We Were Never Really Over

Desy Cichika
Chapter #32

Invisible Hero

Nazharina tersenyum miris, ada nada pahit dalam suaranya. “Gue diadopsi sama keluarganya pas umur gue dua belas tahun. Pas nyokap gue meninggal karena kecelakaan, Papa Marco sama Mama Erina mutusin buat bawa gue ke rumah mereka. Mungkin... karena mereka kasihan liat gue sendirian.”


“Arian tinggal di sana juga waktu itu?”


“Iya. Tapi dia nggak pernah bener-bener ada buat gue. Hidup dia udah diatur sedemikian rupa—jadi pewaris, jadi sosok yang sempurna. Nggak ada ruang buat hal lain di hidupnya.”


“Termasuk ruang buat lo?”


Nazharina membetulkan letak selimut di pangkuannya. “Bener. Kita nyaris nggak pernah ngobrol selama bertahun-tahun. Hubungan kita itu canggung banget, kayak kakak-adik tiri yang nggak sengaja serumah tapi nggak saling kenal. Bahkan pas Mama Erina kritis di rumah sakit abis kecelakaan itu, gue masih ngerasa asing buat dia.”


Kinoshita terdiam, membayangkan kesunyian di rumah mewah itu. “Terus... di saat terakhirnya, Mama Erina minta Arian buat nikahin lo?”


“Iya. Di ranjang rumah sakit, dengan suara yang udah hampir habis. Dan Arian cuma ngangguk. Dia nggak pernah bisa bilang nggak kalau itu udah perintah orang tuanya.”


“Lalu... lo setuju buat nepatin janji itu?”


“Kita nikah pas umur gue dua puluh. Tanpa pesta, tanpa ciuman, bahkan tanpa sentuhan di malam pertama. Kita udah tinggal satu atap selama belasan tahun, tapi kayak dua lukisan di dinding yang beda ruangan. Nggak pernah bersinggungan.”


Kinoshita memejamkan mata, hatinya terasa sesak. “Itu... sedih banget, Nazh.”


“Nggak juga kok,” sahut Nazharina lirih. “Kita baik-baik aja. Dingin, tapi sopan. Nggak ada berantem karena kita emang nggak saling nuntut apa-apa. Tapi ya itu... nggak ada kehangatan sama sekali.”


“Dan lo bisa bertahan selama itu?”


Nazharina mengangguk pelan. “Gue selalu berharap suatu saat bakal ada yang berubah. Tapi ternyata nggak. Dia tetep sedingin es, tetep jauh dari jangkauan gue. Sampai akhirnya... gue nyerah.”


“Dan lo mutusin buat cerai.”


Nazharina meneguk tehnya yang mulai mendingin. “Itu keputusan besar pertama yang gue ambil buat diri gue sendiri. Gue capek hidup di tengah kehampaan. Gue gugat cerai dia, dan dia? Dia nggak nahan gue sama sekali. Nggak minta penjelasan. Dia cuma tanda tangan berkas itu dengan muka datar, seolah gue emang beban yang akhirnya lepas.”


“Terus kalian ketemu lagi pas dia gantiin Pak Reynold jadi GM?”


Lihat selengkapnya