Beberapa hari setelah perbincangan samar di pantry itu, atmosfer di kantor mulai bergeser secara signifikan. Sapaan yang biasanya ramah kini memendek, sementara pandangan para staf terasa lebih lama dan menyelidik dari biasanya.
Desas-desus itu menyusup lewat celah obrolan informal—halus, namun memiliki ketajaman yang sanggup mengiris ketenangan.
Nazharina mulai merasakannya. Ketika ia melewati lorong, beberapa rekan kerja yang dulu akrab kini hanya melempar senyum sekilas yang terasa hambar. Ada satu atau dua bisikan yang mendadak senyap saat ia mendekat. Tak ada serangan frontal, namun cukup untuk membuat udara di sekelilingnya terasa lebih padat dan menyesakkan.
Siang itu, dengan perasaan tak menentu, ia mengetuk pintu kantor Arian. Begitu ia melangkah masuk, pria itu langsung menutup berkas di tangannya seolah seluruh fokusnya kini tercurah sepenuhnya pada sang tamu.
“Nazh,” sapa Arian pendek. Tatapannya menyapu wajah perempuan itu sejenak—cukup untuk menangkap perubahan raut yang tak bisa disembunyikan.
Nazharina belum sempat mengucap sepatah kata pun saat Arian sudah bangkit dan menghampirinya dengan langkah tegas. Tanpa ragu, Arian menarik pinggangnya, lalu membungkam bibirnya dalam sebuah ciuman yang panas dan dalam.
Sebuah gerakan posesif, seolah ingin menegaskan bahwa hiruk-pikuk di luar ruangan itu sama sekali tidak penting.
Namun, Nazharina tidak sepenuhnya membalas. Pikirannya masih sibuk memutar ulang fragmen gosip yang ia dengar di lorong tadi.
“Kak Arian...” bisiknya parau saat tautan mereka terlepas, suaranya nyaris menyerupai embusan napas.
Arian menatapnya lurus. “Kamu kenapa?”
Nazharina menggeleng pelan, rautnya tampak gusar. “Ada yang berubah, Kak. Di luar sana... semuanya kerasa aneh. Kayak ada yang lagi ngawasin, terus omongin aku di belakang.”
“Gosip,” gumam Arian ringan, lalu mendaratkan kecupan lembut di pelipisnya. “Nazh, aku tahu persis gimana cara kerja tempat ini. Aku juga tahu gimana cara kendaliin mereka.”
“Tapi... gimana kalau ini ngerusak reputasi kamu?”
“Biar aku yang urus itu.” Tangan Arian mengusap punggung Nazharina dengan gerakan menenangkan. “Yang penting sekarang, kamu ada di sini sama aku.”
Keheningan menyergap sejenak sebelum bibir mereka kembali bertemu. Kali ini gerakannya lebih perlahan, namun sarat akan emosi yang lebih dalam. Mereka seolah sedang mencuri waktu, berusaha menjauh dari dunia yang tak pernah benar-benar membiarkan mereka tenang.
Di luar sana, jam kantor terus berdetak, namun di ruangan ini, waktu seakan menggantung dalam ketidakpastian yang manis.
Beberapa menit berlalu hingga napas Nazharina mulai stabil kembali. Arian menatapnya dari balik meja, melipat lengan dengan gaya santai yang berwibawa.
“Masih kepikiran soal omongan orang?”
Nazharina menarik napas dalam, lalu mengangguk. “Nggak tau kenapa... aku ngerasa diperhatiin banget akhir-akhir ini. Kayak ada yang sengaja nungguin aku buat bikin kesalahan.”
Sorot mata Arian menajam, penuh kalkulasi dingin. “Kamu punya bayangan siapa yang mulai nyebarin gosip itu?”
Nazharina menggeleng lemah. “Aku nggak mau asal tuduh. Selama ini aku ngerasa akrab sama semua orang, mereka juga baik-baik aja. Rasanya nggak mungkin ada yang tega mau jatuhin aku.”
Arian bangkit, berjalan mendekat, lalu bersandar di tepi meja. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Nazharina bisa merasakan aura dominan pria itu.