Tangan Nazharina gemetar saat membuka lampiran video yang dikirimkan Kinoshita. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat gambar di layar. Itu adalah halaman rumahnya sendiri tadi pagi.
Di sana, Arian terlihat sangat jelas. Arian yang berlutut di depannya. Arian yang mencium perutnya dengan penuh kasih sayang. Dan ciuman panjang mereka di depan mobil.
Video itu diambil dari sudut yang sangat pas, membuat semuanya terlihat begitu intim... sekaligus begitu “berbahaya” bagi reputasi seorang CEO.
Detik berikutnya, ponselnya berdering lagi. Kali ini Nazharina mengangkatnya dengan suara tertahan.
“Halo?”
“Nazh! Akhirnya lo angkat!” Suara Kinoshita terdengar panik, hampir menangis. “Video itu... Shelby yang sebar di grup internal hotel dan sekarang udah bocor ke mana-mana, Nazh! Semua orang di Velaris... mereka bilang lo sengaja ‘menjerat’ Pak Arian pake kehamilan lo biar bisa naik jabatan. Mereka bilang lo penghancur karier dia!”
Nazharina tidak sanggup menjawab. Ia menjauhkan ponsel dari telinganya, membiarkan suara panik Kinoshita menghilang di udara.
Dunia seolah runtuh menimpanya. Ucapan Julian tadi sore kini terasa seperti ramalan yang menjadi kenyataan. Julian benar. Dia adalah lubang hitam bagi karier Arian. Keberadaannya, kehamilannya, dan cinta mereka... kini menjadi senjata paling mematikan bagi musuh-musuh Arian untuk merebut AM Global.
Nazharina meringkuk di sofa, memeluk lututnya erat-erat. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah, memenuhi ruangan yang dingin itu. Ia menangis bukan karena dihina, tapi karena ia merasa menjadi alasan pria yang dicintainya akan kehilangan warisan paling berharga milik mendiang ayahnya.
“Maafin aku, Kak... maafin aku,” bisiknya di antara isak tangis yang menyayat hati.
Di tempat berbeda, Arian berdiri di depan jendela ruang kerjanya yang luas di lantai teratas AM Global Tower. Ia menatap kerlip lampu Jakarta dengan rahang mengeras. Pantulan wajahnya di kaca menampilkan mata yang berkilat tajam, dingin, dan berbahaya.
Pintu terbuka kasar. Maxime masuk tanpa mengetuk, lalu membanting tablet ke atas meja mahoni Arian.
“Gawat, Yan. Video itu udah sampe ke tangan dewan komisaris sejam yang lalu,” lapor Maxime dengan napas pendek. “Julian gerak jauh lebih cepet dari yang kita duga. Dia pake video itu buat narasi kalau lo udah nggak kompeten pimpin perusahaan karena skandal domestik.”
Arian menoleh pelan, auranya begitu menekan. “Cari tahu siapa yang ambil video itu. Gue mau orangnya ilang dari industri ini besok pagi.”