Ada hal-hal yang hanya bisa dilihat dan dipahami oleh seorang ibu.
Bahkan sebelum anaknya sendiri menyadarinya.
Erina tahu, Arian menyimpan sesuatu di balik diamnya. Tatapan yang terlalu lama setiap kali Nazharina berbicara, kebiasaan pura-pura tidak peduli padahal diam-diam memperhatikan, dan caranya yang selalu hadir di saat gadis itu membutuhkan.
Nazharina mungkin mengira Arian hanyalah kakak angkat yang dingin.
Tapi seorang ibu tak pernah keliru membaca isi hati anaknya. Erina tahu, cinta itu sudah ada. Kecil, samar, namun tumbuh dengan pasti setiap hari.
Ia mengingat satu demi satu.
Mungkin semuanya bermula sejak hari itu—hari ketika mereka memutuskan mengadopsi seorang gadis yatim piatu bernama Nazharina. Setelah proses panjang yang melelahkan, akhirnya ia resmi menjadi anggota keluarga mereka.
Saat pertama kali masuk rumah, Nazharina menyodorkan tangan dengan kikuk.
Namun Arian hanya menatapnya datar. Tak ada jabatan tangan, tak ada anggukan. Kedua tangannya tetap di saku, sorot matanya dingin, kosong.
Tangan kecil itu menggantung di udara. Perlahan, Nazharina menariknya kembali, pura-pura menggaruk hidung seolah tak terjadi apa-apa. Erina hanya tersenyum tipis, meski hatinya tercekat. Ia tahu—perjalanan mereka tidak akan mudah.
Waktu berlalu. Potongan-potongan kecil kehidupan itu menempel di hati Erina, satu per satu menjadi bukti bahwa Arian tidak sekeras yang ia tunjukkan.
Salah satunya terjadi setiap malam, di kamar Nazharina. Gadis itu selalu menyalakan lampu tidurnya karena takut gelap, membiarkannya menyala sampai pagi. Dan setiap kali fajar datang, sebelum pelayan masuk untuk merapikan, Arian akan diam-diam mendahului.
Ia masuk sebentar, mematikan lampu, merapikan selimut seadanya, lalu keluar tanpa suara. Seolah takut ada yang tahu bahwa diam-diam ia menjaga. Erina pernah melihatnya sekali, dari celah pintu yang sengaja tak ia tutup rapat. Ada kelembutan yang disembunyikan anaknya di balik wajah kaku itu.
Kenangan lain muncul di halaman belakang rumah. Pohon besar yang rindang selalu jadi tempat Nazharina duduk bermain. Suatu hari, saat Arian berangkat sekolah, Erina melihat gadis itu duduk di akar pohon sambil menggenggam pisau kecil di tangannya. Dengan hati-hati, ia mengukir dua huruf di batang kayu
“N” dan “A”.
Hanya inisial, tidak lebih, seakan ia sendiri takut ketahuan. Sore harinya saat Arian pulang, matanya sempat menatap ukiran itu. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menghela napas pelan, lalu duduk di teras dengan buku di tangan. Namun Erina melihat bagaimana jari Arian sesekali menyentuh ukiran di permukaan kayu itu, seakan huruf kecil yang ada di sana menyalakan sesuatu dalam dirinya.
Dan ada pula sore yang tak pernah ia lupakan. Hujan deras turun tiba-tiba, membuat Nazharina terjebak di halaman. Alih-alih lari berteduh, ia justru berputar-putar sambil tertawa, menari-nari kecil di bawah guyuran air. Rambutnya lepek, bajunya basah, tapi tawa riangnya pecah memenuhi udara.
Dari teras, Arian hanya berdiri diam, menatap gadis itu lama sekali. Matanya tak pernah lepas, sorotnya sulit didefinisikan—campuran kagum, bingung, dan takut kalau perasaannya terlalu jelas terlihat.