Pagi itu, pendar surya menyelinap lembut melalui celah tirai di kantor General Manager Hotel Velaris. Nazharina terpaku di depan layar laptop, jemarinya menari di atas papan ketik guna menuntaskan laporan akhir pekan yang baru saja ia rampungkan. Namun, kelopak matanya terasa seberat timah, dan sejak semalam, sensasi tak nyaman terus mengaduk perutnya. Ia sempat terjaga pukul tiga dini hari karena rasa mual yang mendesak, namun ia hanya berasumsi bahwa itu akibat salah makan.
"Nazh, ini berkas yang lo minta kemarin."
Suara Kinoshita seketika membuyarkan konsentrasinya. Nazharina menoleh, memaksakan sebuah senyum tipis.
"Makasih ya. Taruh di situ aja dulu."
Kinoshita mengangguk, namun langkahnya tertahan. Ia menatap Nazharina dengan kening berkerut sangsi. "Lo sadar nggak sih kalau muka lo pucat banget?"
Nazharina hanya mengedikkan bahu pelan. "Kurang tidur aja kali, gue."
Begitu Kinoshita berlalu, Nazharina menyandarkan punggungnya ke kursi sembari mengembuskan napas panjang. Kepalanya mulai berdenyut samar. Namun, tumpukan pekerjaan seolah enggan memberinya ruang untuk bernapas. Dan sebagai sekretaris pribadi GM, ia tak mungkin mengambil cuti secara mendadak.
Menjelang pukul sebelas siang, ia beranjak menuju pantry untuk menyeduh teh. Langkahnya terasa gontai, seolah beban tubuhnya bertambah berkali-kali lipat. Ia sempat membalas sapaan beberapa staf dengan keramahan yang dipaksakan, namun tepat saat mencapai sudut koridor, pandangannya mendadak mengabur. Dunia di sekelilingnya seakan berputar hebat.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Tepat sebelum ia tersungkur, sepasang tangan sigap menangkap lengannya.
"Astaga! Lo nggak apa-apa?" Suara itu terdengar sarat akan kecemasan.
Nazharina mendongak perlahan. Itu Erik, staf senior dari bagian operasional.
"Gapapa... cuma pusing dikit. Makasih ya," gumam Nazharina sembari mengatur napasnya yang memburu.
"Perlu gue anter ke ruang medis sekarang?"
Nazharina menggeleng cepat. "Nggak usah, nggak perlu. Gue cuma... kayaknya darah rendah gue kumat. Gue cuma butuh teh manis kok."
Erik mengantarnya hingga ke pantry dan baru beranjak pergi setelah memastikan Nazharina duduk dengan aman. Di ruangan kecil yang sunyi itu, Nazharina menyandarkan kepalanya ke dinding dan memejamkan mata. Tiba-tiba saja napasnya terasa sesak, sebelum akhirnya kembali normal secara misterius. Aneh.
Hari-hari berikutnya berlalu, namun gejala ganjil itu tak kunjung enyah. Setiap pagi, Nazharina harus berperang melawan rasa mual yang hebat sebelum berangkat kerja. Indra penciumannya mendadak menjadi sangat sensitif—bahkan aroma parfum seorang tamu hotel sanggup membuatnya lari terbirit-birit ke kamar mandi.
"Aku beneran nggak ngerti," gumamnya suatu pagi di depan cermin apartemen. "Aku sakit apa sih sebenernya?"
Sambil mengusap wajahnya yang kuyu, ia mengirimkan pesan singkat pada Arian.
[ Aku mungkin nggak bisa dateng makan siang minggu ini. Jadwalku padat banget. ]