannya tidur sendirian di boks bayi alih-alih tidur di tempat kasur yang sama dengan orang tuanya. Walaupun kami sudah menjelaskannya dengan baik, Bibi Dyah tetap pada keyakinannya.

Suatu pagi ketika aku bersiap berangkat kerja, Bibi Dyah masuk ke unit kami hanya untuk mengomel.

"Semalaman suntuk aku mendengar bayi kalian menangis dan kalian tidak menggendongnya supaya dia berhenti? Kalian sebenarnya bisa atau tidak jadi orang tua? Begini kah cara orang zaman sekarang merawat bayi mereka? Tega sekali kalian! Memangnya kalian tidak kasihan?"

Kulihat Bungah mendengus pelan kemudian menutup pintu kamar kami karena Arka memang masih tidur, “Semalam sudah kami pastikan Arka tidak lapar dan haus, popoknya bersih, tidak demam, dan kami ada di samping boksnya. Kami tidak membiarkannya menangis tanpa pengawasan, Bi. Tapi kami melatihnya supaya bisa ditenangkan tanpa harus selalu digendong berjam-jam.”

"Kalian menyebut cara yang seperti itu sebagai bagian dari mengasuh anak? Zaman sekarang memang sudah berubah. Sudah semakin gila! Aku tak mengerti lagi!"

"Terserah Bibi mau bicara apa, yang jelas kami melakukan ini untuk kebaikan Arka. Setiap orang tua yang bertanggung jawab, entah orang tua kandung atau angkat, pasti mau yang terbaik untuk anaknya."

Pagi itu Bibi Dyah pulang ke unitnya sendiri sambil ngomel-ngomel. Boleh jadi ia merasa kalah sebab tidak ada yang membela argumennya. Paling tidak kalau di griya, ia merasa lebih leluasa karena berada di wilayahnya sendiri, wilayah yang familiar, yang sudah ia tinggali selama puluhan tahun. Di sini, ia sendirian.

....

Beberapa hari sebelum keberangkatan Elok ke Australia, aku sudah mendiskusikan dengan Bungah untuk segera memberitahunya soal kartu ATM Aji Wayan yang diberikan pada kami untuk memenuhi kebutuhan Elok selama di Jakarta. Maka Sabtu pagi ini setelah sarapan dan mengurus Arka, Bungah meminta Elok berkunjung ke apartemen kami karena ada yang ingin dibicarakan.

Aku mengeluarkan kartu ATM warna biru dari saku celana training kemudian menyodorkannya ke meja kaca ruang tamu kami. Elok memandangku dengan bingung, dan ia menoleh ke arah Bungah dengan tatapan yang sama.

"Elok, ini kartu ATM yang dikasih sama Aji Wayan sebelum kita semua pindah ke Jakarta," kataku sengaja tidak menatap matanya dan hanya menatap meja kaca sebab aku tidak bisa melihat perubahan ekspresinya. Perubahan ekspresi seseorang boleh jadi membuatku tidak ingin melanjutkan perkataan, "Aji Wayan diam-diam memberikannya padaku dan menyuruhku menggunakannya untuk semua kebutuhanmu selama di sini. Katanya, sampai kapan pun kamu tetap tanggung jawab orang tuamu. Aji Wayan sengaja menyuruhku untuk nggak memberitahu kamu soal ini karena... dia sudah terlanjur menunjukkan kebenciannya ke kamu waktu itu, sehingga... boleh jadi... kebaikannya kelihatan munafik. Daripada bantuannya ditolak sama sekali, lebih baik aku diam dulu dan baru bilang sekarang."

Saat inilah aku baru berani mendongak dan benar saja. Ekspresi Elok langsung berubah. Matanya berkaca-kaca dengan napas yang naik turun. Tangannya mengepal di pangkuan.

"Aku nggak tahu menurutmu tindakanku menerima bantuan Aji Wayan salah atau benar, tapi aku memutuskan untuk menerima karena aku nggak mau mengecewakan dia sebagai ayah," Aku melanjutkan kemudian melirik Bungah yang mengangguk sambil tersenyum, seolah bilang bahwa aku boleh meneruskan perkataanku dengan aman, "kalau memang tindakanku salah, aku minta maaf, Elok."

Aku mengakhirinya dengan satu tarikan napas. Satu detik, dua detik, sepuluh detik. Kami bertiga masih saling diam, memberi waktu pada Elok memproses semuanya.

Kudengar Bungah menggeser posisi duduknya sehingga bisa lebih dekat untuk memeluk Elok yang sekarang sedang terisak pelan. Lama-lama isakannya berubah menjadi tangisan yang pilu. Seolah Elok pun menahan semuanya sendiri selama ini.

"Kalau aku telepon mereka... mereka tetap mengangkatnya?" Ia bertanya begitu setelah tangisannya sedikit mereda.

Aku mengangguk dan bilang, "Orang tuamu sendiri bilang kalau nanti kamu nggak mengabari mereka, maka kamilah yang harus memberi kabar. Artinya, mereka menunggu kamu memberi kabar, Lok. Aku yakin mereka akan lebih senang kalau anaknya sendiri yang melakukannya."

Hari itu juga Elok langsung menelepon orang tuanya. Mereka bercakap-cakap cukup lama. Sebelum pulang ke unitnya, Elok memandang kami berdua kemudian tersenyum dan memeluk kami. Aku agak kaget, begitu pula dengan Bungah. Elok bilang, "Makasih ya. Kalian berdua seperti kakakku sendiri. Selama ini aku pengin sosok kakak, dan siapa sangka aku dapat dari kalian berdua."

"Di sana kamu harus kasih kabar terus ya, Elok," kata Bungah sambil mengusap air matanya. Kulihat bibirnya bergetar menahan tangis, "karena sampai kapan pun kamu tetap keluarga kami. Dan kalau kamu memang mau pulang ke griya, pulanglah. Aku tahu selama kita bertumbuh di sana, griya memang bukan tempat yang menyenangkan, tapi ketika kamu punya satu orang yang mengerti kamu... rasanya semua kesulitan itu bisa teratasi sedikit."

Elok mengangguk-angguk. Bungah maju untuk mengusap air matanya. Setelahnya, baru Elok kembali ke unitnya sendiri. Wajahnya masih kelihatan seperti orang yang ingin menangis, boleh jadi karena beberapa hari lagi ia tidak lagi bisa memeluk Arka. Ia hanya bisa memberi penghidupan dari kantong-kantong persediaan ASI yang ia perah sendiri untuk kemudian kami simpan di breast freezer.

Bagaimana pun, sosok Ibu yang betulan Ibu tetap akan mengusahakan apapun untuk memberi setengah kehidupannya pada sang anak.

....

Keberangkatan Elok tiga hari yang lalu menyisakan ruang kosong yang kentara. Aku dan Bungah sempat khawatir kalau Arka tidak mau minum ASI dari botol walau kami sudah melatihnya, kami juga takut ia rindu aroma ibu kandungnya lalu menangis tiada henti, tapi untunglah ia seolah mengerti. Ia hanya menangis ketika lapar atau haus atau popoknya sudah penuh. Selebihnya, ia bayi yang suka tidur dan pendiam, tapi tetap tertawa riang ketika seseorang datang ke boks bayinya untuk mengajaknya bicara.

Sementara itu, Bibi Dyah baru pulang ke Bali setelah memastikan proses persidangan pengangkatan Arka sebagai anak kami sudah selesai tanpa kurang suatu apapun. Sebelum persidangan dimulai, Bungah sempat mengutarakan kekhawatirannya tentang Arya padaku.

“Raka, kamu yakin Arya nggak akan muncul di persidangan untuk menuntut hak asuh anak?”

Setelah memastikan semua berkas pengadilan telah kami masukkan ke tas khusus, aku menatap Bungah sambil menyentuh kedua bahunya. Kami berdiri berhadapan saat itu, “Nggak akan, Bungah. Arya itu jaksa yang terikat oleh kode etik, lagipula dia memang nggak punya legal standing atas Arka. Dia nggak menikahi Elok apalagi membiayainya. Kalau dia nekat menganggu proses persidangan, dia sendiri sedang mempertaruhkan karir dan lisensi jaksanya. Keputusan Arya untuk nggak muncul lagi setelah perdebatan kami waktu itu… adalah keputusan terbaik yang dia lakukan untuk Arka.”

Proses hukum di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat berjalan lancar. Kami menjawab semua pertanyaan hakim dengan mantap dan kompak. Saat itu, dalam diriku tidak ada lagi keraguan. Di hadapan Majelis Hakim, aku seolah ingin membuktikan bahwa aku layak menjadi seorang ayah. Sidang berjalan tanpa kehadiran Elok. Kehadirannya hanya diwakilkan oleh surat kuasa dari notaris dan kuasa hukum yang ia urus sebelum keberangkatannya ke Sydney. Majelis Hakim sempat meminta kesaksiannya secara online melalui panggilan video resmi pengadilan, dan semuanya berjalan lancar.

Lihat selengkapnya