Suasana ruang tamu itu mendadak terasa hampa meskipun Arian baru saja menjatuhkan bom kebenaran yang seharusnya melegakan. Nazharina tidak berlari ke pelukan Arian. Sebaliknya, ia melangkah mundur, kakinya terasa lemas hingga ia harus berpegangan pada pinggiran sofa. Wajahnya yang semula sembab kini berubah pucat pasi, seolah baru saja melihat hantu dari masa lalu.
“Nggak, Kak... nggak kayak gini,” bisik Nazharina. Suaranya pecah, nyaris tak terdengar di antara sisa isak tangisnya.
Arian mengernyit, mencoba melangkah mendekat untuk meraih tangan Nazharina. “Maksud kamu apa, Nazh? Semuanya udah jelas sekarang. Kita masih suami istri. Surat itu... status itu akan melindungi kamu. Kamu nggak perlu takut lagi soal Julian, soal media, atau soal siapa pun yang mau menjatuhkan kita. Kamu istriku, Nazh. Secara hukum, kamu milikku.”
Nazharina menggeleng kuat, air mata baru kembali luruh membasahi pipinya. “Status itu nggak ngerubah rasa takutku, Kak. Sama sekali nggak.”
Arian membeku di tempatnya. “Takut? Takut soal apa lagi?”
“Status itu yang dulu bikin aku terpenjara sepuluh tahun dalam kesepian, Kak!” teriak Nazharina, akhirnya emosinya tumpah. “Surat nikah itu nggak bikin kamu pulang tepat waktu dulu. Surat itu nggak bikin kamu bicara sama aku saat kita duduk di meja makan yang sama. Surat itu cuma selembar kertas yang mengikatku di rumah megahmu sementara kamu hidup di duniamu sendiri.”
Arian mendekat satu langkah. “Tapi sekarang beda Nazh. Kamu sedang hamil anakku. Itu mengubah semua —“
Nazharina menyeka air matanya dengan kasar, napasnya tersengal. “Kak, cukup. Kita rawat anak ini sama-sama. Aku nggak akan melarang kamu ketemu dia, aku nggak akan menghilangkan nama kamu dari hidupnya. Tapi... aku nggak mau kita balik lagi dalam ikatan itu. Aku nggak mau jadi istri kamu lagi.”
Dunia Arian seolah runtuh untuk kedua kalinya hari ini. “Maksud kamu... kamu mau kita besarin anak ini tanpa status? Kamu... kamu nolak aku, Nazh?”
“Aku takut, Kak,” sahut Nazharina lirih, bahunya merosot layaknya orang yang sudah menyerah pada beban hidup. “Aku takut kalau kita balik lagi, suatu saat nanti kamu bakal balik jadi Arian yang dingin. Dan aku... aku bakal ngerasain sepi yang sama lagi. Aku nggak akan kuat kalau harus hancur untuk kedua kalinya.”
Nazharina menatap Arian dengan pandangan paling menyakitkan yang pernah pria itu lihat. “Aku lebih milih kita jadi orang asing yang terikat karena anak, daripada jadi pasangan yang saling nyakitin karena ekspektasi.”
Suara Arian bergetar hebat, ia merasa seperti ditelanjangi oleh dosanya di masa lalu. “Apa... apa luka yang aku buat dulu bener-bener sedalam itu, Nazh? Sampai kamu nggak berani buat bahagia sama aku lagi? Sampai kamu lebih milih hidup tanpa aku?”
Nazharina tidak menjawab. Ia hanya terus menangis, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Keheningan yang tercipta di antara mereka jauh lebih menyakitkan daripada keributan di konferensi pers tadi pagi.
“Pergi, Kak... aku mohon, pergi,” bisik Nazharina di sela tangisnya.