“A-Astaga, Kinoshita! Berhenti!” Nazharina berseru panik, ia berusaha mengejar langkah cepat sahabatnya yang langsung menyerbu lorong menuju kamar.
Namun, segalanya sudah terlambat.
Kinoshita sudah berdiri mematung di depan pintu kamar yang sedikit terbuka. Pemandangan di dalam sana membuatnya terdiam membeku dengan napas tertahan.
Di sana, Arian tengah duduk santai di tepian ranjang. Ia hanya mengenakan celana panjang, memamerkan dada bidangnya yang kokoh dengan rambut berantakan—sebuah penampakan yang memancarkan aura sangat... sangat intim.
Itu cukup untuk menjelaskan apa yang terjadi di kamar itu semalam.
Kinoshita menutup mulutnya rapat-rapat, menahan teriakan yang nyaris lolos. Matanya membulat sempurna. Ia mundur dengan cepat hingga punggungnya membentur dinding dengan bunyi ‘duk’ pelan.
Nazharina segera menyambar lengan Kinoshita, menyeretnya menjauh sebelum Arian menyadari kehadiran mereka. Keduanya jatuh terduduk di sofa ruang tamu dengan napas memburu.
“Nazh!” Kinoshita akhirnya bersuara, suaranya antara berbisik dan menjerit tertahan. “Lo... lo tidur sama Pak Arian?!”
Nazharina memejamkan mata, merutuki nasibnya yang terasa begitu sial pagi ini. “Gue bisa jelasin semuanya,” desahnya payah.
“Astaga, astaga...” Kinoshita menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan gerakan panik. “Lo tidur sama bos kita! Sama General Manager kita, Nazh!”
“Ssshh! Jangan kenceng-kenceng!” Nazharina membungkam mulut Kinoshita mati-matian. “Tolong, lo cabut sekarang sebelum dia liat lo!”
“Nggak bisa! Gue butuh jawaban!” Kinoshita mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah. “Ini serius? Nyata? Gue nggak lagi mimpi kan?”
“Iya, ini nyata! Dan gue janji bakalan ceritain semuanya. Tapi sekarang, lo harus pergi!”
Kinoshita tampak ragu, matanya masih liar penuh rasa tidak percaya. “Duh, Nazh... gimana rasanya semaleman sama bos seganteng itu?” gumamnya, antara ngeri dan iri setengah mati.
Nazharina mendesah frustrasi. “Tolong banget...” bisiknya memohon. “Kalau lo ketahuan di sini, kita berdua bisa dipecat!”
Mendengar kata ‘dipecat’, Kinoshita langsung tersentak sadar. “Oke, gue cabut!” katanya cepat. “Tapi lo janji ya?”
“Gue sumpah, Kinosh. Nggak ada rahasia. Gue bakalan cerita semuanya nanti.”
Kinoshita masih melotot tak percaya, namun akhirnya ia melangkah cepat menuju pintu. Sebelum benar-benar keluar, ia berbalik sekali lagi.