Tiga Bulan Kemudian.
Selama tiga bulan itu, Arian benar-benar menjadi bayangan. Dia tahu Nazharina ada di rumah kecil mendiang ibunya. Dia tahu setiap kali Nazharina pergi kontrol ke dokter kandungan. Dia tahu kapan Nazharina merasa ngidam di tengah malam. Arian tidak pernah muncul. Dia hanya mengirimkan “malaikat tanpa nama”. Kadang berupa kiriman susu hamil yang tiba-tiba ada di depan pintu, atau tukang kebun yang mengaku dibayar anonim untuk merapikan halaman rumah Nazharina.
Arian sedang belajar satu hal: Mencintai Nazharina tanpa harus menguasainya.
Sampai pada suatu sore, saat hujan gerimis membasahi bumi, Arian memutuskan bahwa masa hukuman untuk dirinya sudah cukup. Bukan karena dia tidak sabar, tapi karena dia tidak ingin Nazharina menghadapi persalinannya nanti sendirian.
Nazharina sedang duduk di teras kecilnya, menatap rintik hujan, saat mobil hitam yang sangat ia kenal itu berhenti di depan pagar. Jantungnya berdesir, tapi rasa takut itu sudah menguap, berganti dengan ketenangan yang asing.
Arian turun dari mobil tanpa payung. Ia berdiri di batas teras, membiarkan bajunya sedikit basah. “Hai, Nazh. Boleh aku bertamu?”
“Kak Arian?” Nazharina terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Masuklah, Kak. Bajumu basah.”
Mereka duduk di kursi kayu teras, hanya ditemani suara hujan. Tak ada amarah, tak ada teriakan. Kepala Nazharina sudah dingin, dan hati Arian sudah lebih luas untuk menerima.
“Terima kasih untuk semuanya selama tiga bulan ini,” ucap Nazharina lembut sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit. “Aku tahu itu kamu.”
Arian tersenyum tipis, tatapannya tulus. “Aku cuma mau mastiin kamu nggak sendirian. Dan aku mau membuktikan kalau aku bisa jadi pria yang nggak hanya tahu cara memerintah, tapi juga tahu cara menjaga.”
Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. “Aku nggak bermaksud menipu soal status kita dulu. Aku cuma... ingin kita punya kesempatan lagi. Kesempatan yang benar-benar kita pilih sendiri.” Ia mengusap wajah, lalu menatap Nazharina lagi—tatapan yang jujur, tanpa jarak. “Dan sekarang aku sadar... cinta cuma bisa hidup kalau kita berani jujur.”
Nazharina menunduk. Ada air bening yang jatuh tanpa bisa ia cegah. “Kamu tahu, aku benci banget waktu terima surat cerai itu. Tapi yang lebih nyakitin... aku benci karena aku masih nunggu kamu balik.”
Arian mendekat pelan, suaranya menurun menjadi bisikan. “Aku balik. Kali ini bukan buat nebus kesalahan. Tapi buat bener-bener mulai dari awal. Kalau kamu masih mau.”
Nazharina mengangkat wajah. Ada senyum kecil, samar, tapi nyata. “Kalau aku mau, lalu apa?”
Arian menarik sesuatu dari saku jasnya—sebuah kunci kecil. “Ikut aku.”
***