We Were Never Really Over

Desy Cichika
Chapter #22

Malam yang Tertunda Sepuluh Tahun

Langit malam menggantung gelap, namun terasa hangat. Lampu-lampu di halaman rumah Arian menyala lembut, memantulkan cahaya kekuningan yang menenangkan dari balik pepohonan.

Begitu mobil berhenti di pelataran, Pak Surya membukakan pintu, dan Nazharina melangkah turun. Angin malam menyapa gaunnya yang sederhana namun terlihat anggun.

Pintu utama terbuka sebelum ia sempat mengetuk.

Mbak Raras berdiri di sana dengan senyum lebar sehangat pelukan lama. “Ya ampun, Non Nazharina…” suaranya terdengar haru sekali. “Saya pikir saya cuma bermimpi.”

Nazharina tertawa kecil dan langsung memeluk Mbak Raras. “Aku kangen, Mbak… kangen Mbak Raras, kangen masakan Mbak juga.”

Tawa pelan menyambut dari belakang. Dua wajah akrab muncul—Anindita dan Lidya, tim dapur muda yang dulu selalu menemani Nazharina menyiapkan sarapan atau sekadar mengobrol kala malam terasa sunyi.

“Anin… Lidya… kalian masih di sini,” kata Nazharina, matanya berbinar.

“Kami nggak pernah ke mana-mana, Non. Rasanya kayak balik ke masa lalu lagi,” jawab Anindita sambil menyambut pelukannya.

Lidya pun mengangguk semangat. “Akhirnya rumah ini punya 'cahaya' lagi. Seneng banget liat Non dateng malem ini.”

Nazharina menatap sekeliling. Interior rumah tak banyak berubah, hanya terasa sedikit lebih tenang. Begitu ia masuk, suara langkahnya bergema lembut di lantai marmer.

Dari ujung tangga, Arian muncul. Mengenakan kemeja gelap dengan lengan digulung hingga siku. Wajah tampannya terlihat tenang, namun ia tak bisa menyembunyikan senyum yang sedikit malu-malu. “Kamu dateng juga.”

Nazharina membalas tatapannya, penuh arti. “Kan aku bilang, aku kangen masakan Mbak Raras?”

Makan malam berlangsung hangat. Sup krim jamur, dada ayam panggang saus rosemary, kentang tumbuk yang lembut... semua aromanya seperti membawa mereka kembali ke kenangan lama.

Percakapan mereka mengalir lancar tentang masa lalu, termasuk momen konyol saat Arian diam-diam belajar memotong sayuran hanya supaya bisa berdekatan dengan Nazharina di dapur.

Setelah makan selesai, Mbak Raras dan yang lain pamit, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang... berbeda. Tak lagi sunyi yang menyesakkan, tapi tenang yang saling mengerti.

Lihat selengkapnya