Maxime terkekeh, sebuah suara yang terdengar sangat menjengkelkan di telinga Nazharina.
“Lo terlalu banyak diem hari ini, Nazh. Tapi ya wajar sih, gue rasa gue tahu alasannya. Coba tebak... pas lo nggak muncul ke kantor seminggu ini, orang-orang mikir lo lagi dapet misi rahasia dari pusat. Ternyata? Misinya lebih ke arah... misi di atas kasur.”
Nazharina nyaris saja menyemburkan tawa, namun ia segera menarik kendali diri dan memasang ekspresi sedingin es. “Aku nggak minat bahas ginian, Max.”
“Jelas nggak bakal lo bahas. Tapi izinkan gue ngingetin satu hal—gosip kantor itu jauh lebih kejam dari kenyataan. Dan lo baru aja ngasih mereka amunisi buat sebulan penuh.”
Nazharina menyipitkan mata, tatapannya menajam. “Aku bakal pasang batas yang tegas, Max.”
Maxime mengedipkan sebelah mata dengan jahil. “Oke, calon Nyonya Bos yang statusnya masih ‘setengah resmi’. Tapi satu hal terakhir...”
Nazharina menoleh dengan malas. “Apa lagi?”
Maxime mengangguk pelan ke arah perut Nazharina yang masih rata. “Kalau tiba-tiba lo mulai ngerasa mual atau pengen mangga muda, gue bakal jadi orang pertama yang nyiapin selimut kecil sama bantal di ruang kerja lo.”
Tanpa sadar, Nazharina menurunkan telapak tangannya ke arah perut. Bukan sebuah konfirmasi, melainkan sebuah refleks defensif yang justru memberikan kepuasan tak terkira bagi Maxime. Pria itu tersenyum lebar—kemenangan telak baginya—sebelum akhirnya melangkah pergi tanpa pamit.
“Max!” pekik Nazharina tertahan.
Tawa Maxime yang puas menggema di koridor, meninggalkan Nazharina yang berdiri terpaku dengan pipi yang terasa panas terbakar dan sebuah debaran asing yang berisik di dadanya.
***
Kinoshita menghempaskan nampan makannya ke atas meja dengan dentuman kecil yang cukup provokatif, memaksa Nazharina yang tengah menyendiri di pojok jendela untuk langsung menegakkan punggungnya.
Tatapannya menghunjam, kedua alisnya bertaut dalam garis penuh tuntutan. “Lo utang penjelasan gede ke gue,” ucapnya tanpa basa-basi.
Nazharina menyendok makanannya dengan gerakan lambat, berusaha mengulur waktu. Ia menelan makanannya perlahan sebelum menyahut, “Kinosh, jangan sekarang ya? Nanti aja pas jam pulang kerja, kita ngobrol puas.”
“Enggak. Sekarang.”
Kinoshita duduk dengan tubuh yang condong ke depan, membiarkan suaranya terdengar rendah namun tajam di antara desisan giginya.
“Tadi pagi gue liat ada cowok telanjang dada di dalam kamar lo. Dan itu bukan sembarang cowok, Nazh. Itu—Arian. Arian Desmario Laurent! Bos kita, GM kita! Terus lo... lo bisa duduk anteng di sini seolah semuanya normal?”
Nazharina menatap piringnya cukup lama, mengumpulkan kepingan keberanian sebelum menarik napas panjang. “Kalau gue jujur... lo janji bisa tutup mulut?”
Kinoshita bersedekap, ekspresinya masih kaku. “Ya iyalah. Kalau gue nggak bisa jaga rahasia, pagi ini berita lo udah viral di grup WhatsApp kantor.”
Nazharina mengangguk kecil, suaranya kini merendah hingga hampir hilang. “Lo inget cerita gue tentang mantan suami gue dulu? Yang bikin gue ngerasa nggak berharga, yang nggak pernah peduli sama keberadaan gue di rumah?”