Di rumah kecil peninggalan ibunya di pinggiran kota yang tenang, Nazharina belajar bahwa kesunyian bukan lagi musuh yang harus ia takuti seperti sepuluh tahun lalu di rumah megah Arian. Namun, kesunyian kali ini terasa berbeda—ia terasa berat, lembap, dan penuh dengan gema nama yang berusaha ia lupakan.
Sudah memasuki minggu kedelapan sejak malam badai di mana ia memutuskan untuk pergi. Nazharina duduk di sofa tua, tangannya mengelus perutnya yang kini mulai menonjol dengan nyata. Ia mencoba mengatur napasnya yang mulai terasa pendek. Ternyata, menjadi mandiri di tengah kehamilan besar tidak semudah yang ia bayangkan dalam kemarahannya waktu itu.
Keesokan paginya, suara mesin pemotong rumput menderu halus di halaman belakang. Nazharina berdiri di ambang pintu dapur, memperhatikan seorang pria paruh baya yang sedang tekun merapikan taman kecilnya.
Itu Pak Suratmo. Dia datang tepat pukul delapan pagi, dua kali seminggu, tanpa pernah sekalipun Nazharina memanggilnya.
Nazharina melangkah keluar, membuat Pak Suratmo berhenti dan mematikan mesinnya.
“Eh, Non Nazh. Mau jemur pakaian?” tanya Pak Suratmo ramah, sambil menyeka keringat di dahi.
Nazharina tersenyum tipis, matanya melirik ke arah mawar-mawar yang kini mekar sempurna. “Enggak, Pak. Cuma mau kasih ini.” Ia menyodorkan sebotol minuman dingin yang ia ambil dari kulkas.
“Walah, repot-repot, Non. Terima kasih banyak,” Pak Suratmo menerima botol itu dengan segan.
“Bapak sudah sarapan? Tadi saya buat nasi goreng agak banyak,” tawar Nazharina.
Pak Suratmo tampak ragu sejenak, matanya sempat melirik ke arah gerbang depan seolah-olah mencari petunjuk dari seseorang yang tak ada di sana. “Sudah, Non. Tadi... anu, tadi sebelum ke sini sudah makan di warung depan.”
“Oh, begitu.” Nazharina mengangguk perlahan. Ia tahu Pak Suratmo bohong. Ia tahu ada orang yang memastikan Pak Suratmo datang ke sini dalam keadaan “siap kerja”.
“Bapak telaten sekali ya, mawar-mawar itu dulu hampir mati.”
“Iya, Non. Ada yang bilang ke saya, mawar ini kesukaan yang punya rumah, jadi harus dijaga benar-benar. Jangan sampai layu sedikit pun,” jawab Pak Suratmo polos.
Nazharina terdiam. Ada yang bilang. Ia tahu siapa “yang” dimaksud, tapi ia hanya tersenyum getir. “Terima kasih ya, Pak. Saya masuk dulu.”
Ia tidak bertanya siapa yang membayar Pak Suratmo. Ia tidak mau membuat pria tua itu kikuk. Biarlah rahasia itu tetap menggantung di antara mereka.