We Were Never Really Over

Desy Cichika
Chapter #27

Kesempatan Kedua

Di bawah temaram lampu kamar, segalanya terasa begitu intens. Arian menatap Nazharina seolah wanita itu adalah satu-satunya realitas yang ia miliki. Malam itu, mereka tidak lagi sekadar berbagi keintiman—mereka sedang mengejar waktu sepuluh tahun yang sempat hilang.


Nazharina membiarkan logikanya menyerah, membiarkan tubuhnya mengkhianati setiap janji untuk menjauh yang pernah ia buat.


“Liat aku,” bisik Arian, menangkup wajah Nazharina agar mata mereka bertemu.


Di sana, Nazharina melihat segalanya—penyesalan yang dalam dan cinta yang meledak tanpa kendali. Mereka hanyut dalam harmoni yang liar, di mana setiap napas dan sentuhan menjadi bahasa baru untuk menyampaikan rindu. Saat puncak itu datang, dunia seolah berhenti berputar, menyisakan mereka yang saling membelit dalam keheningan yang pekat.


Namun bagi Arian, satu kali tidak akan pernah cukup untuk membayar hutang waktu mereka.


Ia kembali mendekap Nazharina, membisikkan janji-janji samar di telinganya. Malam itu berlanjut dalam ritme yang lebih tenang namun jauh lebih dalam, seolah mereka sedang menuliskan sejarah baru di atas kulit satu sama lain.


Tak ada lagi rasa malu, tak ada lagi penolakan. Hanya ada dua jiwa yang akhirnya menemukan oasis setelah pengembaraan panjang yang melelahkan. Di rumah kecil itu, mereka membiarkan diri mereka terbakar habis dalam api rindu yang kini tak lagi bisa mereka padamkan.


***


Nazharina terbangun saat cahaya pagi mulai menyelinap masuk melalui celah tirai. Tubuhnya terasa berat, disertai nyeri manis yang membekas di setiap inci kulitnya—sebuah pengingat bahwa semua yang terjadi semalam adalah kenyataan, bukan sekadar bunga tidur.


Ia mendapati dirinya masih terkurung erat dalam pelukan Arian. Lengan kekar pria itu melingkari pinggangnya, seolah menolak untuk melepaskannya meski hanya sedetik. Nazharina menahan napas.


Selama sepuluh tahun, kehangatan seperti inilah yang selalu ia dambakan. Namun sekarang, setelah memilikinya kembali, hatinya justru dirayapi rasa takut yang besar.


Arian bergumam pelan dalam tidurnya, merapatkan pelukan hingga wajahnya terkubur di ceruk leher Nazharina. Napasnya yang teratur terasa begitu nyata dan hangat.


Nazharina memejamkan mata, berusaha mengukir momen ini di dalam ingatannya. Jika esok semua ini harus berakhir, setidaknya ia pernah memiliki pagi yang seindah ini.


Dengan sangat hati-hati, ia mencoba melepaskan diri dari dekapan Arian. Namun, tangan lelaki itu justru semakin menguat.


Stay...” gumam Arian setengah sadar. Suaranya yang serak dan memohon terdengar seperti rengekan anak kecil yang menusuk langsung ke jantung Nazharina.

Lihat selengkapnya