Di kantor pusat AM Global Group, Arian menatap layar monitor dengan pandangan kosong. Laporan ekspansi properti di Asia Tenggara terpampang di hadapannya—namun, kesadarannya tak sepenuhnya hadir di sana.
Ia baru saja menuntaskan presentasi krusial di hadapan dewan investasi. Beberapa direktur tampak mengangguk penuh apresiasi, sementara yang lain memasang raut wajah datar yang tak terbaca.
Namun, satu hal yang pasti: semua orang di ruangan itu tahu bahwa Arian kini bukan sekadar CEO—ia tengah dipersiapkan untuk memegang kendali yang jauh lebih besar.
Syaratnya mutlak, ia harus sepenuhnya menanggalkan bayang-bayang masa lalunya.
Namun, masa lalu itu justru serupa gema yang terus memanggil, bahkan di sela-sela kesibukan yang menyesakkan.
[ Nazh, kamu baik-baik aja? ]
Pesan singkat itu ia kirimkan pada pukul 10:24.
Tercatat telah dibaca, namun tak kunjung mendapat balasan.
Arian bersandar pada kursi kebesarannya, memejamkan mata sejenak. Setiap detik, ia dirayapi keinginan untuk menghubungi Nazharina. Setiap malam, ia harus berperang dengan diri sendiri agar tidak kembali mengetuk pintu rumah itu. Namun, memori tentang sentuhan lembut, kulit yang hangat, dan suara lembut perempuan itu di pagi hari terlalu sulit untuk disapu dari benaknya.
“Lagi kangen sama yang di rumah?”
Suara Maxime tiba-tiba muncul di ambang pintu, memecah kesunyian.
Arian membuka mata dan mengembuskan napas panjang. “Dia belum bales chat aku.”
Maxime melangkah masuk, lalu mengempaskan tubuhnya ke sofa dengan gerakan yang elegan sekaligus santai.
“Wajar kali, Yan. Lo pergi tiba-tiba gitu. Orang kayak dia pasti butuh waktu buat mencerna semuanya.”
Arian memilih untuk tidak menyahut.
Maxime melirik sekilas ke arah laptop Arian. “Julian udah mulai cari panggung di rapat-rapat internal. Dia nggak sebut nama lo secara gamblang, tapi jelas banget dia lagi nyiapin strategi.”
Arian mengangkat alisnya sebelah. “Julian Albrecht?”
Maxime mengangguk mantap. “Dan dia nggak main-main. Tadi pagi salah satu komisaris bilang—kalau lo nggak segera nentuin sikap, mereka bakal mulai giring opini kalau lo nggak layak pimpin ekspansi regional.”