Begitu tiba di dalam kamar, Arian meletakkan Nazharina di atas ranjang dengan gerakan yang posesif namun tetap berhati-hati.
“Nakal banget. Karena kamu berani coba kabur, hari ini kamu dapet hukuman.”
Nazharina memelototinya, napasnya masih sedikit memburu. “Apa? Mau kamu apa sih?”
Arian menyeringai penuh kemenangan, sebuah ekspresi yang jarang sekali ia tunjukkan namun terlihat sangat dominan.
“Pakai baju paling seksi yang aku kasih... terus menari di depanku nanti malam.”
Nazharina membeku seketika. “Apaaa?!”
“Anggap aja ini pembelajaran,” gumam Arian sembari melepas dasinya perlahan, matanya tak lepas menatap Nazharina. “Biar kamu nggak pernah kepikiran buat kabur lagi.”
“Kamu gila!”
“Mungkin... tapi aku cuma… mencintai kamu dengan cara yang egois. Untuk saat ini.”
Nazharina memukul dada Arian pelan, namun ia sama sekali tidak menolak saat pria itu mendorongnya kembali ke kasur. Tubuh Arian membungkus tubuh mantan istrinya itu dengan hangat, seolah ingin mematikan seluruh akses pelarian yang tersisa.
“Berapa lama sebenarnya cutiku, Tuan Pemilik Dunia?”
Arian tersenyum, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Nazharina. “Minimal sampai aku puas.”
“Terus kapan itu bakalan kejadian?”
Arian menjawab dengan bisikan yang terdengar seperti deru angin malam yang dingin namun memabukkan. “Entahlah. Mungkin… nggak akan pernah.”
Kamar itu kembali tenggelam dalam keheningan yang bergairah. Malam pun merayap datang, membawa sisa rindu yang ternyata tak pernah benar-benar menemui titik usai.
Malamnya, Nazharina berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya dengan perasaan campur aduk antara ngeri dan geli. Gaun tidur yang dipilihkan Arian—ia bahkan tak berani menebak di mana pria itu membelinya—lebih cocok disebut sehelai kabut tipis daripada pakaian. Bahannya transparan dan terlalu berani untuk seseorang yang biasanya tidur mengenakan piyama panjang lengkap dengan kaus kaki.
“Ini aku lagi ngejalanin hukuman... atau lagi syuting video klip sih?” gumamnya sembari menghela napas panjang.
Tiba-tiba, suara ketukan lembut terdengar di pintu. “Udah siap, Nona Penari?”
Nazharina hampir saja menjatuhkan sisir di tangannya. “Kamu pasti bercanda, kan…”
Namun, Arian jelas tidak sedang bercanda. Pria itu sudah duduk tenang di sofa sudut kamar dengan lampu yang sengaja diredupkan. Ekspresinya tampak seperti seorang sutradara avant-garde yang sedang menanti pertunjukan tunggal dari aktris favoritnya.