“Kalau kamu hamil,” ujar Arian akhirnya, memecah keheningan yang sempat mencekam, “aku bakal tanggung jawab. Karena emang itu udah seharusnya.”
Nazharina menyipitkan mata, menatap suaminya dengan sisa-sisa keraguan. “Tanggung jawab dalam bentuk apa?”
Arian terdiam lagi. Kata-kata yang ingin ia ucapkan terasa terlalu besar untuk meluncur begitu saja. Ia ingin melamar Nazharina saat ini juga, tentu saja. Namun, ia tidak ingin melakukannya di atas ranjang dalam suasana penuh tekanan seperti ini.
Ia menginginkan momen yang layak, waktu yang tepat, dan yang terpenting—ia ingin memastikan hati Nazharina memang telah benar-benar kembali padanya.
“Kalau itu sampai kejadian... kita bakal pikirin bareng-bareng,” jawabnya perlahan.
Nazharina menghela napas panjang, mencoba membuang sesak di dadanya. Ia kembali merebahkan kepalanya di dada bidang Arian.
“Aku kangen kerja,” ujarnya lirih. “Aku pengen masuk lagi. Aku nggak bisa terus-terusan kayak gini, Kak.”
Arian menautkan jemarinya di sela jemari Nazharina, menggenggamnya dengan kekuatan yang seolah tak ingin melepaskan.
“Kamu nggak perlu kerja lagi, Nazh. Aku bakal jagain kamu seumur hidup.”
“Tapi aku tetep mau kerja. Aku butuh rutinitasku lagi. Dan aku... aku pengen pulang ke rumahku.”
Kali ini Arian tidak membantah. Ia hanya menatap wajah wanita itu dalam-dalam, mencoba membaca setiap guratan keinginan dan luka yang masih tertinggal di sana.
“Ya udah,” katanya mengalah. “Besok malem, aku anter kamu pulang.”
Nazharina mengembuskan napas lega. Sebuah senyum kecil akhirnya terbit di wajahnya. Ia menarik selimut hingga ke bahu, menenggelamkan diri dalam kehangatan pelukan Arian—walau ia tahu, kehangatan semacam ini mungkin tak akan bertahan selamanya.
Malam berikutnya, setelah Arian menyelesaikan tumpukan pekerjaannya, ia mengemudi dalam diam menembus jalanan kota yang basah oleh rintik hujan. Di kursi penumpang, Nazharina hanya terduduk diam dengan tangan bertaut di pangkuan. Sesekali, ia mencuri pandang ke arah Arian yang fokus menatap jalanan di depannya.
Mobil berhenti tepat di depan rumah kecil milik Nazharina. Sebelum wanita itu sempat turun, Arian sudah lebih dulu mengitari mobil dan menyambar tas kecil miliknya.
“Biar aku yang bawa masuk,” katanya singkat, tanpa menoleh.
Nazharina mengernyit heran. “Nggak usah. Aku bisa sendiri kok.”
Arian hanya mengangkat sebelah alisnya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menunggu persetujuan. Dengan langkah ragu, Nazharina terpaksa mengikuti dari belakang. Di dalam, Arian meletakkan kunci mobil di meja dekat pintu, lalu tanpa sungkan mulai melepas kancing kemejanya satu per satu. Kaus kaki dan sepatunya ia lepaskan asal-asalan di lantai.
Nazharina menahan napas, menyaksikan pemandangan itu dengan perasaan gemas sekaligus bingung.