We Were Never Really Over

Desy Cichika
Chapter #42

Sinyal Tubuh

Nazharina mengangguk canggung, jemarinya sibuk menyeka noda. “Kopi saya tumpah ke baju Bapak ini... gara-gara saya nggak fokus tadi.”


Maxime menatap pria itu, mengenali raut wajahnya dalam sekejap. “Julian Albrecht,” gumamnya nyaris tak terdengar, sebelum akhirnya bersuara lebih lantang, “Saya nggak tahu kalau Anda ada urusan di gedung ini.”


Julian tersenyum singkat, tampak sama sekali tak terganggu oleh intimidasi dingin Maxime. “Kebetulan aja. Tapi kayaknya, saya justru dapet hadiah kecil hari ini.”


Maxime tak menyahut. Ia segera beralih pada Nazharina dengan gestur protektif. “Yuk, Arian udah nungguin.”


Nazharina sempat melirik Julian sekali lagi dengan rasa tidak enak. “Terima kasih, Pak, udah maklum.”


Julian hanya mengangguk sopan, namun sorot matanya terus mengawal langkah Nazharina hingga sosok perempuan itu hilang di balik pintu lift. Begitu keadaan kembali sunyi, Julian memandangi kartu nama di tangannya.


“Maaf, Pak Julian,” asisten pribadinya berbisik dari belakang. “Boleh saya liat kartu namanya?”


Julian menyodorkannya tanpa banyak bicara. Sang asisten membaca nama yang tertera, lalu matanya sedikit melebar. “Saya nggak yakin seratus persen sih, Pak... tapi saya pernah denger kalau Nazharina itu nama mantan istrinya Pak Arian. Katanya mereka baru cerai. Gosipnya sih... gara-gara Pak Arian itu terlalu dingin buat cewek kayak dia.”


Julian tertegun dalam diam. Matanya kembali terpaku pada nama itu. “Nazharina... dateng buat nemuin Arian?”


“Kayaknya sih gitu, Pak.”


Julian memutar kartu nama itu di antara ujung jemarinya. “Hm. Menarik,” bisiknya dengan percikan licik di matanya. “Cari tahu semuanya tentang dia. Profesional, pribadi, sampe latar belakangnya. Dan... apa pun yang bisa hubungin dia sama Arian.”


***


Nazharina menyesap teh hangatnya. Aromanya lembut, menguarkan wangi jahe yang menenangkan. Di hadapannya, Arian duduk dengan kemeja yang digulung hingga ke siku. Matanya tak lepas memandangi wajah perempuan itu.


“Kamu yakin mau makan di sini? Aku bisa pesen ruang makan privat di luar kalau kamu mau,” ujar Arian lembut.


“Aku suka di sini kok. Tenang,” jawab Nazharina tulus. “Lagian, bukannya kamu yang sibuk hari ini? Aku yang harusnya makasih karena kamu udah sempetin waktu.”


Arian menatapnya lekat. “Aku selalu punya waktu buat kamu.”


Ucapan itu terdengar ringan, tetapi ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat dada Nazharina terasa sesak. Seolah pria di hadapannya bukan lagi Arian yang dingin dan menjaga jarak seperti dahulu. Sejak malam itu, sejak pelukan dan keintiman yang membuat mereka menyatu tanpa topeng, segalanya berubah.


“Udah kamu cicipin makanannya?” tanya Arian.


Lihat selengkapnya