We Were Never Really Over

Desy Cichika
Chapter #51

We Were Never Really Over

Nazharina sampai di rumah dengan tubuh yang terasa nyaris lumpuh. Begitu pintu tertutup, ia merosot ke lantai. Tangis yang sedari tadi ia tahan di depan kamera kini meledak begitu hebat hingga tubuhnya terguncang.


Lidya dan Anindita segera berlari menghampiri, memeluk Nazharina yang bersimbah air mata. Mereka yang menonton konferensi pers itu lewat siaran langsung merasa hati mereka ikut hancur.


“Non... kenapa ngomong gitu?” bisik Anindita sambil terisak. “Kenapa Non malah nyalahin diri sendiri?”


Lidya mengusap punggung Nazharina, matanya memerah. “Kami pikir... Pak Arian nyakitin Non lagi kayak sepuluh tahun lalu. Kami pikir dia yang maksa Non buat ngaku kayak gitu supaya posisinya aman.”


Nazharina menggeleng lemah di tengah isaknya. “Enggak... Kak Arian nggak tahu apa-apa. Aku yang harus ngelakuin ini, atau dia bakal kehilangan segalanya.”


Lidya menjeda sejenak, menatap Nazharina dengan tatapan jujur yang menyakitkan. “Non nggak tahu kan, gimana keadaan rumah itu setelah Non pergi? Pak Arian itu... kayak mayat hidup. Dia pulang lewat tengah malam setiap hari. Seakan rumah itu Cuma buat numpang tidur, makannya nggak pernah bener, badannya makin kurus sampai matanya cekung. Dia kayak orang yang lagi nunggu waktu buat mati.”


Nazharina tertegun, tangisnya mereda sesaat karena terkejut.


“Pak Arian itu sekarat, Non. Sampai akhirnya malam itu... malam di mana Non datang lagi buat makan malam dan akhirnya menginap berhari-hari di sana... kami liat ada cahaya lagi di matanya. Semangat hidupnya balik, Non. Dia kayak baru nemu nyawanya yang hilang.”


Nazharina memejamkan mata, hatinya terasa seperti diremas. Bayangan Arian yang “sekarat” kini beradu dengan wajah hancurnya di panggung tadi. Peluru sudah melesat, dan ia hanya bisa berharap luka yang ia beri tidak berakibat fatal. Dia ingin menyelamatkan karier Arian, tapi dia mungkin baru saja membunuh manusianya.


Sementara itu, di aula gedung yang mulai sepi, atmosfer terasa mencekam. Media sudah dipaksa keluar oleh tim keamanan. Arian masih berdiri di tempat yang sama, jemarinya mencengkeram pinggiran meja mahoni sampai buku-buku jarinya memutih.


Maxime melangkah mendekat dengan wajah khawatir. “Yan... lo nggak apa-apa? Kita harus bicara soal gimana cara nanganin dampak pengakuan Nazharina tadi. Media bakal—“


“Pergi, Max,” suara Arian terdengar parau, sangat rendah namun sarat akan ancaman.


“Tapi Yan, dewan komisaris—“


“TOLONG, MAX!” bentak Arian tanpa menoleh. Suaranya menggema di aula yang kosong, membuat Maxime tersentak dan akhirnya memilih mundur. “Kasih gue waktu sendiri.”


Arian menyambar map cokelat di atas meja dengan kasar. Ia masuk ke mobilnya, dan menginjak pedal gas sedalam-dalamnya. Mobil hitam itu melesat membelah jalanan Jakarta dengan kecepatan gila. Pikirannya hanya tertuju pada satu tempat.

Lihat selengkapnya