We Were Never Really Over

Desy Cichika
Chapter #39

Cinta yang Menggerogoti Tahta

Langkah kaki Maxime menggema di koridor lantai 51 kantor pusat AM Global Group. Belum genap pukul sepuluh pagi, namun atmosfer di ruang rapat eksekutif sudah terasa seperti medan perang; tegang, penuh strategi, dan diselimuti kesunyian yang mencurigakan.


Para pemegang saham senior telah mengambil posisi di sisi kanan, sementara jajaran direktur mengisi barisan kiri. Di ujung meja oval yang megah itu, kursi utama milik Arian masih tampak lowong.


Asisten pribadi para direktur hilir-mudik dengan map di tangan, deru printer terus memuntahkan lembaran suara berstempel “Confidential”, dan di sudut ruangan, beberapa pemegang saham minoritas tampak berdiskusi dengan wajah kusut.


Maxime menyapa beberapa staf dengan anggukan singkat tanpa menghentikan langkah. Ia tidak tersenyum. Pikirannya sudah terlalu penuh untuk basa-basi.


“Arian belum balik ke kantor?” Pertanyaan itu meluncur dari sang Direktur Keuangan saat mata mereka bertemu.


“Belum,” jawab Maxime singkat. “Dan saya rasa, dia masih butuh waktu.”


“Perusahaan ini nggak bisa nunggu orang yang labil,” celetuk seseorang di belakang, nyaris menyerupai bisikan beracun.


Maxime tidak menoleh, namun telinganya menangkap segalanya. Kalimat itu bukan hanya serangan untuk Arian, tapi juga sindiran untuknya—karena semua orang tahu Maxime adalah tangan kanan sekaligus pelindung sang CEO.


Ia memasuki ruang rapat. Udara di dalam terasa tipis, seolah oksigen telah habis dihisap oleh ego para petinggi di sana. Di tengah meja, tumpukan map berlabel Voting Packet sudah siap, dan layar proyektor menampilkan tiga nama kandidat CEO interim. Nama Arian—tentu saja—tidak tercantum di sana.


“Agenda hari ini?” Suara Maxime terdengar jernih dan tegas.


Voting pengganti CEO sementara,” jawab salah seorang dewan tanpa basa-basi.


Maxime mengangguk pelan. “Apa Arian mengajukan pengunduran diri?”


“Nggak.”


“Apa dia melanggar kontrak etika, menyalahgunakan wewenang, atau kehilangan kemampuan buat ambil keputusan?”


Tak ada yang menjawab. Keheningan itu justru menjadi jawaban paling jujur.


Maxime menyapu pandangan ke sekeliling meja dengan sorot mata yang mengintimidasi. “Jadi, alasan kita berkumpul hari ini cuma karena... dia tidak hadir secara fisik selama satu hari?”


“Karena dia abai sama krisis besar!” Julian, salah satu pemegang saham terbesar, memotong dengan tajam. “Media mulai bertanya, saham mulai goyah. Kita butuh kepala, Max!”


“Kalau Anda butuh kepala, Anda salah orang. Arian memiliki kepala yang lebih dingin dari siapa pun di ruangan ini.”


Maxime mencondongkan tubuh, tatapannya mengunci Julian dengan intensitas yang membuat lawan bicaranya itu terdiam sejenak. “Dan Anda semua tahu itu.”


Ketegangan kian pekat. Julian menyilangkan tangan di dada, matanya memancarkan ambisi yang sulit disembunyikan.


Lihat selengkapnya