We Were Never Really Over

Desy Cichika
Chapter #45

Dalam Bayang-Bayang sang Penantang

Mata Arian seketika menggelap mendengar nama itu. Ia menyandarkan punggung, meski tubuhnya tetap kaku. “Apa yang dia lakuin?”


“Dia nggak cuma diem nungguin lo lengah.”


Maxime mengetik cepat, menampilkan beberapa grafik struktur kepemilikan saham dan memo internal yang bersifat rahasia.


“Gue dapet sinyal kalau dua minggu terakhir dia mulai bergerilya ke dewan komisaris. Secara halus, dia mulai nyebar narasi kalau fokus lo sekarang lagi terbagi. Dia pake alasan performa hospitality kita yang sedikit stagnan buat ngetes loyalitas pemegang saham ke lo.”


Arian berdiri dengan bahu yang mengeras. Ia berjalan menuju jendela, menatap lampu-lampu kota dengan tangan mengepal di saku celana. “Dia pinter. Dia nggak nyerang gue langsung, tapi dia nyerang kepercayaan orang-orang di sekitar gue.”


“Nggak cuma itu,” Maxime memutar laptopnya agar Arian bisa melihat. “Julian mulai beli saham-saham kecil dari vendor yang punya hubungan baik sama kita. Dia lagi bangun fondasi buat hostile takeover kalau posisi lo goyah dikit aja. Dan gue yakin, dia lagi cari ‘titik lemah’ personal lo buat dijadiin skandal korporat.”


Arian mendesis tajam. “Gue terlalu percaya kalau dia bakal main bersih di dalem rapat. Gue pikir dia cukup punya harga diri buat nggak pake cara murahan kayak gini.”


“Julian nggak punya harga diri, Yan. Dia cuma punya ambisi,” ujar Maxime pelan. “Dia tahu lo lagi sering nggak di kantor. Dia tahu lo lagi sering ke Velaris.”


Arian berbalik, tatapannya menghunus. “Gue nggak peduli dia mau bilang apa. Tapi kalau dia sampe berani narik Nazharina ke dalem permainan kotornya, gue nggak bakal tinggal diem.”


Maxime mengangguk mantap, menutup laptopnya dengan suara keras. “Gue bakal pantau setiap pergerakan saham dia. Tapi inget, lo harus jaga tenaga. Sekarang lo bukan cuma lagi perang kursi CEO sama Julian... lo punya anak yang harus dijagain. Jangan sampe Julian tahu soal kehamilan Nazharina, atau dia bakal pake itu buat bilang lo nggak kompeten karena urusan pribadi.”


Arian terdiam. Kesadaran itu menghantamnya telak. Di dunia korporat yang kejam, sebuah kabar bahagia seperti kehamilan bisa dipelintir menjadi kelemahan fatal jika jatuh ke tangan orang yang salah.


Saat ia kembali ke ruang rawat, Nazharina sudah duduk bersandar. Wajahnya pucat, namun matanya menatap Arian dengan penuh tanda tanya. Arian duduk di sisi tempat tidur, meraih jemari Nazharina yang masih terasa dingin.


“Nazh...”


“Ada sesuatu ya yang dokter bilang?” tanya Nazharina to the point.


Arian menarik napas panjang. “Kamu hamil, Nazh. Lima minggu.”


Nazharina mematung. Matanya melebar, tangannya perlahan berpindah menyentuh perutnya yang masih rata. “Aku... hamil?”


Lihat selengkapnya