Arian bungkam. Dan diamnya pria itu adalah jawaban yang paling lantang bagi Nazharina. Ia bangkit perlahan, ujung jarinya menyentuh permukaan meja kerja Arian yang dingin dengan gerakan penuh perhitungan. Ia melangkah ke arah rak buku, berpura-pura tertarik pada bingkai sertifikat yang berjejer, namun fokusnya tetap terkunci pada pria yang kini tampak begitu lelah.
“Nyonya Clara yang mendadak minta maaf... terus tiba-tiba aku diterima kerja di hotel ini, padahal sebelumnya aku bahkan dipecat secara tidak hormat di tempat kerja sebelumnya.”
Nazharina berbalik, menatap Arian dengan tatapan yang kini melembut. “Aku harus berterima kasih... atau justru curiga? Karena kalau semua ini bukan kebetulan, berarti aku udah diawasin sejak lama. Dan kalau emang bener ada seseorang yang diem-diem peduli... kenapa dia nggak pernah bilang apa-apa?”
Arian mengusap wajahnya dengan kasar. “Kamu bakal marah kalau tahu aku terlalu campurin hidup kamu.”
Nazharina mengangkat bahu. “Mungkin. Tapi aku bakal jauh lebih kecewa kalau aku nggak pernah tahu yang sebenernya.”
Keheningan kembali menggigit di antara mereka, hanya suara dengung AC yang mengisi ruangan.
“Clara udah berani nyakitin kamu,” ucap Arian akhirnya, suaranya serak dan berat. “Dan dia pantes dapet balesannya.”
“Terus kamu yang—”
“Udah, Nazh,” potong Arian cepat. “Jangan paksa aku buat ngomong lebih banyak lagi.”
Nazharina melangkah lebih dekat, hingga hanya tersisa jarak satu meter di antara mereka. Ia mencondongkan tubuh, menatap Arian tepat di manik matanya. “Kenapa? Karena kamu takut aku sadar kalau semua ini... adalah bentuk perlindungan kamu?”
Arian menarik napas dalam. “Aku cuma ngelakuin apa yang menurut aku bener.”
“Dan apa menurut kamu bener... kalau kamu biarin aku tetep pura-pura nggak tahu?”
“Lebih baik gitu daripada aku—”
“Kamu sayang sama aku, Kak?”
Pertanyaan itu menghantam Arian telak. Ia mendongak, matanya yang lelah kini memancarkan sorot getir yang tak bisa lagi ia sembunyikan.
“Kamu tahu jawabannya.”
Nazharina tertawa pelan, tawa yang terdengar begitu indah namun menyayat. “Sialan. Kamu bener-bener tipe cowok paling nyebelin. Selalu jagain, selalu diem, tapi nggak pernah biarin aku bener-bener ngerti.”
“Karena kalau kamu ngerti,” bisik Arian, “kamu mungkin bakal benci sama aku.”
Nazharina menggeleng pelan, ia melangkah ke samping meja, kini tak ada lagi penghalang di antara mereka. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh rahang Arian yang terasa kasar.
“Aku udah terlalu sering benci orang, Kak. Tapi nggak sama kamu.”