Beberapa hari berikutnya, ritme kehidupan di rumah itu berubah total. Nazharina mulai mencoba menata kebiasaan lamanya—bangun pagi, menyapu halaman, atau sekadar menyiram bunga. Tapi, tiap kali ia terlihat hendak menyentuh benda yang beratnya lebih dari satu kilogram, Arian langsung muncul entah dari mana.
“Taruh potnya,” tegur Arian suatu pagi.
Nazharina menoleh, jengah. “Ini cuma pot kecil, Kak.”
“Di dalem pot kecil itu ada tanah. Banyak kuman, penuh cacing. Dan inget, kamu lagi hamil.”
Nazharina hanya bisa mendesah pasrah. Ia mulai menghitung berapa kali dalam sehari Arian mengucapkan kalimat sakti “kamu lagi hamil”. Frekuensinya sudah lebih dari dua puluh kali sehari.
Bahkan saat ia mengutarakan keinginan untuk kembali ke hotel minggu depan guna mengurus beberapa pekerjaan, Arian langsung menolak mentah-mentah.
“Aku tahu kamu cinta banget sama kerjaan kamu. Tapi kamu bisa kelola semuanya dari rumah. Aku udah minta Anin sama Lidya buat dateng nemenin kamu di sini. Mereka kangen sama kamu, dan mereka bakal bantu urus rumah ini.”
“Kamu bener-bener berlebihan, tahu nggak?”
“Lebih baik aku berlebihan daripada ceroboh. Kamu nggak tahu seserem apa rasanya pas aku mikir bakal kehilangan kamu lagi.”
Nazharina tak mampu mendebat lagi. Ia tahu sorot mata itu tidak sedang main-main. Dan ketika Anindita serta Lidya akhirnya benar-benar datang—dua wanita muda yang dulu sudah seperti saudaranya sendiri—Nazharina hanya bisa tersenyum haru menyambut pelukan mereka.
Puncaknya terjadi saat Nazharina hendak berjalan menuju toko bunga kecil di ujung jalan. Ia baru saja melangkah keluar gerbang ketika lagi-lagi ia menangkap sosok pria tinggi berbadan kekar berdiri di seberang jalan. Pria itu tampak acuh, namun jelas-jelas sedang mengamatinya dari balik kacamata hitam.
Langkah Nazharina terhenti. Dada kirinya berdegup lebih kencang. Pria itu... ia yakin pernah melihatnya. Bukan sekali, tapi dua kali. Muncul di ujung gang saat pagi, lalu di dekat pertokoan saat sore. Dan sekarang... tepat di depan rumah.
Tangannya langsung merogoh tas, mengambil ponsel, dan menekan panggilan cepat ke nomor Arian.
Satu dering. Dua. Tiga.
“Halo?” suara Arian terdengar tegang di seberang sana. “Ada apa, Sayang? Kamu nggak apa-apa?”
Nazharina menatap waspada ke seberang jalan. Pria itu masih di sana, tak bergeming.
“Ada cowok aneh di depan rumah aku,” bisik Nazharina cepat. “Tinggi, gede, pake jas abu sama kacamata hitam. Dia cuma diem aja di situ. Kemarin aku juga liat dia. Kak Arian, aku takut—”
“Oh,” potong Arian mendadak tenang. “Itu Andre.”
“Siapa?”
“Bodyguard. Aku yang tugasin dia buat jagain rumah kamu dan ngikutin kamu dari jauh.”
“APA?!”
“Tenang aja, dia profesional kok.”
“Arian!” seru Nazharina, emosinya mulai tersulut. “Kamu nempatin orang asing buat buntutin aku diem-diem?!”
“Kan kamu lagi hamil.”