We Were Never Really Over

Desy Cichika
Chapter #29

Fajar Pertama Setelah Seminggu Hibernasi

Pintu kaca buram itu terbuka tanpa ketukan—sebuah kelancangan yang hanya berani dilakukan oleh satu orang di kantor ini.


Maxime menyelinap masuk dengan gaya seenaknya, sepasang cangkir kopi berada di tangan. Ekspresi jahil langsung mengembang di wajahnya saat mendapati Arian tengah berdiri di dekat jendela dengan gurat senyum tipis yang sangat tidak biasa.


“Ini buat lo, Pak CEO yang lagi mabuk kepayang,” ujar Maxime sembari meletakkan kopi di atas meja kerja Arian.


Arian hanya melirik sekilas tanpa memberikan reaksi berarti. Namun, Maxime tahu betul bahwa sikap datar itu hanyalah kedok tipis untuk menyembunyikan badai perasaan di baliknya.


“Pagi yang cerah, kan?” sindir Maxime sembari menjatuhkan diri ke sofa dengan santai. “Tapi feeling gue sih, cuaca di kamar lo jauh lebih panas dari hari-hari kemarin.”


Arian menggelengkan kepala, memberikan tatapan tajam yang tak berpengaruh apa-apa pada Maxime. “Lo emang nggak pernah punya kerjaan selain ngurusin urusan pribadi orang lain, ya?”


“Kalau urusan pribadinya melibatkan sahabat lama dan wanita yang selama ini bikin dia susah tidur, tentu aja gue punya waktu,” sahut Maxime enteng. “Lo terlalu bersinar hari ini, Yan. Mata lo bahkan nggak sekaku biasanya.”


Arian kembali ke kursi kebesarannya. “Max, cukup.”


“Gue serius. Lo dateng agak telat, rambut lo berantakan tapi kelihatan... effortless. Baju kerja lo jelas bukan hasil setrikaan tadi pagi, tapi sisa semalem. Dan yang paling kelihatan...” Maxime mencondongkan badan, “lo nggak bisa berhenti senyum sejak keluar dari lift tadi.”


Arian pura-pura sibuk membuka laptopnya. “Mood gue lagi bagus aja.”


“Bagus banget ya, setelah semaleman sama mantan istri?”


Arian hanya tersenyum miring, malas menanggapi ocehan sahabatnya yang terlalu jeli itu. Maxime bersiul panjang. “Luar biasa, Direktur Arian. Jadi akhirnya... lo berdua beneran—”


“Max,” potong Arian dengan nada tenang namun mengandung peringatan. “Berhenti nggak?”


Sorry, sorry. Gue dateng pagi-pagi gini emang karena semangat banget pengen tahu kelanjutan dongeng kalian.”


“Lo dateng terlalu pagi buat ukuran karyawan yang hobi cabut duluan,” komentar Arian pelan.


“Dan lo terlalu glowing buat pria yang katanya belum rujuk sama mantan istri,” timpal Maxime sembari menyandarkan punggungnya ke sofa. “Tapi nggak apa-apa, Yan. Lo pantes kelihatan... bercahaya. Setelah sekian tahun puasa lahir batin, akhirnya meledak juga, kan?”


Arian menahan tawa. “Lo beneran nggak ada kerjaan lain?”


“Ada. Kerja meneliti perubahan mimik wajah lo seminggu terakhir. Lo bahkan nggak pernah semanis ini sejak... ya, sejak Nazharina minta cerai.”


Arian memilih diam. Matanya kembali menatap layar laptop, namun senyum tipis di sudut bibirnya adalah jawaban jujur yang tak bisa ia sangkal.


Lihat selengkapnya