Nazharina mencoba menarik diri, namun kekuatan Arian jauh melampaui usahanya. Dalam sekejap, tubuhnya ditarik paksa masuk ke dalam. Handuk itu terjatuh tak berdaya ke lantai. Nazharina sempat terhuyung dan tertawa gugup karena kehilangan keseimbangan.
Belum sempat ia berdiri tegak, lengan Arian sudah melingkar protektif di pinggangnya, menariknya hingga tak ada lagi jarak yang tersisa. Pintu kamar mandi tertutup keras di belakang mereka.
“Arian, jangan main-main...” bisik Nazharina, namun suaranya bergetar saat kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit Arian yang basah dan beraroma maskulin.
Shower di atas mereka masih menyala, mengguyurkan air hangat yang menciptakan uap tebal di sekeliling mereka.
Arian menatapnya tanpa kata. Jemarinya menelusuri garis wajah Nazharina sebelum akhirnya berhenti di tengkuk, menekannya lembut untuk mendekatkan wajah mereka.
Ciuman itu datang—basah, panas, dan menuntut segala hal yang selama ini terpendam. Napas Nazharina tercekat. Ia sadar ia punya pilihan untuk melawan, namun hatinya justru memilih untuk menyerah pada rasa yang sama.
Hanya ada deru napas yang kian berat di antara mereka. Nazharina memejamkan mata, menyerah sepenuhnya pada kelembutan yang membakar.
Mereka bergerak dalam harmoni yang sunyi, namun intens—sebuah bahasa tubuh yang mencurahkan segala rindu dan luka yang tak mampu terucap selama sepuluh tahun.
Tak lama kemudian, Arian membawa Nazharina keluar dari kamar mandi sembari terkekeh rendah karena sisa air yang masih menitik dari kulit mereka.
“Kasurku jadi basah, tahu...” protes Nazharina dengan tawa yang separuh tertahan saat tubuhnya mendarat lembut di atas ranjang.
“Tanggung jawab aku buat bikin basah, berarti tanggung jawab aku juga buat ngeringin,” jawab Arian cepat.
Malam akhirnya menelan suara-suara mereka. Di antara seprai yang lembap dan napas yang memburu, Nazharina tahu ia telah kembali menjatuhkan seluruh pertahanan pada pria yang sama. Dan ia sama sekali tidak menyesal.
***
Cahaya lampu redup menembus selimut tipis, menghangatkan ruangan yang masih menyisakan aroma sabun dan peluh. Nazharina menggeliat pelan, merasakan tubuhnya yang ringan namun diselimuti kelelahan yang manis. Saat membuka mata, ia mendapati Arian masih terlelap di sampingnya dengan satu lengan melingkar posesif di pinggangnya.
“Apa yang sebenernya lagi kita lakuin, Kak?” bisiknya lirih.
Kelopak mata Arian perlahan terbuka. “Kamu nanya itu setelah kita basah kuyup bareng di kamar mandi dan ranjang?” gumamnya dengan senyum mengantuk.
Nazharina menyentuh dada pria itu. “Aku serius.”
Arian mengubah posisi hingga mereka saling berhadapan. “Kita berusaha nyoba lagi, Nazh. Walaupun pelan, walaupun mungkin bakal sakit. Aku cuma mau tahu, kita bakal jadi apa kalau kali ini kita berani jalan sampai akhir.”
“Gimana kalau akhirnya tetep sama?”
Arian menggeleng mantap. “Kita bukan orang yang sama lagi. Dulu kita cuma tahu cara sayang, tapi nggak tahu cara dewasa. Sekarang kita sama-sama punya luka, dan kita mau belajar dari situ. Itu bedanya.”