We Were Never Really Over

Desy Cichika
Chapter #44

Selamat, Arian

Tubuh Nazharina luruh, ambruk ke lantai karpet tepat di balik meja kerjanya yang besar. Posisinya yang tersembunyi di balik meja membuat sosoknya tak kasatmata bagi siapa pun yang mungkin mengintip dari balik kaca jendela pintu. Di ruangan yang terkunci itu, ia terbaring sunyi, tak berdaya di tengah kemegahan kantor yang mulai diselimuti kegelapan sore.


Di lobi, Arian berjalan dengan langkah lebar, jasnya ia sampirkan di lengan, sementara kancing kerah kemejanya sudah ia lepas satu—menunjukkan betapa lelahnya dia setelah seharian bergulat dengan dokumen di kantor pusat.


Ia berpapasan dengan Kinoshita yang baru saja keluar dari pantry.


“Eh, Pak Arian?” Kinoshita sedikit terperanjat, namun segera memperbaiki posisi kacamatanya.


“Nazharina masih di dalem?” tanya Arian tanpa basa-basi.


“Masih, Pak. Kayaknya dia lagi nuntasin laporan akhir. Tapi jujur ya, dari pagi mukanya udah nggak enak banget diliat. Pucat banget.”


Arian mengernyit, kecemasan yang ia tahan sejak siang tadi mendadak mencuat ke permukaan. “Saya mau ambil beberapa berkas sekalian jemput dia. Kamu ikut saya naik ke atas.”


Mereka berjalan beriringan menuju ruang kerja Nazharina. Arian mengetuk pintu kayu itu pelan, lalu lebih keras. “Nazh? Aku udah di depan.”


Hening. Tak ada sahutan. Arian mencoba memutar kenop pintu, namun terkunci dari dalam. Jantungnya berdegup tidak keruan. “Dia emang biasa kunci pintu kalau lagi kerja?”


“Hampir nggak pernah, Pak. Kecuali kalau dia lagi ganti baju atau emang nggak mau diganggu banget,” jawab Kinoshita, suaranya mulai ikut panik.


“Nazh! Buka pintunya!” Arian menggedor pintu lebih keras. Kegelisahannya memuncak. Tanpa pikir panjang, ia menoleh pada Kinoshita. “Cari kunci cadangan sekarang! Cepetan!”


Kinoshita berlari kencang menuju meja resepsionis lantai. Tak sampai dua menit, ia kembali dengan kunci di tangan yang gemetar. Begitu kunci diputar dan pintu terbuka, pemandangan di hadapan mereka membuat napas Arian seolah terhenti.


Nazharina tergeletak di lantai, tepat di samping meja kerjanya. Tubuhnya meringkuk mungil, wajahnya sepucat kertas, dan matanya tertutup rapat.


“Nazh!” Arian menghambur, berlutut dan menyangga kepala Nazharina dengan lengannya. “Nazh, bangun! Nazh!”


“Ya ampun, Nazh!” Kinoshita menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca melihat sahabatnya tak berdaya.


Arian menepuk pipi Nazharina pelan, namun tak ada respons. Tanpa membuang waktu lagi, ia menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Nazharina, mengangkat perempuan itu dalam satu gerakan mantap.


“Bukain pintu lift! Sekarang!” perintah Arian tegas, suaranya terdengar seperti komando perang.


Mereka berlari keluar ruangan. Saat pintu lift terbuka di lobi utama, beberapa staf dan tamu hotel sempat menoleh dengan tatapan bingung dan penuh tanya. Melihat CEO mereka menggendong seorang sekretaris dengan wajah yang mengeras karena panik tentu bukan pemandangan biasa.


“Ada apa ini?” bisik salah satu staf di resepsionis.


Lihat selengkapnya