Cahaya di dalam kamar itu masih temaram, sementara tirai yang tertutup rapat memisahkan mereka dari kebisingan kota yang mulai terlelap.
Nazharina berbaring membelakangi Arian, membiarkan rambut hitamnya terurai berantakan di atas bantal. Selimut hanya menutupi sebagian tubuhnya yang masih berusaha menetralkan sensasi luar biasa yang baru saja ia alami.
Arian mengangkat tangannya, lalu menyentuh tulang belikat Nazharina dengan ujung jari. Hanya sentuhan ringan, seolah ia sedang memastikan bahwa wanita di depannya bukanlah sebuah ilusi yang akan menguap saat disentuh.
"Masih hidup, kan?" bisik Arian, suaranya parau dan dalam.
Nazharina menghela napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa kosong. "Gila... kupikir aku bakal mati barusan."
Arian tertawa lirih, sebuah suara yang terdengar sangat tulus di telinga Nazharina. Ia memajukan tubuhnya, lalu mendaratkan kecupan singkat di punggung istrinya. "Maaf ya... aku tadi sempet panik pas kamu tiba-tiba diem."
"Ya aku juga panik lah... kamunya ngomong terus."
Tawa mereka pecah bersamaan—kecil, sedikit canggung, tapi penuh dengan kehangatan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Seperti dua remaja yang baru saja melakukan kenakalan pertama mereka.
"Aku nggak nyangka... ternyata bisa sampai seintens itu," aku Arian jujur, masih takjub dengan reaksi tubuhnya sendiri. "Rasanya kayak bukan aku. Ada sisi lain yang tiba-tiba ambil alih."
"Insting primitif maksudnya?"
"Mungkin lebih ke... keputusasaan yang udah aku tahan bertahun-tahun." Arian menatap punggung Nazharina dengan tatapan yang sangat dalam. "Dan ternyata... kamu bisa bertahan juga ya."
Nazharina berguling perlahan hingga mereka kini saling berhadapan. Matanya terlihat sayu, namun ada senyum tipis di bibirnya. "Empat kali gagal... ya nggak buruk-buruk amat lah buat percobaan pertama."
Arian mendadak salah tingkah dan menundukkan wajahnya. "Habisnya... aku terlalu semangat."
Nazharina mengulurkan tangan, mengelus pipi Arian dengan lembut. "Tapi kamu manis banget tahu. Bahkan pas lagi panik dan hampir nyerah gitu."
"Aku tadi sempet mikir kalau ini nggak bakal berhasil. Takutnya kamu bakal anggep aku payah, terus kamu pergi lagi."
"Aku emang bakal pergi kok," Nazharina menahan tawa saat melihat wajah Arian yang langsung tegang. "Kalau aja kamu nggak nyium aku di bagian yang... yah, kamu tahu lah."
Arian langsung menutupi wajahnya dengan bantal. "Astaga, plis... jangan diingat-ingat bagian itu."