We Were Never Really Over

Desy Cichika
Chapter #2

Dia Mantan Suamiku

Nazharina membeku. Kata-kata itu menohok lebih tajam dari yang bisa ia bayangkan.

Pemilik?

Bukan sekadar GM?

Dan tiba-tiba, semuanya terasa masuk akal—panggilan kerja yang mendadak, promosi terlalu cepat, semua jalannya yang terlalu mulus. Itu semua... karena Arian?

Tangannya tanpa sadar mencengkeram dada yang tiba-tiba terasa menyempit—antara ingin berteriak dan menertawakan kebodohannya sendiri.

Lalu sebuah suara ringan memecah ketegangan.

“Arian, tatapan lo kayak gitu bisa bikin orang pingsan, tau,” celetuk Maxime dengan senyum seenaknya.

Nazharina terkejut, menoleh sekilas. Pria itu berdiri santai di sisi Arian, posturnya tinggi, sikapnya santai tapi matanya tajam. Aura “usil tapi charming” jelas terpancar.

Arian melirik Maxime, namun pria itu hanya terkekeh.

Tapi Nazharina... ia tahu. Hidupnya baru saja berubah.

Bukankah posisinya saat ini masih sebagai sekretaris pribadi GM?

Yang berarti...

Ia akan menjadi sekretaris pribadi Arian dan akan bekerja langsung di bawah mantan suaminya itu.

Setiap hari. Satu ruangan. Satu lingkungan kerja.

Apa dunia sedang bercanda?

***

Nazharina menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu. Ruangan itu masih sama seperti yang ia ingat—rapi, minimalis, terlalu cozy. Bedanya kini, pria yang duduk di balik meja itu adalah Arian, sosok yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Arian sedang sibuk meneliti berkas di tangan, lalu mengangkat kepala ketika mendengar langkah mendekat. Kemeja putih dan dasi hitam membingkai posturnya dengan sempurna. Tatapan itu singkat, tapi cukup lama untuk membuat jantung Nazharina berubah ritme.

Nazharina memasang wajah datar, menutupi rasa gugup. Ini pekerjaan, ia mengingatkan dirinya. Ia tidak boleh goyah hanya karena pria itu kini jadi atasannya. Arian bukan lagi suaminya, melainkan masa lalu yang telah ia kubur.

Namun, Arian tetaplah Arian—tenang, formal, tapi terlalu dalam untuk diabaikan.

Ingatannya langsung melompat ke lobi pagi tadi, saat Peter dari HRD memperkenalkan mereka di depan staf.

“Pak Arian, perkenalkan... ini Mbak Nazharina, sekretaris pribadi dari GM sebelumnya.”

Arian tidak berkata apa-apa. Hanya menatapnya, lurus, tanpa berkedip. Tatapan itu sama sekali tidak memberi celah untuk lari.

“Silakan bersalaman,” kata Peter setengah berbisik pada Nazharina. Seolah mengingatkan sebuah attitude antara bawahan pada atasannya.

Tentu saja Peter tidak tahu. Tidak ada yang tahu bahwa pria di hadapannya ini adalah mantan suaminya.

Tangannya tetap berada di samping tubuh. Ragu. Seketika, kenangan lain melintas di benaknya.Hari ketika ia berusia dua belas tahun—ketika pertama kali bertemu Arian setelah diadopsi oleh Erina dan Marco. Atau momen saat ia berpamitan, meninggalkan rumah megah itu setelah perceraian mereka diputuskan secara resmi.

Arian tak pernah mau menjabat tangannya.

Dan kini, di hadapan begitu banyak mata yang memperhatikan, Nazharina sadar... ia tidak punya pilihan lain.

Perlahan, jemarinya terangkat. Ragu, nyaris menggigil.

Dengan hati yang sudah lebih dulu dipenuhi kepastian bahwa Arian tak akan membalasnya, ia akhirnya mengulurkan tangan.

Namun, yang terjadi berikutnya membuat Nazharina terkejut.

Lihat selengkapnya