Kinoshita tersenyum. “Mungkin... karena dia tahu lo bakalan nolak bantuannya. Tapi dia nggak bisa berhenti buat peduli.”
Nazharina memalingkan wajah ke jendela. “Tapi kenapa?”
Kinoshita tersenyum tipis. “Lo masih tanya kenapa?”
Nazharina menghela napas. “Kalaupun iya, gue nggak tahu apakah itu cinta atau sekadar rasa tanggung jawab yang terlalu dalam.”
“Menurut gue,” kata Kinoshita, memilih kata-katanya dengan hati-hati, “ada cinta yang nggak tumbuh lewat kata-kata manis atau pelukan hangat. Ada yang tumbuh diam-diam, dalam bentuk perhatian yang nggak keliatan, dalam bentuk pengorbanan yang nggak pernah ditagih. Jadi mungkin, selama ini dia jagain lo diem-diem...”
Nazharina memejamkan mata sejenak. “Selama sepuluh tahun, gue ngerasa kayak hantu di rumahnya. Tapi sekarang, setelah kami nggak ada ikatan apa-apa lagi, gue justru ngerasa diliat buat pertama kalinya.”
Kinoshita menyunggingkan senyum geli, sebuah ekspresi yang sarat akan maksud terselubung. Ia menyandarkan punggungnya dengan santai ke dinding kamar, melipat tangan di dada sembari menatap Nazharina yang tampak gelisah.
“Dan akhirnya, malam itu... lo biarin dia masuk ke kamar lo dengan sukarela.”
Nazharina menoleh seketika, keningnya berkerut dalam. “Lo nggak bakal berhenti interogasi gue sebelum dapet semua detailnya, ya?”
“Ya iyalah! Gue butuh tahu apa yang sebenernya terjadi di balik pintu itu. Malam pertama kalian setelah sepuluh tahun tertunda? Nazh, itu layak jadi legenda di sejarah percintaan dunia!”
Nazharina melepaskan tawa lemah, seolah sedang menertawakan kemustahilan hidupnya sendiri. “Lo terlalu berlebihan, Kinosh.”
“Enggak. Gue cuma realistis,” sahut Kinoshita, nadanya mendadak berubah menjadi sedikit lebih serius. “Lo kelihatan beda banget setelah malam itu.”
Nazharina tertegun sejenak, gerakannya merapikan seprai terhenti. “Beda gimana maksud lo?”
“Kayak seseorang yang akhirnya mutusin buat berhenti lari. Berhenti nolak sesuatu yang sebenernya selama ini udah lo akuin di dalem hati, tapi lo tutup-tutupin pake ego.”
Hening menyergap. Kata-kata Kinoshita menghujam tepat di ulu hati Nazharina. Terlalu presisi, hingga ia tak mampu menemukan kalimat untuk menyanggahnya.
Setelah beberapa menit terjebak dalam kesunyian yang canggung, Kinoshita mendengus kecil, sebuah ide nakal kembali melintas di kepalanya.
“Tapi tunggu deh... kalau kalian udah sepuluh tahun nikah tapi nggak pernah sentuhan sama sekali, berarti malam itu adalah malam pertama yang sebenernya, dong?”
Wajah Nazharina seketika memerah padam, panas menjalar hingga ke telinganya. “Kinoshita! Mulut lo, ya!”
“Oh, Tuhan!” Kinoshita tertawa lepas, tangannya memukul-mukul bantal saking gelinya. “Pantesan aja! Jadi itu alasannya kenapa pagi itu Pak Arian keluar dari kamar lo dengan muka sesemringah itu? Rambutnya berantakan, auranya glowing kayak abis dapet hidayah! Nazh... jangan bilang lo akhirnya bener-bener...”