We Were Never Really Over

Desy Cichika
Chapter #47

Proteksi Papa Muda

Matahari pagi menyelinap melalui celah gorden, membangunkan Nazharina dengan sentuhan hangat yang lembut. Ia menggeliat pelan, merasakan lengan kokoh Arian masih melingkar posesif di pinggangnya.


Semalam, meski tanpa “kesenangan” yang ia godakan, tidur mereka terasa jauh lebih dekat. Seolah-olah dua kepingan puzzle yang sempat hilang akhirnya menemukan tempat kembali.


Nazharina tersenyum, menyentuh lengan Arian yang berurat. Pria itu masih terlelap dengan napas yang teratur. Saat ia mencoba menggeser tubuhnya untuk bangkit, dekapan Arian justru semakin mengerat.


“Mau ke mana?” suara Arian terdengar serak khas orang baru bangun tidur, matanya bahkan masih terpejam rapat.


“Kamar mandi, Kak. Udah pagi ini,” Nazharina terkekeh pelan melihat tingkah posesif itu.


Arian mendesah, lalu melonggarkan pelukannya sedikit. “Cepetan balik ya.”


“Iya, bawel.”


Setelah menyegarkan diri, Nazharina kembali ke kamar dengan pakaian santai. Arian sudah duduk bersandar, rambutnya acak-acakan, matanya masih setengah terpejam—terlihat sangat manusiawi.


“Kamu kelihatan kayak beruang yang baru bangun dari hibernasi, tahu nggak?” goda Nazharina sembari duduk di tepi ranjang.


Arian hanya bergumam tak jelas. “Kamu nggak mual pagi ini?” tanyanya tiba-tiba, matanya kini terbuka penuh, menatap Nazharina dengan sorot cemas yang sudah jadi rutinitas barunya.


Nazharina menggeleng tenang. “Nggak kok. Kayaknya bayinya lagi baik hati hari ini.”


“Bagus deh.” Arian meraih tangannya, mengusap punggung tangan Nazharina dengan ibu jarinya. “Aku bakal siapin sarapan. Nggak ada pot berat, nggak ada lantai licin, oke?”


Nazharina memutar bola mata. “Iya, iya... aku ngerti, Tuan Paranoid.”


Sarapan pagi itu terasa jauh lebih ceria. Arian bahkan sempat melontarkan lelucon receh tentang telur orak-ariknya yang sudah “lolos uji kelayakan pangan” karena ia awasi sendiri pembuatannya.


Setelah makan, Nazharina mencoba beraktivitas ringan dengan merapikan rak buku di ruang keluarga. Namun, baru saja jemarinya menyentuh sebuah buku tebal, sebuah bayangan tinggi langsung menaunginya dari belakang.


“Biar aku aja,” suara bariton Arian terdengar mutlak.


Nazharina menoleh, mendapati Arian sudah mengambil alih buku itu. “Ini cuma buku, Kak Arian. Bukan bom yang bisa meledak.”


“Buku bisa jatuh, atau kamu bisa terkilir pas ambilnya. Inget, kamu lagi hamil.” Arian mengucapkan kalimat sakti itu dengan nada yang sudah seperti mantra wajib setiap beberapa jam sekali.


Nazharina hanya bisa mengembuskan napas pasrah, lalu berjalan menuju sofa dan duduk dengan raut geli. “Jadi, kamu beneran mau ngabisin beberapa bulan ke depan cuma buat angkat barang-barang ringan aku?”

Lihat selengkapnya