Desas-desus itu tumbuh subur bak jamur di musim penghujan.
Di antara bisik-bisik lobi dan kesunyian lorong hotel yang dingin, nama Nazharina perlahan menjelma menjadi buah bibir yang memanas. Terlebih sejak Arian resmi mengukuhkan posisinya sebagai General Manager di Velaris Grand Royale Hotel.
“Sekretaris pribadi, katanya...” Suara lirih itu mengalun dari bagian reservasi, nyaris menyerupai gumaman tak kasatmata.
“Tapi dilindungi kayak istri sah. Tiap hari dianter pulang, bahkan dijemput pas lembur,” sahut staf front office lainnya sembari mencondongkan tubuh, seolah tengah membagikan rahasia negara yang terlarang.
“Jangan-jangan... dia simpanan Pak Arian.”
Kata-kata itu hanyalah desiran angin, namun cukup tajam untuk menusuk dan mengendap di udara. Spekulasi kian liar karena Arian mulai menghabiskan lebih banyak waktu di ruang kerjanya bersama Nazharina ketimbang mengurusi tamu VIP. Bahkan, pertemuan krusial pun kerap ia tunda hanya demi memastikan sang sekretaris tidak melewatkan jam makan siangnya.
Tak ada yang tahu pasti, dan tak ada yang cukup bernyali untuk bertanya. Namun, api keingintahuan terus berkobar, terutama di kalangan mereka yang merasa posisinya terancam.
Salah satu sumber kegaduhan berasal dari departemen HR—seorang manajer senior perempuan yang merasa otoritasnya tergerus sejak kedatangan Arian. Ia tak segan melontarkan sindiran tajam, baik secara tersirat maupun terbuka.
“Seharusnya seorang GM tahu cara jaga jarak profesional. Tapi kayaknya, batas itu udah makin kabur.”
Di saat bara fitnah semakin memanas, Maxime merasa sudah waktunya ia memberikan peringatan keras pada sahabatnya.
Ia muncul tanpa gurat jenaka yang biasanya menghiasi wajah. Ekspresinya tegang, memancarkan kegelisahan yang nyata. Tanpa memedulikan tatapan staf lain, ia melangkah lebar menuju ruang kerja Arian. Beberapa pasang mata mengikuti hingga pintu mahoni itu tertutup rapat di belakang tubuh jangkungnya.
Arian yang tengah terpaku pada layar laptopnya mendongak. Ia nyaris terperanjat melihat sahabatnya berdiri di ambang pintu dengan raut muram.
“Max?”
Maxime tak menyahut. Ia hanya melemparkan sebuah map hitam ke atas meja dengan gerakan gusar.
“Buka. Liat sendiri.”
Arian mengembuskan napas panjang, lalu membuka map itu perlahan.