Kinoshita terdiam mematung, matanya menyempit penuh curiga. “Dia… ngambil cuti?”
“Ya,” jawab Arian singkat, seolah ingin segera mengakhiri pembicaraan. “Atas permintaan pribadi.”
Tiba-tiba dari arah belakang, Maxime muncul sembari membawa map. Setelan navy-nya tampak rapi dan berkelas seperti biasa.
“Cuti seminggu?” ia mengulang kalimat itu dengan alis terangkat tinggi sembari melangkah mendekat. “Sejak kapan lo jadi staf HR, Yan?”
Arian melirik Maxime, wajahnya tampak kaku karena sedang mati-matian menahan senyum. “Udah gue atur langsung. Nggak usah khawatir, semua tugasnya gue delegasikan ke tim.”
Maxime terdiam sejenak, menatap sahabatnya itu dengan tatapan menyelidik sebelum akhirnya menoleh ke arah Kinoshita.
“Lo nggak penasaran apa, kenapa Nazharina bisa-bisanya ‘ngilang’ di minggu yang justru lagi sibuk-sibuknya gini?”
Kinoshita langsung tersentak. “Itu dia yang dari tadi saya mau tanyain!”
Arian mengembuskan napas panjang, lalu melangkah menuju lift. “Nazharina lagi… istirahat. Dia butuh waktu.”
Maxime tak mau kalah, ia segera mengekor di belakang Arian, meninggalkan Kinoshita yang masih terbengong-bengong meratapi cuti mendadak sahabatnya.
"Istirahat dari apa? Dari dunia? Atau… dari lo?”
Arian tak menyahut. Ia hanya menaikkan sebelah alisnya sembari menekan tombol lift. Namun, gurat kebahagiaan di wajahnya terlalu nyata untuk disembunyikan.
Maxime mendekat, lalu berbisik dengan nada yang sangat jahil. “Lo ngurung dia, ya?”
Arian mendesah pelan. “Bukan ngurung. Gue cuma… pastiin dia nggak bisa pergi terlalu cepet.”
Maxime melongo seketika. “Hah?”
“Muka lo biasa aja dong, Max. Gue nggak lagi ngelakuin tindak kriminal,” ucap Arian setengah sebal.
Tawa Maxime langsung pecah memenuhi lobi. “Astaga! Udah gue duga! Gue bilang juga apa? Dari dulu gue bilang, kalau si Arian ini akhirnya bisa dapetin Nazharina lagi, dia pasti bakal kayak singa yang baru nemuin betina satu-satunya di hutan!”
Wajah Arian memerah canggung. “Bisa nggak lo jangan pake analogi binatang, Max?”
“Terus gue harus pake apa? Kereta api yang remnya blong? Lo bahkan dateng lebih pagi dari biasanya, terus gue tebak lo pasti mau cabut awal hari ini. Tanda-tandanya jelas banget, Bro.”
Arian memilih diam, lebih fokus menatap pintu lift yang belum juga terbuka. Tapi rasa penasaran Maxime sepertinya sudah di level akut. “Jadi… kalian udah…?”
Arian menjawab sembari menatap layar indikator lift yang terus turun perlahan. “Udah. Dan kayaknya… bakal terus begitu buat beberapa hari ke depan.”
Maxime bersiul panjang, terdengar sangat kagum sekaligus geli. “Gue nggak nyangka, lo bakal jadi tipe mantan suami yang posesif banget di ranjang. Oh, gimana dunia bisa percaya kalau Direktur Arian yang cool itu ternyata… ganas banget pas cuti cinta dimulai.”
Arian memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. “Gue nggak pernah bilang ini cuti cinta.”
“Yah, terserah lo lah. Tapi jelas ini liburan kerja paling panas yang pernah lo ambil,” tukas Maxime sembari menepuk bahu Arian dengan keras. “Tunggu, jadi... dia bener-bener nggak keluar kamar?”
Arian tersenyum sekilas, sebuah senyum kemenangan yang tipis. “Dia nggak perlu ke mana-mana. Semuanya udah gue persiapin di rumah.”