We Were Never Really Over

Desy Cichika
Chapter #31

Sisi Lain GM Tertampan di Kota

Kinoshita membeku. “Itu... saya... saya beneran tersesat, Pak. Nggak sengaja. Saya—”


Arian melirik Nazharina sekilas, lalu kembali menatap Kinoshita dengan intensitas yang lebih dalam. “Oh, hampir lupa. Kita belum sempat bicarain kejadian tadi pagi, kan?”


Kinoshita mematung. “Ke... kejadian yang mana ya, Pak?”


Arian mendekat satu langkah, menurunkan volume suaranya hingga nyaris seperti bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka bertiga.


“Kejadian saat Anda membuka pintu kamar seseorang... dan melihat pemandangan yang jelas-jelas nggak ada di dalam kontrak kerja Anda. Pemandangan di mana penghuninya...” Arian menjeda kalimatnya sengaja, pura-pura berpikir sejenak. “...sedang tidak mengenakan apa-apa.”


Seketika, rona wajah Kinoshita lenyap. “Itu kecelakaan murni, Pak, saya nggak tahu kalau—”


“Saya nggak mempermasalahkan itu,” potong Arian dengan nada yang kini terdengar geli. “Cuma ya, kalau memang itu bikin Anda trauma, hotel punya layanan konseling internal. Atau, kalau Anda merasa sudah tidak sanggup lagi bekerja di sini... saya bisa siapkan surat pelepasan kontrak kerja sekarang juga.”


“Hah?!” Kinoshita nyaris menjerit, matanya membulat sempurna.


Nazharina menyikut lengan Arian dengan gerakan halus yang sarat akan teguran. “Arian... stop.”


Arian justru mengedikkan bahu dengan santai, seolah tak berdosa. “Aku cuma bercanda.”


“Astaga...” Kinoshita menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya gemetar. “Saya bersumpah demi kucing saya di rumah, Pak! Saya beneran nggak liat apa-apa tadi pagi!”


“Sayang banget kalau sampai nggak liat,” sahut Arian ringan, nada bicaranya terdengar begitu santai hingga Nazharina harus menunduk demi menyembunyikan tawa yang nyaris meledak.


Arian kemudian menyandarkan tubuhnya pada meja counter, memangkas jarak dan menatap Kinoshita dengan intensitas yang dibuat-buat serius.


“Tapi ya... pelanggaran area terbatas itu bukan masalah sepele. Bisa berujung sanksi administratif, atau yang paling buruk... pemecatan.”


Kinoshita menarik napas panjang, seolah paru-parunya baru saja dihantam bongkahan es. “Pak Arian... saya mohon... jangan main-main soal pecat-memecat. Cicilan saya masih numpuk, kucing saya butuh makan, dan... saya masih butuh harga diri saya.”


Arian tertawa. Kali ini, tawa itu lepas.


Suara tawa yang rendah, hangat, dan entah mengapa membuat sosoknya terasa begitu manusiawi di mata kedua wanita itu. Tidak ada lagi sekat superioritas sang General Manager—hanya pria yang sedang menikmati momen jenaka.

Lihat selengkapnya