Nazharina mengangguk cepat. Dengan gerakan efisien, ia merapikan rambut dan mengancingkan blazer-nya. Ia berjalan menuju pintu kecil di sisi ruang kerja yang terhubung langsung ke lorong belakang. Namun sebelum menghilang, ia menoleh sebentar.
“Aku bakal pura-pura nggak kenal kamu nanti,” gumamnya, separuh bercanda untuk mengusir ketegangan.
Arian tertawa pelan, sebuah tawa rendah yang maskulin. “Kita liat aja, siapa yang lebih jago akting di sini.”
Nazharina melangkah ke area lobi dengan wajah yang luar biasa tenang. Rambutnya terikat rapi, wajahnya tampak segar hanya dengan polesan lip balm dan maskara tipis. Namun, matanya tidak bisa berbohong. Ada sesuatu yang menyala di sana—sesuatu yang liar dan penuh percaya diri.
Shelby memperhatikannya dari balik meja pelayanan. Satu alisnya terangkat, tatapannya menyisir penampilan Nazharina.
“Wah, tumben banget lo dateng lebih pagi dari gue?” sindirnya sembari menyesap kopi.
Nazharina tersenyum ramah, tipe senyum yang tidak menyisakan ruang untuk debat. “Gue ngerasa pagi ini terlalu berharga buat dilewatin cuma dengan tidur di rumah.”
Shelby mendengus, namun matanya terus mengikuti gerak-gerik Nazharina dengan sorot curiga. Sesuatu telah berubah, dan Shelby bisa merasakannya lewat instingnya yang tajam.
Beberapa menit kemudian, saat Nazharina tengah merapikan riasannya di depan cermin, Shelby mendekat dengan langkah ringan yang sengaja dibuat tak terdengar.
“Lo pake parfum baru?” tanyanya tiba-tiba.
Nazharina menoleh santai. “Nggak. Emang kenapa?”
“Entah. Wanginya beda aja. Bukan kayak wangi lo yang biasanya.” Tatapan Shelby seolah sedang menguliti Nazharina perlahan.
Nazharina hanya tertawa kecil, sangat rileks. “Mungkin karena gue baru aja dapet tidur yang cukup buat pertama kalinya setelah berminggu-minggu.”
Shelby tak menjawab. Ia berdiri di sana, menunggu Nazharina membuat kesalahan kecil. Dalam kepalanya, ia mulai menyusun kepingan puzzle. Dan potongan terbesarnya—adalah Arian.
***
Bau kopi instan dan aroma pembersih lantai yang tajam menyelimuti ruang pantry yang sempit. Di sudut meja, seorang pria berseragam housekeeping duduk bersandar dengan mata lelah. Namanya Aris—pria berusia tiga puluhan dengan wajah yang biasanya tenang, namun kali ini sorot matanya menyimpan rasa ingin tahu yang tak biasa.
Shelby masuk beberapa menit kemudian, mengenakan blazer krem pucat yang tampak kaku dan mahal. Ia seolah tak sengaja mengambil cangkir kopi bersih dari rak, lalu duduk tepat di seberang Aris.