We Were Never Really Over

Desy Cichika
Chapter #50

Konferensi Pers Berdarah

Pukul 08.55 WIB. Aula utama AM Global Tower sudah disulap menjadi medan perang. Puluhan kamera dari berbagai media nasional sudah terpasang di atas tripod, lensanya mengarah tajam ke sebuah meja panjang di depan. Suara riuh bisik-bisik wartawan memenuhi ruangan, semuanya membicarakan satu hal...


Skandal CEO yang menghamili sekretaris pribadinya.


Di balik panggung, Arian merapikan jas. Ia tampak sangat tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang posisinya sedang diujung tanduk. Di tangannya, ia menggenggam erat sebuah map kulit cokelat tua—kartu as yang akan mengubah status “skandal” menjadi “berita bahagia”.


Ia menoleh ke samping, menatap Nazharina yang mengenakan dress hamil berwarna pucat. Wajah wanita itu tertutup make-up tipis, namun matanya yang kosong tidak bisa menyembunyikan badai di dalamnya.


“Siap?” bisik Arian, mengusap punggung tangan Nazharina.


Nazharina hanya mengangguk pelan. Bibirnya bergetar, namun ia segera mengatupkannya rapat-rapat.


Begitu mereka melangkah masuk ke aula, kilatan lampu flash kamera meledak layaknya ribuan petir. Suasana mendadak riuh. Arian membantu Nazharina duduk dengan gestur yang sangat protektif, bahkan ia tidak lagi mencoba menutupi perhatiannya.


Banyak mata di ruangan itu menatap sinis—menganggap pemandangan itu sebagai konfirmasi skandal yang menjijikkan.


Di barisan depan, Julian duduk dengan kaki bersilang. Ia melipat tangan di dada, menikmati pemandangan itu dengan senyum tipis yang penuh kemenangan. Ia yakin, apa pun yang Arian katakan hari ini, reputasinya sudah hancur.


“Selamat pagi rekan-rekan media,” suara Arian menggema lewat mikrofon, berat dan berwibawa. “Terima kasih sudah hadir. Saya di sini untuk memberikan klarifikasi terkait video yang beredar luas kemarin.”


Ia melirik Maxime yang berdiri di sudut ruangan. Maxime mengangguk, siap memberikan tanda jika keadaan lepas kendali.


“Saya tahu banyak spekulasi negatif yang beredar. Banyak yang menuduh sekretaris saya, Nazharina, melakukan hal yang tidak pantas untuk mendapatkan posisi di perusahaan ini.”


Arian menjeda, matanya menatap tajam ke arah kamera. “Saya ingin menegaskan bahwa semua tuduhan itu salah besar. Video yang kalian lihat adalah momen pribadi antara saya dan...”


Arian hendak membuka map cokelatnya, mengeluarkan bukti bahwa mereka masih suami istri sah. Namun, tepat sebelum ia sempat menyelesaikan kalimat, Nazharina tiba-tiba menahan tangan pria itu di bawah meja. Jari-jarinya yang sedingin es mencengkeram lengan jas Arian.


Lihat selengkapnya