We Were Never Really Over

Desy Cichika
Chapter #41

Malam Tanpa Topeng

Arian menghela napas panjang, seolah sedang melepaskan beban yang selama ini menghimpit rongga dadanya.


“Aku takut aku udah terlalu lama korbanin diri sendiri. Terlalu lama nyembunyiin apa yang sebenernya aku rasain buat kamu...”


Nazharina menggenggam tangan Arian dengan erat, menyalurkan kekuatan melalui sentuhan tanpa perlu seuntai kata pun.


“Aku nggak mau lagi kehilangan kamu, Nazh,” ucap Arian pelan, suaranya nyaris bergetar oleh emosi yang tertahan. “Kalau aku terus kayak gini, aku nggak tahu lagi sebenernya aku lagi berjuang buat siapa. Aku takut... aku udah melangkah terlalu jauh sampe nggak bisa balik lagi.”


Nazharina menatap manik mata Arian dalam-dalam, mencari kejujuran di sana. “Kamu masih punya aku. Aku nggak bakal pergi.”


Arian memejamkan mata sejenak, menelan kepahitan yang tersisa. “Aku cuma... pengen lebih deket sama kamu. Tanpa topeng, tanpa jarak.”


“Malem ini, kamu udah mulai, Kak,” sahut Nazharina sembari menyunggingkan senyum lembut.


Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini terasa menenangkan. Hanya ada deru napas dan hangatnya pelukan yang perlahan mengikis sisa-sisa keraguan. Tangan Arian masih sedikit gemetar, seolah raga itu baru menyadari betapa hampa eksistensinya selama ini.


Saat ia menarik diri perlahan, wajah Nazharina tampak begitu nyata di hadapannya. Tak ada lagi tirai basa-basi—hanya ada kejujuran yang murni.


“Boleh aku tetep di sini malem ini?” tanyanya lirih.


Nazharina mengangguk mantap. “Tentu.”


Arian menunduk, mendaratkan kecupan lembut di puncak kepala Nazharina, lalu turun ke kening, dan hidungnya. Sentuhan itu terasa seperti untaian doa yang nyaris terputus—pelan, penuh khidmat, dan menyimpan rindu yang tak pernah benar-benar tersampaikan.


“Kamu yakin?” tanya Arian pelan, matanya mencari persetujuan, bukan sekadar pelampiasan hasrat.


Nazharina menjawab dengan melingkarkan lengannya lebih erat di leher pria itu. “Aku bareng kamu, Kak.”


Tak ada yang terburu-buru. Setiap gerakan terasa begitu sakral, seolah tiap detik adalah anugerah yang perlu disyukuri. Jemari Arian menelusuri garis wajah Nazharina dengan penuh damba. Bibir mereka akhirnya bertemu—mula-mula hanya sentuhan ringan, sebelum akhirnya menjadi pagutan dalam yang menghanyutkan.


Arian membimbing Nazharina perlahan menuju kamar yang diselimuti cahaya kekuningan dari lampu sudut. Di sana, dunia luar seolah lenyap seketika.


Arian menyentuh bahu Nazharina, menurunkan perlahan ritsleting gaun tidurnya, membiarkan kain satin itu meluruh jatuh ke lantai. Nazharina membalasnya dengan menanggalkan kancing kemeja Arian satu per satu, seolah sedang membaca kembali narasi yang lama tertulis di tubuh pria itu.


Malam itu, mereka menyatu bukan karena ledakan nafsu, melainkan karena luka dan kerinduan yang mendalam. Setiap sentuhan adalah pengakuan yang tak sempat tertulis, dan setiap bisikan adalah penebusan atas malam-malam yang dulu mereka lalui dalam kesunyian.

Lihat selengkapnya